Nyeri wajah sesisi yang membingungkan pada “Trigeminal Neuralgia”

Seorang teman membawa salah seorang anggota keluarganya untuk menemui saya dengan suatu keluhan yang sangat mengganggu dan sudah lama dideritanya. Anggota keluarga tersebut adalah seorang wanita usia sekitar 50-an yang mengeluh merasakan nyeri yang tidak nyaman pada sisi kanan wajahnya. Nyeri ini sudah berlangsung sejak 8 bulan sebelumnya dan nyeri ini bersifat hilang timbul progresif. Nyeri tersebut kadang dirasakan pada daerah pelipis kanan, kadang pada pipoi sebelah kanan, kadang di rahang kanan atau di belakang telinga kanan. Yang mencengangkan adalah pasien sudah menemui banyak dokter dari berbagai bidang spesialis mulai dari dokter saraf, dokter penyakit dalam maupun dokter gigi. Pasien selama ini divonis menderita migren, dan bahkan sakit gigi. Berulang kali pasien diberikan berbagai obat anti nyeri kepala dan pemeriksaan gigi untuk masalah nyerinya tersebut. Pasien bahkan telah mengorbankan dua buah giginya yang telah dicabut karena diduga sebagai penyebab nyeri yang dialaminya.

Namun setelah mengalami semua hal di atas, nyeri tak kunjung reda dan bahkan semakin memberat. Pada serangan yang berat, hembusan angin ringan saja ke sisi wajah yang sakit akan dirasakan sebagai suatu nyeri yang sangat hebat, seperti ditampar atau seperti wajah ini dibakar. Pasien hingga berteriak-teriak dan menangis karena menahan nyeri.

Dari gejala-gejala di atas, saya sudah menduga bahwa pasien mengalami suatu penyakit yang disebut dengan “Trigeminal neuralgia”, yaitu suatu penyakit dimana saraf kranial yang bertanggung jawab untuk sensasi daerah wajah (saraf ke V atau disebut juga dengan saraf trigeminal) mengalami iritasi atau kompresi oleh struktur lain di otak khususnya pembuluh darah di otak. Terdapat dua saraf trigeminal pada setiap manusia yang bertanggung jawab pada sensasi masing-masing sisi wajah, dimana iritasi pada salah satunya akan muncul sebagai suatu nyeri yang hebat pada wajah sesuai sisinya. Nyeri tersebut dirasakan berulang dan hilang timbul dikarenakan saraf mengalami jepitan dan iritasi fluktuatif berdasarkan denyutan pembuluh darah yang menjempitnya.

Saya kemudian memintakan pemeriksaan MRI kepala dan hasilnya mengkonfirmasi adanya jepitan saraf trigeminal tersebut oleh pembuluh darah otak. Pasien kemudian saya anjurkan untuk operasi untuk melepaskan jepitan saraf tersebut. Pasien yang sudah mengalami nyeri yang begitu hebat dalam waktu yang lama langsung menyetujui tindakan operatif tersebut. Operasi pun dilakukan dan pasca operasi, pasien mulai merasakan bebas dari nyeri. Pasien merasakan kelegaan luar biasa walau masih sedikit dibantu dengan obat-obatan penghilamng rasa nyeri. Perlahan-lahan, nyeri di wajah menghilang.

Fenomena nyeri pada wajah sering membingungkan dan kompleks dikarenakan begitu banyak struktur dan organ di wajah dan kepala. Suatu penyakit trigeminal neuralgia dapat diduga sebagai suatu penyakit migren atau bahkan sakit gigi, yang diterapi tanpa memberikan hasil yang berarti. Tindakan operatif biasanya dapat menghilangkan rasa nyeri yang sangat mengganggu tersebut.

Trigeminal neuralgia

Carpal Tunnel Syndrome (CTS)…..penyakit si pekerja tangan aktif…

Pernahkah anda menglami rasa tidak nyaman pada pergelangan tangan atau jari-jari tangan…? Pernahkah pula merasakan rasa pegal luar biasa atau rasa kesemutan di telapak tangan atau jari-jari anda…? Bagaimana dengan kelemahan pada jari-jari tangan sehingga anda tidak dapat mengepalkan tangan dan tidak dapat menggenggam bola atau memegang gelas atau peralatan lainnya yang ingin anda ambil atau angkat….?

