“Normal Pressure Hydrocephalus”…hidrocephalus orangtua…

Mendengar kata hidrocephalus (suatu kelainan akibat gagalnya cairan otak dibuang dari dalam kepala sehingga mengakibatkan tekanan di dalam kepala bertambah tinggi) biasanya yang terbayang adalah anak-anak kecil atau bayi dengan ukuran kepala yang besar serta keterbelakangan akibat gagal tumbuh dan kembang. Gambaran seperti ini memang sering kita lihat di media elektronik maupun cetak dan kadang membuat kita merasa takut atau sedih. Namun ternyata hidrocephalus tidak hany diderita oleh anak kecil atau bayi-bayi saja. Di usia manapun, hidrocephalus dapat muncul akibat beberapa penyebab.

Salah satunya adalah hidrocephalus yang sering ditemukan pada orang lanjut usia (usia 55 tahun ke atas). Penyakit tersebut disebut dengan “Normal Pressure Hydrocephalus” atau NPH, yaitu suatu jenis hidrocephalus dengan tekanan yang relatif normal. Maksudnya disini adalah bahwa tekanan yag disebabkan oleh penyakit ini fluktuatif dimana kadang normal, kadang juga tinggi. Karena ketidakstabilan ini maka gejala yang ditimbulkan juga tidak seperti hidrocephalus yang biasa (penurunan kesadaran, muntah, pembesaran ukuran kepala dan lain-lain).

Gejala yang paling sering dan umumnya ditemukan pada orang lanjut usia dengan NPH adalah tercakup dalam trias gejala “amnesia, ataksia dan inkontinensia”. Amnesia adalah gejala berupa sering lupa/pelupa, hal ini tercermin dari ketidakmampuan untuk mengingat nama orang-orang terdekat, tempat dan waktu. Ataksia adalah ketidakmampuan untuk menjaga postur dan keseimbangan badan sehingga cenderung untuk jatuh saat berdiri atau berjalan. Inkontinensia adalah ketidakmampuan untuk menahan berkemih alias suka ngompol.Ketiga gejala ini timbul akibat penekanan pada pusat-pusat kontrol di otak oleh hidrocephalus tersebut.

Untuk mendiagnosis kemungkinan seseorang menderita NPH, maka beberapa pemeriksaan dapat dilakukan seperti pemeriksaan CT Scan kepala atau pemasangan monitor tekanan intrakranial untuk mengevaluasi fkutuasi dari tekanan di dalam kepala.

Normal Pressure Hydrocephalus

Terapi yang diberikan umumnya adalah tindakan untuk menurunkan tekanan di dalam kepala dengan memasang selang drainase dari dalam kepala ke perut (Ventriculoperitoneal Shunt; VP Shunt). Biasanya setelah pemasangan selang VP Shunt, maka ketiga gejala diatas akan berkurang.

Oleh karena itu, jika anda atau orangtua anda memiliki trias gejala di atas, cobalah diperiksakan ke dokter ahli bedah saraf/saraf untuk memastikan ada tidaknya NPH. Pikun dan pelupa serta gangguan gerak lebih banyak trjadi pada orang usia lanjut namun jangan pernah menutup mata adanya penyakit “Normal Pressure Hydrocephalus” ini.

NPH mengancam orang usia lanjut
Iklan

55 thoughts on ““Normal Pressure Hydrocephalus”…hidrocephalus orangtua…”

  1. Dokter, ayah saya didiagnosis NPH, beliau terserang stroke pertama kali tahun 1997, sejak itu sudah 4 kali terkena serangan stroke, dan terkena serangan jantung & pasang stent pada tahun 2008. Dg kondisi yg demikian, apakah kondisi fisik beliau memungkinkan utk dioperasi, lalu apa akibatnya apabila tdk dioperasi? Bgmn cara agar mengurangi cairan di otak tanpa operasi, apakah ada obat2 tertentu? Terima kasih.

    1. Ibu Ica yang terhormat
      Terima kasih sudah bergabung dengan blog saya.

      Saya cukup prihatin dengan kondisi yang dialami ayah anda. Sungguh sangat kuat kondisi ayah anada, sudah mengalami serangan stroke sebanyak 4 kali tapi terus kuat bertahan.
      Apakah diagnosis NPH sudah pasti?

      Tindakan operasi yang dilakukan untuk kasus NPH adalah pemasangan selang VP Shunt (sebaiknya yang tekanannya dapat dikontrol) untuk mengurangi dan mengalirkan cairan dari dalam kepala ke perut. Bila memang ayah anda mengalami NPH, tanpa operasi maka keluhan klinis pada NPH tidak akan berkurang. Selain itu tidak ada cara untuk mengurangi cairan otak kecuali dengan tindakan operasi. Memang ada obat yang sedikit mengurangi produksi cairan otak, namun tidak dapat mengatasi kasus NPH, dan obat tersebut tidak dapat digunakan untuk jangka panjang. Obat itu disebut dengan nama “Diamox” (Glaucon). Kembali harus saya tegaskan, bahwa tidak ada cara yang efektif untuk mengurangi cairan otak selain dengan operasi.

