Arsip Tag: organ

Vertigo, suatu sakit kepala berputar biasa atau tanda klinis dari penyakit lain…??

Keluhan sakit kepala memang sangat banyak dan mungkin hampir setiap hari menyerang kita. Rasanya bisa bervariasi dan begitu pula dengan penyebabnya. Namun sering sekali sakit kepala dianggap suatu keluhan yang biasa-biasa saja, yang tidak memerlukan perhatian khusus dan diharapkan hilang sendiri dengan beritirahat atau minum obat-obatan sakit kepala. Alhasil sering sekali penyakit lainnya yang lebih berat tidak terdeteksi secara dini.

Salah satu jenis sakit kepala yang sering dikeluhkan adalah rasa sakit kepala berputar atau yang biasa disebut “Vertigo”. Penderita akan merasakan dirinya berputar-putar terhadap lingkungan sekitarnya atau lingkungan sekitarnya yang berputar-putar terhadap dirinya. Pada kondisi yang berat, penderita bahkan dapat kehilangan keseimbangan dan merasa akan jatuh atau bahkan jatuh serta tidak dapat berdiri. Hal ini akan menjadi sangat mengganggu untuk aktifitas sehari-hari. Beberapa keluhan vertigo dapat berkurang dengan mengkonsumsi obat-obat sakit kepala atau obat untuk vertigo. Namun beberapa di antaranya tidak berkurang sama sekali.

Vertigo disebabkan gangguan pada sistem vestibuler atau sistem keseimbangan tubuh kita. Sistem vestibuler tersebut terletak pada organ vestibuler yang berdekatan dengan organ pendengaran kita. Selain itu terdapat pula saraf vestibuler (saraf ke VIII dari saraf kranial) yng menghantarkan informasi keseimbangan ke otak kita (otak kecil / serebelum). Otak kecil atau “serebelum” merupakan pusat pengaturan keseimbangan pada tubuh kita. Gangguan atau kelainan pada organ vestibuler, saraf vestibuler dan otak kecil dapat menimbulkan keluhan vertigo atau rasa sakit kepala berputar.

Lalu kelainan-kelainan apa saja yang dapat memicu timbulnya vertigo…???

Kelainan pada organ vestibuler dapat mengakibatkan vertigo. Kelainan ini dapat disebabkan oleh proses penuaan atau degenerasi dimana organ vestibuler mulai kaku dan produksi cairan vestibuler mulai sedikit sehingga gerakannya menjadi lambat. Selain itu gangguan atau ketidakseimbangan hormonal, misalnya pada wanita yang sedang menstruasi atau sedang mengandung/hamil atau wanita yang memasuki fase menopause, dapat juga mengganggu fungsi normal dari organ vestibuler.

Kelainan pada saraf vestibuler dapat disebabkan oleh berbagai penyakit seperti tumor otak, kelainan pembuluh darah otak atau kelainan akibat sumbatan pembuluh darah (stroke). Selain itu penggunaan beberapa jenis obat tertentu yang memiliki efek toksik ke saraf kranialis VIII, dapat mengakibatkan vertigo.

Kelainan pada otak kecil / serebelum dapat disebabkan oleh penyakit seperti tumor otak, stroke, gangguan pembuluh daraf, infeksi/abses otak, trauma otak dan lain-lain.

Lalu bagaimana mengetahui apakah vertigo yang kita alami merupakan sakit kepala biasa atau merupakan tanda adanya penyakit lain yang lebih berat di dalam otak…??

Tidaklah mudah untuk menentukan penyebab dari vertigo walau sudah dilakukan pemeriksaan fisik secara lengkap. Namun sebagai panduan untuk kecurigaan adanya penyakit serius di belakang sebuah serangan vertigo adalah sebagai berikut :

1. Serangan vertigo yang semakin lama semakin memberat dan semakin sering frekuensi nya, harus dicurigai adanya suatu kelainan lain yang mungkin perlu segera diperiksa dan ditangani.

2. Serangan vertigo yang tidak membaik setelah mendapatkan pengobatan yang sesuai. Umumnya dapat dipakai patokan apabila serangan vertigo tidak membaik setelah mengkonsumsi obat vertigo selama 2-3 bulan.