Mungkin hal ini sering terjadi dan dialami banyak orang khususnya orang-orang usia di atas 30 tahun. Kejadian ini akan lebih sering pula dialami pada orang-orang yang banyak menggunakan tangan atau gerakan tangan yang monoton dan berulang saat bekerja atau melakukan suatu pekerjaan. Misalnya pada ibu-ibu rumah tangga yang banyak mencuci baju secara tradisional (tanpa mesin cuci), atau pada orang-orang yang banyak menulis dan mengetik.

Nyeri, rasa kesemutan, baal pada pergelangan tangan

Apa sebenarnya yang terjadi….? Apakah sudah terjadi kerusakan saraf atau kelumpuhan yang permanen…?

Orang awam kadang menganggap ini sebagai akibat kelelahan bekerja. Atau pada keadaan yang lebih ekstrim bisa dianggap kelumpuhan total akibat serangan stroke. Walau kemungkinannya ada seperti dugaan itu namun ada suatu penyakit lain yang lebih sering terjadi dan mengakibatkan gejala-gejala di atas. Penyakit itu disebut dengan “Carpal tunnel syndrome” atau sering disingkat menjadi CTS. Penyakit ini disebabkan terjepitnya saraf perifer (nervus medianus) oleh ligamen transversus carpii (ligeman otot yang berada di pergelangan tangan) yang mengalami degenerasi dan pengerasan akibat kerjanya yang hiperaktif dan berulang. Pada orang-orang yang bekerja dengan menggunakan tangan dan dengan gerakan tangan yang monoton berulang akan memiliki resiko pengerasan dan degenerasi ligamen tersebut lebih tinggi. Sehingga resiko terkena penyakit CTS akan menjadi lebih tinggi pula.

Carpal tunnel syndrome

Gejala penyakit CTS biasanya berupa rasa nyeri, tidak nyaman, kesemutan pada jari-jari tangan dan telapak serta pergelangan tangan. Pada keadaan yang lebih lanjut dapat pula disertai dengan rasa baal dan kelemahan pada jari-jari tangan sehingga tidak dapat mengepalkan tangan dan menggenggam benda-benda yang akan diambil. Semua gejala tersebut terbatas hanya pada tangan saja dan tidak meliputi lengan atas ataupun lengan bawah. Bila lengan atas dan lengan bawah mengalami rasa yang lain juga, maka kemungkinan jepitan saraf terjadi di daerah lebih proksimal atau daerah leher.

Cara untuk mengetahui apakah anda mengalami CTS atau tidak adalah dengan mencoba menekuk pergelangan tangan ke arah telapak tangan dan mempertahankan posisi tersebut selama sekitar 1 menit (phalen’s test). Bila nyeri atau rasa kesemutan dan baal atau kelemahan bertambah, maka kemungkinan anda mengalami penyakit CTS. Cara kedua adalah dengan melakukan ketukan-ketukan ringan berulang secara terus menerus pada pergelangan tangan (tinel’s test). Bila nyeri, kesemutan, baal dan kelemahan bertambah maka kemungkinan CTS sudah terjadi pada anda.

Phalen’s test dan Tinel’s test

Untuk mengetahui dengan pasti maka anda perlu datang ke dokter bedah saraf agar dapat dilakukan pemeriksaan dengan teliti dan pemeriksaan EMG (Electromyelography). Dari pemeriksaan EMG dapat dipastikan apakah CTS sudah terjadi.

Terapi CTS adalah dengan operasi melepaskan jepitan saraf medianus tersebut. Ligamen yang mengeras akan dipotong dan dibelah sehingga saraf medianus akan terlepas dari jepitan. Tindakan operasi ini sangat ringan dan tidak membutuhkan waktu yang lama. Pembiusan pun dapat dilakukan secara regional dan tidak harus pembiusan umum (kecuali atas permintaan pasien). Pasca operasi, pasien tidak perlu dirawat lama, cukup satu hari saja atau bahkan bisa langsung pulang.