      Kondisi fisik untuk operasi harus dinilai dengan cermat oleh dokter untuk melihat kelayakan dan kekuatan tubuh menerima pembiusan. Hal ini tidak bisa kita nilai hanya berdasarkan riwayat penyakit yang pernah mengalami stroke sebelumnya. Fungsi jantung dan paru harus dinilai dengan baik oleh dokter-dokter spesialis yang bersangkutan. Dokter anastesi juga harus menilai apakah tubuh ayah anda cukup kuat untuk pembiusan.

      Kesimpulannya adalah bila ayah anda benar-benar terdignosis sebagai NPH maka tindakan operasi memang perlu dilakukan. Kelayakan kondisi fisik untuk operasi harus dinilai dengan baik oleh dokter paru, jantung atau penyakit dalam dan dokter anastesi. Walau ada obat yang dapat mengurangi produksi cairan otak namun tidak dapat mengatasi NPH, sehingga operasi merupakan terapi yang terbaik.

      Demikian dari saya, semoga dapat menambah informasi bagi ibu. Semoga diberikan kesembuhan bagi ayah anda.
      Terima kasih.

      Hormat Saya

      Dokter Andra (Dr. M. Radhian Arief, SpBS)
      Neurosurgeon / Endovascular Neurosurgeon
      Staf Medik Departemen Bedah Saraf FKUI-RSCM

      Praktek :
      1. RS MEDISTRA Jakarta (Kamis dan Sabtu, jam 18.00 s/d 20.00)
      2. RS OMNI PULO MAS jakarta (Senin, Rabu, dan Jumat, jam 18.00 s/d 20.00)
      3. RSCM / RSCM Kencana (senin s/d jumat, jam 10.00 s/d 12.00)

  2. Dokter, ayah saya didiagnosa menderita NPH an diberikan rekomendasi untuk dilakukan VP Shunt, apakah ada resiko atau efek samping dari operasi tersebut, terutama terkait dengan selang dan lubang bekas operasi di kepalanya. Kemudian operasi tersebut biasanya memerlukan waktu berapa lama, dan apakah paska operasi kondisinya bisa cepat pulih. Terima kasih

    1. Bapak Henry yang terhormat
      Terima kasih sudah mengunjungi blog saya.

      Penyakit NPH (Normal Pressure Hydrocephalus) agak sedikit lebih kompleks daripada hidrosefalus biasa, karena pada NPH tekanan di dalam kepala dapat berubah-ubah. Sehingga dinamika NPH lebih besar daripada hidrosefalus biasa.

      Resiko dan efek samping pada tindakan VP Shunt yang tersering adalah infeksi dan perdarahan di dalam kepala. Infeksi disebabkan karena memang dipasangnya sebuah implan/alat (selang VP Shunt) jelas memiliki resiko untuk memasukkan kuman ke dalam kepala. Namun hal ini kita cegah dengan memakai alat yang dijamin steril serta pemberian antiobiotik. Perdarahan di dalam kepala dapat terjadi bila selang VP Shunt bekerja terlalu baik, dimana cairan dalam otak terlalu cepat dibuang ke dalam perut. Akibatnya otak akan kempis secara tiba-tiba dan menyebabkan tertariknya serta putusnya pembuluh-pembuluh darah balik (vena) kecil di permukaan otak. Hal ini diatasi dengan cara pemilihan tekanan selang yang sesuai untuk NPH.

      Untuk masalah lubang operasi, sejauh ini tidak ada resiko atau efek samping, kecuali ayah anda memiliki penyakit gula (DM) atau kekurangan albumin di dalam tubuh. Hal ini akan membuat durasi penyembuhan luka sangat lama. Dan resiko kebocoran dari ruang operasi bertambah besar.

      Operasi pemasangan VP Shnt tidak terlalu lama. Rata-rata seorang dokter bedah saraf dapat menyelesaikan operasi tersebut dalam waktu 1 sampai 1,5 jam.

      Pemulihan pasca operasi sangat bergantung dengan kondisi ayah anda sebelum operasi dan besarnya tekanan di dalam kepala akibat NPH. Bila kondisi ayah anda masih relatif tidak terlalu buruk, maka umumnya pemulihan lebih baik dan lebih cepat. Tekanan di dalam kepala juga sangat berpengaruh. Untuk tekanan yang lebih tinggi, setelah pemasangan selang maka tekanan dapat diturunkan dengan baik sehingga harapan kita pemulihan jelas lebih baik.

      Demikian dulu dari saya. Semoga dapat menambah informasi bagi anda. Semoga ayah anda mendapatkan kebaikan dan kesehatan.
      Terima kasih.