3. Penderita vertigo umumnya sudah mengenal kapan serangan vertigo yang dialaminya akan muncul mengingat penyakit vertigo ini umumnya sudah bersifat kronik dan muncul secara periodik/berkala. Sehingga bila tiba-tiba serangan vertigo muncul pada waktu atau periode waktu yang tidak biasa, maka harus dicurigai adanya suatu penyakit lain atau berkembangnya suatu penyakit.

4. Serangan vertigo yang disertai dengan gangguan saraf atau neurologis lainnya, misalnya gangguan keseimbangan dan terjatuh, gangguan pendengaran, gangguan pengecapan atau mimik wajah, gangguan perasa di wajah, gangguan bicara, kelamahan alat gerak dan lain-lain. Pada kondisi seperti ini harus dicurigai telah munculnya penyakit lain yang lebih serius dan harus ditangani segera.

Demikianlah di antara beberapa petanda bahwa vertigo merupakan tanda klinis adanya suatu penyakit lain yang lebih serius di dalam otak. Tidak sedikit saya menerima pasien-pasien dengan vertigo yang ternyata menderita tumor otak dan gangguan pembuluh darah otak. Memang harus diakui bahwa serangan vertigo sebagian besar disebabkan oleh gangguan hormonal dan proses degenerasi. Namun, bukankah lebih baik mencegah daripada mengobati….

 

VERTIGO
Iklan

Infeksi TBC pada otak…suatu penyakit “peniru”

Hingga saat ini, penyakit TBC (Tuberculosis) masih merupakan suatu tantangan dan pekerjaan rumah yang belum tuntas diselesaikan oleh bangsa dan negara kita. Penyakit yang disebabkan oleh bakteri “Mycobacterium tuberculosa” masih merupakan salah satu masalah kesehatan yang utama yang dihadapi oleh pemerintah kita khususnya oleh departemen kesehatan RI. Usaha pemerintah untuk mengatasi penyakit ini dengan memberikan pengobatan secara luas hingga ke puskesmas-puskesmas dan bersifat gratis, tetap tidak mampu mengejar kecepatan penyebaran penyakit ini. Penyakit ini menyebar melalui udara dari pernafasan penderita ataupun saat penderita batuk, sangat mudah menular kepada orang-orang di sekitarnya baik keluarga, tetangga dan teman. Ditambah lagi keadaan higenitas/kebersihan lingkungan dan udara di negara kita yang relatif buruk.

Bentuk paling umum yang diketahui oleh masyarakat adalah bahwa penyakit TBC menyerang organ paru-paru kita dengan manifestasi klinis berupa batuk-batukĀ  atau mungkin sesak nafas. Beberapa penderita juga kadang mengeluhkan suhu tubuh meningkat (demam) yang bersifat naik turun. Beberapa penderita lainnya juga mengeluh suka keringat dingin di malam hari dan berat badan menurun. Pada kasus dengan penyakit TBC lanjut, pasien dapat mengalami batuk berdarah.

Namun ternyata, penyakit TBC ini lebih luas dari hanya gangguan di sistem pernafasan atau paru-paru saja. Kemampuan bakteri TBC untuk menyerang tubuh kita tidak terbatas pada organ paru-paru saja. Tuberculosis mampu menyerang hampir seluruh organ di tubuh kita, termasuk otak dan saraf tulang belakang. Saya harus akui bahwa pasien dengan TBC pada otak dan tulang belakang yang datang ke bedah saraf tidaklah sedikit.

Kenapa saya mengatakan bahwa TBC merupakan penyakit “peniru”….??

Saya jawab dengan sebuah cerita. Seorang wanita muda datang kepada saya dengan keluhan sakit kepala kronis dan kelemahan sesisi tubuh. Pasien sudah mengalami penyakit ini sejak 3 bulan terakhir. Tidak jelas adanya riwayat trauma ataupun infeksi dari cerita pasien. Pasien datang dengan rasa khawatir dan takut yang tidak dapat disembunyikan. Dengan membawa CT Scan dan MRI kepala hasil pemeriksaan dirinya, pasien bercerita kalau dia sudah pernah berobat ke dokter saraf dan dikatakan menderita penyakit tumor otak. Setelah divonis dengan tumor otak, pasien menjadi sangat ketakutan dan kehilangan semangat hidup. Dengan menangis, dia berkata mengapa usia semuda dirinya harus menghadapi kematian sedini mungkin.