CTS pasca tindakan operasi biasanya akan menunjukkan hasil yang sangat baik dan memuaskan. Biasanya rasa nyeri dan kelemahan akan mengalami perbaikan. Pasien juga dapat kembali beraktifitas setelah jahitan dan luka di tangan sembuh. Komplikasi dari tindakan operasi pun sangat jarang.

Oleh karena itu, bila anda merasa mengalami gejala CTS, segeralah berobat ke dokter agar pertolongan dini segera dapat diberikan. Tindakan operatif dengan luka kecil akan segera mengembalikan anda untuk beraktifitas dengan baik kembali.

Vertigo, suatu sakit kepala berputar biasa atau tanda klinis dari penyakit lain…??

Keluhan sakit kepala memang sangat banyak dan mungkin hampir setiap hari menyerang kita. Rasanya bisa bervariasi dan begitu pula dengan penyebabnya. Namun sering sekali sakit kepala dianggap suatu keluhan yang biasa-biasa saja, yang tidak memerlukan perhatian khusus dan diharapkan hilang sendiri dengan beritirahat atau minum obat-obatan sakit kepala. Alhasil sering sekali penyakit lainnya yang lebih berat tidak terdeteksi secara dini.

Salah satu jenis sakit kepala yang sering dikeluhkan adalah rasa sakit kepala berputar atau yang biasa disebut “Vertigo”. Penderita akan merasakan dirinya berputar-putar terhadap lingkungan sekitarnya atau lingkungan sekitarnya yang berputar-putar terhadap dirinya. Pada kondisi yang berat, penderita bahkan dapat kehilangan keseimbangan dan merasa akan jatuh atau bahkan jatuh serta tidak dapat berdiri. Hal ini akan menjadi sangat mengganggu untuk aktifitas sehari-hari. Beberapa keluhan vertigo dapat berkurang dengan mengkonsumsi obat-obat sakit kepala atau obat untuk vertigo. Namun beberapa di antaranya tidak berkurang sama sekali.

Vertigo disebabkan gangguan pada sistem vestibuler atau sistem keseimbangan tubuh kita. Sistem vestibuler tersebut terletak pada organ vestibuler yang berdekatan dengan organ pendengaran kita. Selain itu terdapat pula saraf vestibuler (saraf ke VIII dari saraf kranial) yng menghantarkan informasi keseimbangan ke otak kita (otak kecil / serebelum). Otak kecil atau “serebelum” merupakan pusat pengaturan keseimbangan pada tubuh kita. Gangguan atau kelainan pada organ vestibuler, saraf vestibuler dan otak kecil dapat menimbulkan keluhan vertigo atau rasa sakit kepala berputar.

Lalu kelainan-kelainan apa saja yang dapat memicu timbulnya vertigo…???

Kelainan pada organ vestibuler dapat mengakibatkan vertigo. Kelainan ini dapat disebabkan oleh proses penuaan atau degenerasi dimana organ vestibuler mulai kaku dan produksi cairan vestibuler mulai sedikit sehingga gerakannya menjadi lambat. Selain itu gangguan atau ketidakseimbangan hormonal, misalnya pada wanita yang sedang menstruasi atau sedang mengandung/hamil atau wanita yang memasuki fase menopause, dapat juga mengganggu fungsi normal dari organ vestibuler.

Kelainan pada saraf vestibuler dapat disebabkan oleh berbagai penyakit seperti tumor otak, kelainan pembuluh darah otak atau kelainan akibat sumbatan pembuluh darah (stroke). Selain itu penggunaan beberapa jenis obat tertentu yang memiliki efek toksik ke saraf kranialis VIII, dapat mengakibatkan vertigo.

Kelainan pada otak kecil / serebelum dapat disebabkan oleh penyakit seperti tumor otak, stroke, gangguan pembuluh daraf, infeksi/abses otak, trauma otak dan lain-lain.

Lalu bagaimana mengetahui apakah vertigo yang kita alami merupakan sakit kepala biasa atau merupakan tanda adanya penyakit lain yang lebih berat di dalam otak…??

