Arsip Tag: oksigen

Cedera kepala…”kejutan” pada otak yang “menular” dan mengancam jiwa.

Bila kita mengunjungi unit gawat darurat sebuah rumah sakit, maka kita akan menemukan orang-orang dengan penyakit atau kelainan yang bersifat akut dan emergensi, dimana pertolongan segera sangat dibutuhkan. Yang terbanyak dapat kita temukan adalah kegawatdaruratan akibat kecelakaan atau trauma. Begitu juga dengan unit gawat darurat RS Ciptomangunkusumo, tempat saya belajar selama ini, suasana hiruk pikuk, pasien yang berdarah-darah, pasien tidak sadar ataupun kesakitan. Sebagai dokter ahli bedah saraf, saya selalu berurusan dengan kasus-kasus yang berkaitan dengan kepala (otak) dan tulang belakang. Selain kasus stroke, maka kasus terbanyak yang saya terima adalah cedera kepala.

Banyaknya kendaraan bermotor di kota Jakarta khususnya sepeda motor, ketidakpatuhan masyarakat untuk ketertiban lalu lintas dan kebiasaan pengemudi yang suka ugal-ugalan, mengakibatkan angka kecelakaan tetap tinggi. Instruksi pemerintah mengenai pemakaian helm pengaman atau sabuk pengaman yang cenderung diabaikan, menambah angka kejadian kecelakaan lalu lintas. Tidak sedikit korban kecelakaan itu mengalami cedera kepala yang termasuk katagori berat. Ketika dikirim ke rumah sakit, korban sudah dalam keadaan tidak sadar, kepala penuh dengan luka dan darah.

Sebagai seorang dokter bedah saraf, luka-luka luar yang terlihat mengerikan, tidak menjadi kekhawatiran utama bagi saya, sebab luka-luka luar tidak mengancam jiwa dan dapat diselesaikan hanya dengan pembersihan luka yang baik dan jahitan luka yang benar. Yang lebih menjadi perhatian saya adalah apa yang terjadi terhadap tulang kepala dan otak di dalamnya. Untuk tulang kepala, suatu patah tulang biasa tanpa ada desakan dapat sembuh dengan sendirinya tanpa tindakan operasi. Namun fraktur tulang kepala disertai dengan desakan tulang ke dalam otak, jelas merupakan ancaman karena otak dapat mengalami robekan akibat patahan tulang. Selain itu, fraktur tulang kepala yang terbuka akan memberikan jalan bagi kuman dari luar untuk mengakibatkan infeksi selaput otak atau infeksi otak. Pada keadaan ini, tindakan operasi harus segera dilakukan untuk memperbaiki posisi tulang dan menutup hubungan dengan dunia luar sehingga infeksi lebih jauh dapat dicegah.

Selanjutnya, bagaimana dengan otak di dalamnya…? Cedera pada otak dapat terjadi dalam dua bentuk secara garis besar yaitu adanya perdarahan otak atau adanya memar otak yang menyebabkan pembengkakan jaringan otak. Keduanya merupakan keadaan yang berat dan membutuhkan penanganan segera. Namun bila dibandingkan antara keduanya lebih seksama, maka sebenarnya perdarahan otak akibat trauma lebih tidak rumit penanganan dan tindakan operasinya dibandingkan dengan pembengkakan otak. Dari segi kesembuhan, maka untuk perdarahan otak khususnya di atas selaput otak (epidural hematom) dan di bawah selaput otak (subdural hematom), setelah dilakukan tindakan operasi pengambilan darah dan penghentian sumber darah, maka kondisi pasien cenderung cepat pulih beberapa hari sesudahnya. Pasien kemudian bisa pulang 5 hari atau seminggu sesudah operasi. Namun untuk memar atau pembengkakan otak, masalahnya akan menjadi lebih rumit. Cedera kepala yang mengakibatkan pembengkakan otak adalah cedera kepala yang berat. Begitu beratnya cedera kepala tersebut sehingga tulang kepala yang cukup keras tidak mampu melindungi otak di dalamnya. Ancaman jiwa terjadi karena pembengkakan otak dapat mengakibatkan herniasi batang otak, yaitu suatu keadaan dimana bagian otak yang bengkak kemudian mendesak batang otak yang kemudian akan menyebabkan kematian. Batang otak adalah struktur paling vital otak yang terletak di bagian tengah di dalam kepala yang berfungsi mengatur fungsi hidup manusia (fungsi pernafasan dan fungsi jantung). Penatalaksanaan memar atau bengkak otak biasanya diawali dengan obat-obatan dan segala usaha untuk mencegah pembengkakan bertambah yang dapat mengakibatkan herniasi batang otak. Bila keadaan sudah sangat mengancam dan obat-obatan tidak bisa mengatasi maka tindakan operasi dekompresi harus dilakukan. Tujuan operasi adalah membuka tulang kepala dan selaput otak sehingga memberikan ruang tambahan untuk otak yang bengkak, dan mencegah terjadinya herniasi. Setelah tindakan operasi, pasien masih harus ditopang penuh dengan obat-obatan untuk mencegah pertambahan bengkak otak dan kesedaran pasien juga tidak langsung pulih.