Saya berusaha menenangkan wanita muda tersebut dan menyampaikan kepadanya untuk tenang dan bersabar dahulu. Berdasarkan riwayat penyakit dan pemeriksaan fisik yang dilakukan padanya serta hasil pemeriksaan pencitraan yang dibawanya, diagnosis pasti penyakitnya belum dapat ditentukan. Memang dari hasil pemeriksaan CT Scan dan MRI kepala terlihat suatu massa menyerupai tumor di dalam otak. Pada saat itu memang saya belum bisa memberikan kesimpulan dari penyakitnya. Kemudian saya menawarkan tindakan operatif untuk mengambil massa yang diduga tumor tersebut dengan tujuan untuk mengetahui jenis massa tumor dan usaha untuk mengurangi massa tumor seoptimal mungkin. Pasien dalam kepasrahan menyetujui tindakan yang saya tawarkan dan kemudian pasien dipersiapkan. Dilakukan tindakan operasi pada pasien satu minggu setelah kedatangannya ke saya. Massa tumor diambil sebagian karena pengambilan secara total dapat membahayakan nyawa pasien. Massa tumor yang diambil kemudian dikirim ke laboratorium untuk diperiksa. Pasien kemudian dirawat pasca operasi.Pasien masih dalam keadaan stres dan tidak punya semangat hidup setelahnya.

Sekitar satu minggu setelah tindakan operasi, keluarlah hasil pemeriksaan massa tumor. Pasien sangat khawatir saat menunggu hasil pemeriksaannya keluar. Kemudian saya membuka amplop hasil pemeriksaan laboratorium. Saya terdiam sejenak kemudian saya menatap pasien dan mulai berbicara. Sebelum saya beri tahu hasilnya, saya bertanya terlebih dahulu kepada pasien apakah pasien pernah mengalami sakit batuk-batuk kronis. Pasien mengangguk. Kemudian saya bertanya apakah di antara anggota keluarga ada yang menderita penyakit TBC dan bila ada, bagaimana dengan pengobatannya. Pasien menjawab ada namun pengobatannya tidak lengkap. Baru kemudian saya memberi tahu pada pasien bahwa hasil pemeriksaan laboratorium menunjukkan bahwa pasien tidak menderita tumor otak, tetapi yang ada adalah lesi tuberkulosis pada otak. Penyakit TBC ini dapat sembuh dengan pengobatan yang benar dan teratur. Pada saat itu juga pasien menangis kegirangan dan bersujud syukur. Dia kemudian memeluk saya sekuat tenaga sambil masih terus menangis dan mengucapkan terima kasih. Saya hanya mengatakan kepadanya untuk berterima kasih kepada Tuhan Yang Maha Kuasa. Saya juga kemudian menganjurkan pasien untuk memulai terapi TBC secara teratur.

Enam bulan semenjak pasien pulang dari perawatan di rumah sakit, saya ertemu kembali dengannya di poliklinik. Wanita muda tersebut kelihatan sangat segar, bahkan tubuhnya lebih berisi. Wajahnya penuh dengan senyuman dan matanya berbinar-binar. Wanita muda tersebut kemudian mengatakan bahwa keluhan sudah jauh membaik. Kelumpuhannya semakin membaik dan sakit kepalanya menghilang. Hasil pemeriksaan MRI kepala kontrol menunjukkan massa TBC sudah hampir menghilang sepenuhnya. Dapat dikatakan pasien sudah sehat sekarang.

Penyakit TBC pada otak dapat berbentuk seperti suatu tumor otak dengan gejala-gejala seperti gejala yang ditimbulkan oleh tumor otak. Penyakit TBC merupakan suatu penyakit yang dapat menyerang hampir seluruh organ di tubuh kita dan dapat menjadi berbahaya bila tidak diobati. Namun satu hal yang harus diketahui, bahwa penyakit TBC dapat diobati.