Tidaklah mudah untuk menentukan penyebab dari vertigo walau sudah dilakukan pemeriksaan fisik secara lengkap. Namun sebagai panduan untuk kecurigaan adanya penyakit serius di belakang sebuah serangan vertigo adalah sebagai berikut :

1. Serangan vertigo yang semakin lama semakin memberat dan semakin sering frekuensi nya, harus dicurigai adanya suatu kelainan lain yang mungkin perlu segera diperiksa dan ditangani.

2. Serangan vertigo yang tidak membaik setelah mendapatkan pengobatan yang sesuai. Umumnya dapat dipakai patokan apabila serangan vertigo tidak membaik setelah mengkonsumsi obat vertigo selama 2-3 bulan.

3. Penderita vertigo umumnya sudah mengenal kapan serangan vertigo yang dialaminya akan muncul mengingat penyakit vertigo ini umumnya sudah bersifat kronik dan muncul secara periodik/berkala. Sehingga bila tiba-tiba serangan vertigo muncul pada waktu atau periode waktu yang tidak biasa, maka harus dicurigai adanya suatu penyakit lain atau berkembangnya suatu penyakit.

4. Serangan vertigo yang disertai dengan gangguan saraf atau neurologis lainnya, misalnya gangguan keseimbangan dan terjatuh, gangguan pendengaran, gangguan pengecapan atau mimik wajah, gangguan perasa di wajah, gangguan bicara, kelamahan alat gerak dan lain-lain. Pada kondisi seperti ini harus dicurigai telah munculnya penyakit lain yang lebih serius dan harus ditangani segera.

Demikianlah di antara beberapa petanda bahwa vertigo merupakan tanda klinis adanya suatu penyakit lain yang lebih serius di dalam otak. Tidak sedikit saya menerima pasien-pasien dengan vertigo yang ternyata menderita tumor otak dan gangguan pembuluh darah otak. Memang harus diakui bahwa serangan vertigo sebagian besar disebabkan oleh gangguan hormonal dan proses degenerasi. Namun, bukankah lebih baik mencegah daripada mengobati….

 

VERTIGO

Kenalilah tanda-tanda serangan stroke

Serangan stroke dapat datang dengan berbagai gejala dan dengan intensitas yang berbeda-beda. Serangan mulai dari yang ringan dan tidak kentara hingga terberat yang membuat keluarga panik dan segera mencari pertolongan ke rumah sakit. Namun ternyata kebanyakan serangan stroke dimulai dengan yang ringan. Serangan ini dapat bersifat sementara yang kemudian hilang. Namun serangan dapat berjalan terus, memberat secara progresif hingga bersifat fatal. Keterlambatan mencari pertolongan mengakibatkan maut yang tidak dapat dicegah atau diobati.

Pasien-pasien yang saya terima dengan serangan stroke umumnya datang beberapa jam atau beberapa hari setelah serangan stroke mulai muncul. Ketidaktahuan dan ketidakpedulian terhadap gejala ringan menyebabkan mereka tidak segera mencari pertolongan. Alhasil, pada keadaan yang sudah lebih lanjut, pertolongan yang diberikan tidak akan memberikan hasil yang memuaskan.

Sebuah cerita pengalaman tentang pasien yang pernah mengalami stroke namun gagal untuk ditolong akan saya paparkan. Seorang wanita mengeluh kesulitan bangun dari sujud saat sedang sembahyang karena merasa lemah pada tangan kanannya. Memang sudah sejak beberapa hari dia merasakan sakit kepala yang hilang timbul, tetapi merasa lebih enak dengan mengkonsumsi obat sakit kepala. Sang wanita kemudian menyampaikan keadaannya ini kepada tetangganya yang adalah seorang dokter bedah saraf. Dokter bedah saraf tersebut kemudian menyarankan untuk ke rumah sakit dan dilakukan beberapa pemeriksaan termasuk pemeriksaan laboratorium dan pemeriksaan pencitraan. Namun wanita tersebut beserta keluarganya menginginkan hanya untuk diberikan obat dan istirahat di rumah serta menolak untuk ke rumah sakit. Sekitar 3 jam kemudian, diketahui wanita tersebut tidak sadarkan diri dan keluarganya yang panik kemudian segera melarikannya ke rumah sakit. Dilakukan pemeriksaan CT Scan kepala emergensi dan ditemukan adanya perdarahan luas karena stroke. Usaha pertolongan yang diberikan tidak berhasil dan sudah terlambat. Wanita tersebut kemudian menghembuskan nafas terakhirnya 1 jam setelah sampai di rumah sakit.