Kenapa saya menyebutkan kata “kejutan” dan “menular” pada judul cerita ini……? Adalah karena memang sifat cedera otak khususnya memar otak adalah kejutan dan menular. Pasien dengan memar otak akibat trauma kepala adalah pasien yang “sehat” sebelum kecelakaan terjadi. Tiba-tiba terjadi cedera kepala yang begitu hebat sehingga tubuh tidak sempat untuk melakukan pertahanan. Berbeda dengan pasien dengan tumor otak dimana sejak awal tumor tumbuh, tubuh sudah menciptakan suatu keseimbangan atau pertahanan terhadap kelainan ini. Disinilah yang menyebabkan kondisi pasien dengan cedera kepala cenderung buruk. Kemudian kata “menular” menuju pada sifat rusaknya sel-sel otak yang cenderung menular. Sebuah sel otak yang rusak dapat menyebabkan sel-sel otak sehat di sekitarnya juga rusak akibat kandungan zat metabolik di dalam sel yang rusak menyerang sel-sel di sekitarnya. Akibatnya kerusakan akan terus bertambah bila tidak dihentikan rantai penularan ini. Pemberian oksigen yang cukup dan anti radikal bebas serta nutrisi yang cukup ke otak adalah salah satu usaha memotong penularan ini. Kegagalan mencegah penularan ini, akan mengakibatkan kematian bagi pasien.

Sebagai pesan, bila anda atau keluarga anda mengalami cedera kepala seringan apapun, bawalah ke rumah sakit atau dokter untuk dipastikan dengan benar tidak ada bahaya mengancam seperti perdarahan otak atau memar otak. Sayangilah nyawa anda….

Iklan

Variasi kejang….suatu kegawat-daruratan yang penting untuk dikenali…

Menurut anda, kira-kira apa yang akan anda lakukan bila melihat salah seorang keluarga anda atau teman anda tiba-tiba jatuh dan bergerak tidak terkendali atau yang biasanya disebut dengan “kelojotan”? Mungkin hingga detik ke 5 atau ke 10 kejadian, anda akan hanya diam terpaku, bingung, takut atau mungkin berteriak minta pertolongan. Mungkin juga anda akan bereaksi cepat dengan memegang tangan atau badannya dengan harapan agar kelojotannya akan berhenti. Tapi apakah ini merupakan langkah yang benar? Apakah ini yang disebut kejang? Apakah hal ini merupakan suatu penanda kegawatan…?

Kejang merupakan suatu keluhan atau gejala yang biasanya akan membawa seseorang atau keluarganya untuk segera mencari pertolongan medis ke rumah sakit. Kejadian dimana tiba-tiba seorang bergerak-gerak ritmis tidak terkontrol dan sekaligus tidak sadar merupakan suatu kejadian yang bisa kita bilang mencengangkan dan menakutkan. Apalagi setelah “kelojotannya” berhenti, si penderita biasanya masih tidak bereaksi bila dipanggil atau bahkan lupa sendiri dengan apa yang dialamainya barusan.

Kejang disebabkan oleh adanya lompatan listrik atau ketidakseimbangan atau kacaunya aliran listrik di otak, khususnya daerah otak yang mengatur gerak tubuh. Otak kita yang begitu menakjubkan itu, ternyata inti-inti utama yang mengatur fungsi-fungsi tingkat tinggi tubuh kita seperti kemampuan bergerak, merasa dan berbicara terletak pada permukaannya, dan bukan di dalamnya. Penyebab gangguan aliran listrik ini bisa dikarenakan adanya kerusakan sel-sel otak akibat gangguan metabolisme/kimiawi, seperti akibat kurangnya asupan gula dan oksigen ke otak, atau bisa juga karena kerusakan mekanik, seperti permukaan otak robek atau bengkak pasca trauma kepala hebat. Aliran listrik yang akan melewati sel-sel otak yang rusak kemudian akan terganggu atau melompat sehingga mengakibatkan seseorang kejang.

Mungkin jenis penyakit kejang yang paling dikenal masyarakat adalah “epilepsi”. Tetapi kenyataannya walau angka kejadian epilepsi cukup banyak, masih lebih banyak lagi jenis-jenis kejang lainnya. Yang tidak diketahui oleh masyarakat adalah ternyata bentuk kejang itu memiliki tingkatan dari yang teringan hingga terberat. Salah satu kejang yang terberat adalah yang disebut dengan “status epileptikus” dalam dunia medis, dimana pasien kejang terus menerus dan tidak sadar dalam 30 menit, ataupun kejang dengan adanya interval berhenti dalam waktu 30 menit secara terus menerus tanpa ada periode sadar.