Misteri regenerasi dan pemulihan saraf

Saya awali cerita ini dengan membandingkan dua penyakit yaitu penyakit stroke dan penyakit patah tulang. Seseorang dengan patah tulang akibat kecelakaan, maka dengan terapi yang tepat, baik operasi maupun tidak, maka tulang akan dapat menyatu dan pulih kembali. Tingkat pulihnya dan kembali normalnya juga amat baik. Namun bagaimana dengan seseorang yang terkena penyakit stroke? Umumnya dikatakan setelah mendapat serangan stroke maka seseorang akan menjadi cacat seumur hidup. Kelemahan sesisi tubuh, gangguan bicara, ketidakmapuan untuk mengurus diri sendiri hingga hilangnya produktifitas merupakan beberapa konsekuensi dari penyakit stroke. Walau tindakan operasi sudah dilakukan untuk mengeluarkan darah atau tindakan intervensi sudah dilakukan untuk membuka sumbatan, namun fungsi saraf yang sudah rusak akan sulit kembali normal. Kenapa ini terjadi? Kenapa tidak bisa gangguan atau kerusakan saraf pulih sebaik patah tulang?

Jawabannya adalah karena seluruh sistem, jaringan dan organ di tubuh kita memiliki kemampuan regenerasi atau memperbaiki diri yang berbeda-beda. Kemampuan untuk pulih dari masing-masing sistem atau organ tidak sama. Ada organ yang memiliki kemampuan pulih luar biasa dan mendekati sempurna seperti tulang dan kulit. Ada organ yang memiliki kemampuan pulih sedang dimana terdapat regenerasi namun tidak sempurna seperti pada organ hepar (hati), usus dan lain-lain. Tapi juga ada organ yang memiliki kemampuan pulih sangat rendah dan saraf termasuk dalam katagori ini. Saraf disini yang dimaksud adalah sistem susunan saraf pusat yaitu otak dan saraf tulang belakang (medula spinalis).

Berbeda dengan susunan saraf pusat, maka sistem saraf perifer memiliki kemampuan regenerasi yang lebih baik. Saraf-saraf perifer yang terletak di tangan atau kaki kita bila terluka atau putus, kemudian dilakukan tindakan penyambungan yang tepat dan suasana penyembuhan yang kondusif maka pemulihan dapat terjadi. Saraf perifer yang putus, maka mulai dari daerah yang putus tersebut hingga ke ujung terjauh saraf (distal) dari sistem saraf pusat akan terjadi peleburan saraf dan selaput saraf. Peleburan otomatis ini akan diikuti dengan dibersihkannya sisa-sisa peleburan dan penghancuran oleh sel-sel makrofag (sel yang membunuh atau membersihkan kuman dan benda berbahaya di tubuh). Setelah bersih, maka sel-sel pembentuk selaput saraf akan mulai membuat kerangka atau desain saraf serupa dengan yang lama untuk selanjutnya kerangka ini akan menjadi “blue print” dalam pembentukan saraf baru. Kerangka yang sudah dibuat selaput saraf kemudian akan diisi oleh sel-sel saraf baru hingga menyerupai saraf yang lama. Hal ini tidak terjadi pada sistem saraf pusat.

Hingga saat ini terus dilakukan penelitian untuk mencari dan mengetahui rahasia pemulihan otak dan saraf tulang belakang. Berbagai usaha penelusuran dilakukan untuk mengetahui cara modifikasi sistem saraf dalam tingkat biomolekuler agar regenerasi dapat distimulasi. Cadangan-cadangan untuk pemulihan terus dicari dari otak kita yang menakjubkan ini. Penemuan terakhir mengetahui bahwa adanya sel-sel muda (stem cell) saraf di sekitar saraf penciuman kita. Sel-sel muda ini dapat tumbuh menjadi sel-sel saraf normal dan berfungsi baik. Beberapa obat sudah diproduksi untuk menstimulus sel-sel muda ini tumbuh dan menggantikan sel-sel saraf yang rusak. Obat-obat ini umumnya diberi dengan cara penetesan langsung di hidung seorang pasien. Hasilnya memang belum dipastikan namun pengalaman menunjukkan terdapat beberapa hasil yang positif, dimana regenerasi saraf terjadi.

Menurut saya penelitian harus terus dilanjutkan agar pemulihan saraf yang baik dapat ditemukan. Otak dan saraf tulang belakang merupakan pusat pengaturan segala fungsi tubuh kita dan kerusakannya akan memberikan dampak yang berat bagi kehidupan si pasien dan keluarganya. Mari, kita para cendekiawan untuk terus bekerja dan berusaha mencari dan menguasai pengetahuan ini untuk memberikan kesempatan lebih baik bagi umat manusia.

Saraf