Bayangkan bahwa dalam waktu kurang dari 6 jam, seorang wanita yang masih sadar penuh, dapat berjalan dan berbicara kemudian meninggalkan dunia ini. Begitulah yang dapat terjadi pada serangan stroke. Penyesalan terbesar datang dari keluarga yang tidak segera mencari pertolongan. Penyesalan juga dirasakan dokter bedah saraf tetangganya yang tidak lebih agresif untuk menyuruh pasien dan keluarganya ke rumah sakit. Jika saja pasien lebih cepat didiagnosa maka dokter bedah saraf kemungkinan dapat memberikan pertolongan dengan hasil yang lebih baik.

Secara singkat, beberapa hal bisa diperhatikan untuk mengenali tanda-tanda stroke. Berikut ini adalah tanda-tanda serangan stroke yang dapat datang satu per satu atau secara bersamaan, yatu :

1. Pasien dianjurkan untuk tersenyum atau nyengir dan kemudian perhatikan sudut bibir pasien. Kemiringan atau ketidaksimetrisan sudut bibir erupakan pertanda adanya serangan stroke.

2. Pasien disuruh untuk berbicara dan menyebutkan kata-kata dalam kalimat. Bila pasien kesulitan menyebutkan atau terdengar pelo, maka serangan stroke dapat dicurigai.

3. Pasien disuruh untuk mengangkat kedua lengannya, perhatikan bila ada kelemahan pada salah satunya maka serangan stroke mungkin sudah terjadi. Hal ini juga berlaku dengan kelemahan pada tungkai pasien.

4. Pasien-pasien yang tiba-tiba menjadi sulit untuk mengingat, disorientasi tempat, waktu dan diri, maka ada kemungkinan serangan stroke terjadi. Walau hal ini juga sering terjadi pada orang-orang usia lanjut yang mulai mengalami kepikunan.

5. Pasien-pasien dengan faktor resiko stroke, akan lebih rentan mengalami stroke, sehingga bila gejala-gejala yang disebutkan di atas muncul maka harus lebih agresif mencari pertolongan medis. Faktor-faktor resiko stroke di antaranya seperti : tekanan darah tinggi, penyakit gula, merokok, usia lanjut, kegemukan (obesitas), gangguan kolesterol dan pasien-pasien dengan kecenderungan emosi tinggi.

Bila anda atau keluarga anda menemukan gejala-gejala di atas, saya menyarankan untuk segera mencari pertolongan sebelum gejala lebih berat muncul, seperti penurunan kesadaran, kejang dan lain-lain. Pada keadaan yang lebih dini maka dokter bedah saraf dapat memberikan bantuan yang memungkinkan untuk memberikan hasil yang lebih baik dan memuaskan.

Kembar siam gabung kepala…kebesaran Tuhan yang menjadi tantangan ahli bedah saraf…

Kembar siam gabung kepala atau dalam bahasa medis disebut “Craniopagus” adalah kelahiran dua bayi dengan dempet pada kepala. Walau tidak sering ditemukan namun tercatat sudah beberapa kejadian terjadi di seluruh dunia. Beberapa di antaranya tumbuh hingga dewasa tetap dalam keadaan dempet, namun beberapa di antaranya juga dilakukan usaha pemisahan sejak dini oleh para ahli bedah saraf. Tetapi usaha pemisahan dempet kepala ini bukanlah hal yang mudah, dan bahkan merupakan salah satu tantangan terbesar bagi ahli bedah saraf.

