Arsip Kategori: Operasi

Kapan Indonesia bisa seperti Jepang….?

Beberapa bulan yang lalu saya mendapatkan kesempatan untuk belajar di Tokyo, Jepang dalam mengambil salah satu sub spesialis dari ilmu bedah saraf yaitu “endovaskuler” atau kadang dikenal sebagai “neuro-intervensi”. Selama kurang lebih 2,5 bulan saya mengambil magang atau “fellowship” bidang “endovascular neurosurgery” di RS Toranomon Tokyo, Jepang. Bidang yang saya pelajari dan tekuni adalah suatu bidang “minimal invasive” untuk terapi kelainan-kelainan di otak atau saraf tulang belakang khususnya kelainan pembuluh darah. Dengan menggunakan akses sangat kecil di daerah lipatan paha atau pergelangan tangan, dapat dimasukkan selang kecil (kateter) dan kawat kecil sebagai alat untuk berjalan di dalam pembuluh darah hingga ke pembuluh darah otak atau saraf tulang belakang. Melalui kateter kecil itu, dapat dilakukan penyumbatan (oklusi) atau pembukaan (rekanalisasi) pembuluh darah-pembuluh darah di susunan saraf pusat. Penyakit-penyakit seperti stroke akibat sumbatan pembuluh darah otak, perdarahan akibat aneurisma pecah, kelainan bentuk pembuluh darah dan bahkan tumor otak (penutupan pembuluh darah yang memberikan darah pada otak) dapat dilakukan melalui prosedur ini.

Tindakan endovaskuler memang sangat berkembang saat ini (serupa dengan kateterisasi dan pemasangan stent pada jantung) karena merupakan suatu tindakan dengan trauma minimal pada pasien. Pada beberapa jenis tindakan, bahkan pasien tidak perlu dibius. Alhasil, pasien tidak perlu dirawat lama dan komplikasi yang terjadi mungkin lebih kecil dibandingkan operasi besar. Pasien juga tidak perlu dirawat di ruang rawat intensif (ICU) dan kemungkinan komplikasi akibat rawat lama di RS dapat dihindarkan. Dari segi nyeri pasca tindakan, tindakan endovaskuler akan memberikan rasa nyeri yang lebih minimal. Memang yang diperlukan adalah alat-alat yang cukup banyak dengan harga yang tidak murah. Untuk sebuah tindakan endovaskuler maka diperlukan biaya puluhan juta, namun karena di negara Jepang seluruh pelayanan kesehatan di tanggung oleh asuransi, sehingga tindakan sekompleks apapun tidak menjadi masalah. Melihat tingkat keamanannya untuk pasien, saya rasa wajar tindakan dan keilmuan ini semakin berkembang.

Setelah saya pulang ke Indonesia, keinginan saya adalah untuk mengamalkan dan menjalankan keilmuan yang sudah saya pelajari di Jepang. Dengan pengetahuan dan ketrampilan yang mudah-mudahan sudah cukup, saya memiliki cita-cita besar terhadap bidang kedokteran ini. Namun yang saya temukan ternyata tidak seindah di Jepang. Masalah biaya serta asuransi adalah keadaan yang menyedihkan dalam sistem kesehatan kita yang jauh dari baik ini. Saya menemukan banyak pasien yang membutuhkan terapi dengan keilmuan endovaskuler ini namun tidak dapat menjalani karena masalah biaya. Bahkan pasien-pasien dengan surat jaminan juga tidak mendapatkan tanggungan sepenuhnya. Kesulitan ini yang menghalangi saya dan dokter-dokter bedah saraf lainnya yang mendalami bidang ini. Berbagai usaha dilakukan untuk menyesuaikan dengan kekurangan ini namun menurut saya hasilnya tidak bisa maksimal. Masalah seperti ini tidak hanya terjadi pada prosedur ini. Berbagai tindakan operasi lainnya juga sering mengalami kendala ini.

Oleh karena itu, saat ini, usaha untuk memperbaiki sistem pembiayaan kesehatan terus dibenahi. Kesehatan tidaklah murah dan menurut saya memang wajar. Negara dan para pemimpin negara perlu menyadari bahwa kesehatan memang mahal bila kita mau menghargai manusia Indonesia sebagai sumber daya manusia yang berkualitas. Kesehatan merupakan salah satu bidang yang perlu diprioritaskan oleh negara.

Jadi…kapan Indonesia bisa seperti Jepang…..??

Iklan

Minimal invasive in Neurosurgery‚Ķ..Operasi dengan trauma sekecil mungkin…

Ilmu bedah saraf telah berkembang dengan pesatnya dalam 1 dekade terakhir dikarenakan semakin banyak penyakit-penyakit saraf yang harus diterapi dengan operasi diikuti dengan kemajuan pengetahuan dan teknologi alat-alat kedokteran.

Tidak dipungkiri bahwa operasi bedah saraf merupakan operasi dengan tingkat kesulitan tertinggi dimana organ yang dihadapi adalah sistem saraf, otak dan tulang belakang, yang memiliki resiko besar untuk rusak. Kerusakan saraf umumnya bersifat irreversibel sehingga merupakan keharusan bagi seorang bedah saraf untuk mencegah pengrusakan jaringan saraf sehat pada saat operasi sebaik mungkin.

Oleh karena itu, mulailah dikembangkan pengetahuan dan teknik operasi dengan trauma sekecil mungkin atau disebut dengan “minimal invasive neurosurgery”. Seorang ahli bedah saraf memang telah menjalani pendidikan dan pelatihan teknik operasi bedah saraf yang sebaik mungkin dengan resiko kerusakan sedikit mungkin. Selain itu, kemajuan teknologi juga mendukung teknik minimal invasive surgery ini.

Alat-alat seperti mikroskop bedah saraf, endoskopi, CUSA (alat penghisap tumor) dan lain-lain telah ada dan dapat digunakan seorang ahli bedah saraf untuk memberikan terapi yang bersifat “minimal invasive”. Dengan alat-alat ini, seorang ahli bedah saraf mampu memiliki visual yang luas dengan bukaan operasi yang kecil.

Saat ini ahli bedah saraf juga telah mengembangkan “endovascular neurosurgery” atau neurointervensi dimana hanya dengan menggunakan kateter kecil dan alat-alat canggih kecil lainnya dapat mengatasi penyakit-penyakit seperti stroke, kelainan vaskuler dan banyak lagi. Kemajuan ini tidak akan berhenti disini. Bedah saraf masih akan berkembang lebih luas lagi.