Namun tahukah anda bentuk kejang yang teringan….??

Bentuk kejang yang teringan adalah yang disebut dalam dunia medis sebagai “suatu bentuk sakit kepala yang berserangan”. Maksudnya berserangan disini adalah sakit kepala yang menyerang secara hilang timbul. Jadi gangguan lompatan listrik pada otak juga dapat bermanifestasi menjadi sakit kepala. Namun belum tentu juga setiap sakit kepala merupakan kejang. Sedikit lebih berat dari ini adalah bentuk kejang yang disebut dengan kejang “absans”, dimana penderitanya tiba-tiba diam untuk sesaat dan kemudian setelah beberapa waktu akan tersadar kembali namun tidak mengingat sama sekali fase diamnya tadi. Penderita benar-benar lupa kalau dia sempat “terdiam” dan tidak ingat apapun.

Nah selanjutnya, apa yang terjadi pada otak kita saat serangan kejang…?

Pada saat kejang, lompatan listrik menjadi tidak teratur dan kacau. Selain itu pada saat kejang, aliran darah ke otak akan terganggu atau berhenti sesaat selama periode kejang berlangsung. Disinilah kegawat-daruratannya dimana otak sangat membutuhkan oksigen dan asupan kalori yang dibawa oleh aliran darah ke otak. Bila dalam interval waktu tertentu yang relatif singkat, otak tidak mendapatkan oksigen atau energi maka sel-sel otak akan mati. Parahnya lagi, sel-sel otak yang rusak akan menularkan kerusakannya ke sel-sel tetangganya selama asupan oksigen dan energi dicukupkan.

Bila seorang pasien mengalami kejang di rumah sakit atau sarana medis lainnya maka yang harus segera dilakukan adalah memastikan asupan oksigen cukup masuk ke dalam tubuh / otak. Pasien akan segera diberikan oksigen oleh tenaga medis. Kemudian pasien juga akan diberikan obat anti kejang yang bekerja cepat untuk menghentikan kejangnya. Karena selama pasien masih kejang, maka kerusakan otak akan bertambah terus.

Namun bagaimana bila kejadian kejang berangsung di rumah atau dimanapun yang jauh dari sarana medis? Maka yang dapat kita lakukan adalah juga memastikan bahwa penderita mendapatkan asupan oksigen yang cukup. Pasien kejang jangan dikerumuni karena kerumunan orang ramai akan mengurangi oksigen di sekitar pasien. Kemudian pastikan lidah penderita tidak jatuh menutup kerongkongan/tenggorokan atau tergigit, karena dapat menutup saluran pintu masuk oksigen ke dalam tubuh. Selanjutnya segera bawa penderita ke rumah sakit.

Untuk terapi kejang, sudah banyak terdapat obat anti kejang yang disesuaikan dengan kebutuhan pasien, baik untuk anak-anak maupun orang dewasa. Kadang dibutuhkan obat lebih dari satu dan dikombinasikan untuk mengobatinya dan kadang butuh waktu untuk mendapatkan kombinasi obat yang paling tepat dan cocok untuk pasien. Bila terapi dengan obat-obatan gagal, maka masih ada terapi operasi untuk mengatasi atau mengurangi kejang. Keilmuan bedah saraf sudah begitu majunya saat ini sehingga tindakan operasi dapat menjadi pilihan untuk mengatasi kejang.

Pada akhirnya saya ingin menyampaikan sebuah cerita tentang pengalaman saya dengan seorang pasien. Pasiennya adalah seorang anak usia 3 tahun yang dibawa orangtuanya berobat ke saya untuk masalah kejang. Sayangnya kejang sudah berlangsung selama 2 tahun terakhir dengan frekuensi kejang sekitar 2-3 kali seminggu. Selama 2 tahun, anak tidak dibawa orangtuanya ke rumah sakit karena dianggap kejang akan berhenti sendiri akhirnya walau sering muncul, selain masalah biaya tentunya. Tapi…inilah hasilnya….di depan saya terbaring anak dengan tatapan kosong, tidak aktif, tidak bereaksi bila dipanggil dengan otot-otot badan sudah lemah. Anak ini sudah menjadi manusia yang walau bernyawa tapi tidak memiliki fungsi apapun lagi di tubuhnya. Kerusakan otaknya sudah begitu berat sehingga sel-sel otaknya sebagian besar sudah mati. Anak ini selanjutnya mungkin akan tetap hidup namun tidak bisa berfungsi seperti manusia biasanya, dan tindakan medis apapun akan sulit menolongnya lagi.

Ayo, selamatkan generasi muda dan sumber daya manusia Indonesia dari bahaya kejang sehingga tetap menjadi manusia yang produktif dan berguna untuk keluarga, nusa dan bangsa.