Craniopagus terjadi akibat gagalnya pemisahan dua zygot / sel telur yang sudah dibuahi oleh sperma pada keadaan kelahiran kembar/ganda. Akibatnya, terjadi penyatuan atau dempet pada suatu atau beberapa bagian tubuh. Penyatuan atau dempet dapat terjadi pada bagian perut, pinggang, dada maupun kepala. Akibat penyatuan ini maka kemungkinan akan ada organ yang digunakan secara bersama dan tidak terbentuk untuk masing-masing bayi. Usaha pemisahan selalu dilakukan agar kedua anak dapat tumbuh seperti orang normal namun pemisahan dempet kepala tidaklah semudah pemisahan jenis dempet yang lain karena berhubungan dengan struktur saraf yang sangat penting dan rapuh serta sistem pembuluh darah kepala dan otak yang amat rumit. Sehingga, usaha pemisahan dempet kepala lebih banyak mengalami kegagalan dan berakhir dengan kematian ke dua bayi dempet tersebut.

Dalam sejarah, salah seorang ahli bedah saraf Indonesia, seorang guru besar bedah saraf dari Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, RSCM, yaitu Prof. Dr. RM Padmosantjojo, SpBS, berhasil melakukan pemisahan terhadap bayi kembar siam yaitu Yuliana dan Yuliani. Hal ini merupakan salah satu kebanggaan Indonesia terhadap dunia dimana salah seorang anak bangsanya berhasil melakukan operasi yang tidak berhasil dilakukan di negara lain di dunia. Dengan berbagai kekurangan sarana dan prasarana saat itu dan dengan pengetahuan yang dianggap tidak semaju negara-negara lainnya di dunia, Prof. Padmo beserta tim dokter bedah saraf FKUI-RSCM dalam operasi yang berlangsung sekitar 16 jam, berhasil memisahkan bayi kembar siam dempet kepala, Yuliana dan Yuliani. Keberhasilan ini juga yang kemudian menganugerahkan beliau dengan gelar guru besar bedah saraf FKUI.

Yuliana-Yuliani

Saya sebagai murid langsung dari beliau merasa sangat bangga atas kerjanya, dan saya banyak mendapatkan nasehat serta ajaran mengenai kembar siam ini dan cara melakukan pemisahannya. Prof. Padmo menceritakan kepada saya mengenai prinsip-prinsip dasar pada kembar siam yang sangat penting dipegang untuk mentatalaksananya dengan benar. Untuk memisahkan kepala pada kembar siam maka yang harus dipastikan adalah adanya struktur-struktus penting saraf/otak dan pembuluh darah untuk masing-masing bayi. Menurut Prof. Padmo, sebenarnya Yang Maha Kuasa sudah memberikan dan membuat masing-masing struktur tadi namun dalam keadaan menempel atau tidak teratur. Tugas kita sebagai ahli bedah saraf yang memisahkan dan membentuknya serta meletakkannya ke tempat yang normal. Dengan pengetahuan tersebut disertai dengan ketajaman mata dan keahlian dan ketrampilan tangan memisahkan saraf dan pembuluh-pembuluh darah yang kecil, maka Prof. Padmo berhasil memisahkan bayi kembar siam. Kegagalan-kegagalan pemisahan kembar siam dempet kepala di negara-negara lain adalah karena prinsip-prinsip tadi tidak dipegang.

Prof. Dr. RM. Padmosantjojo, SpBS(K)

Saat ini Yuliana dan Yuliani sudah tumbuh dan telah menyelesaikan pendidikan perguruan tinggi mereka masing-masing. Ada yang menjadi dokter dan ada yang menjadi Insinyur teknik. Mereka berdua dapat menjalani hidup seperti orang normal biasa.

Akan selalu ada masalah-masalah medis yang timbul sebagai suatu tantangan bagi dokter dan tenaga medis lainnya. Hal ini merupakan pintu kesempatan bagi kita para dokter untuk mengembangkan diri menjadi lebih baik asalkan tidak putus usaha. Tantangan  pemisahan kembar siam dempet kepala masih dihadapi oleh para ahli bedah saraf dunia, termasuk saat ini oleh ahli-ahli bedah saraf dari Departemen Bedah Saraf FKUI-RSCM.