      Hormat Saya
      Dokter Andra (Dr. M. Radhian Arief, SpBS)
      Neurosurgeon / Endovascular Neurosurgeon
      Staf Medik Departemen Bedah Saraf FKUI-RSCM
      Email : dr.andra.bs@gmail.com

      Praktek :
      1. RS MEDISTRA Jakarta
      2. RS OMNI PULO MAS Jakarta
      3. RSCM / RSCM Kencana Jakarta

  3. Dokter, ayah mertua saya juga di diagnosa NPH, kita pernah membaca yang nama nya operasi ETV, apakah itu bisa juga utk mengatasi NPH dan lebih baik mana di banding shunt ? oh yach berapa perkiraan biaya utk kedua nya ?, terima kasih sebelumnya

    1. Ibu Fera yang terhormat
      Terima kasih sudah mengunjungi blog saya.

      ETV atau “Endoscopic Third Ventriculostomy” adalah suatu tindakan operasi yang “minimal invasive” (sedikit memberikan trauma) dengan menggunakan alat endoskopi (teropong kamera kecil) yang dimasukkan ke dalam rongga cairan otak dan berfungsi untuk membocorkan salah satu dasar/dinding rongga cairan otak sehingga cairan otak yang menumpuk karena obstruksi jalan keluarnya akan memiliki jalan pintas melalui kebocoran tersebut. Tindakan ETV ini mulai berkembang beberapa tahun terakhir selaras dengan berkembangnya teknologi endoskopi untuk bedah saraf dan usaha untuk mengurangi penanaman implan selang VP Shunt ke dalam tubuh pasien. Dengan teknologi endoskopi maka rongga cairan otak dapat dicapai dengan trauma kecil dan aman serta kita dapat melihat dengan jelas struktur rongga cairan otak di dalam otak. Selain itu usaha untuk menurunkan resiko infeksi dan penolakan oleh tubuh terhadap selang VP Shunt yang ditanam di dalam tubuh, maka tindakan ETV ini dikembangkan.

      Namun walau prosedur ETV ini sudah sangat baik dikembangkan untuk melebihi prosedur VP Shunt, masih ada beberapa kelemahan yang dimilikinya. Diantaranya adalah diperlukan pemilihan kasus yang spesifik untuk dilakukan tindakan ETV (tidak seperti pemasangan selang VP Shunt yang dapat dilakukan hampir pada semua kasus hidrosefalus), kemungkinan penutupan kembali dinding yang dibocorkan secara spontan yang cukup tinggi, dan resiko komplikasi perdarahan yang lebih tinggi dari VP shunt (dikarenakan struktur dinding rongga cairan otak yang dibocorkan sangat dekat dengan pembuluh darah-pembuluh darah otak).

      Kelebihan ETV sendiri dibandingkan VP Shunt adalah : 1. Tidak memerlukan penanaman alat selang VP shunt di dalam tubuh; 2. Resiko infeksi lebih rendah; 3. Tindakan ETV juga dapat digunakan untuk tujuan-tujuan lain, karena endoskopi yang sudah masuk ke dalam rongga cairan otak dapat melihat dengan jelas kelainan yang ada di dalam otak/rongga cairan otak.

      Oleh karena itu baik VP Shunt atau ETV memiliki keuntungan dan kerugian masing-masing.Prosedur-prosedur ini harus dipilih dengan benar oleh si ahli bedah saraf tergantung pada jenis kasus yang dihadapinya.

      Untuk kasus NPH, biasanya lebih baik menggunakan selang VP Shunt yang dapat diatur tekanannya secara manual. Hal ini dikarenakan NPH disebabkan oleh penyumbatan jalan cairan otak sesudah tempat yang biasanya dibocorkan oleh prosedur ETV. Sehingga usaha membocorkan jalan oleh ETV tidak terlalu bermanfaat.

      Untuk operasi VP Shunt dan ETV biayanya sangat tergantung oleh masing-masing rumah sakit. Harganya mungkin hampir serupa dikarenakan pada prosedur VP shunt diharuskan membeli selang VP Shunt, sedangkan pada ETV diperlukan biaya untuk penggunaan alat ETV. Pengetahuan saya biaya operasi ditambah alat berkisar antara 25 sampai 35 juta.

      Demikian informasi dari saya. Semoga dapat menambah informasi bagi ibu.
      Terima kasih.

      Hormat Saya

      Dokter Andra (Dr. M. Radhian Arief, SpBS)
      Neurosurgeon / Endovascular Neurosurgeon
      Staf Medik Departemen Bedah Saraf FKUI-RSCM

      Praktek :
      1. RS MEDISTRA jakarta (Kamis dan Sabtu, jam 18.00 s/d 20.00)
      2. RS OMNI PULO MAS Jakarta (Senin, Rabu dan Jumat, jam 18.00 s/d 20.00)
      3. RSCM / RSCM Kencana Jakarta (Senin s/d Jumat, jam 10.00 s/d 12.00)
      4. RS ISLAM PONDOK KOPI Jakarta (dengan perjanjian)

  4. Dokter.. saya memiliki keponakan usia 2th yang didiagnosa oleh dokter di salah satu rs di jakarta terkena penyempitan pembuluh darah di kepala dan juga tumor otak. tumor otak tersebut menyumbat aliran darah, sehingga adanya cairan yang ada di kepala atas yang menyebabkan kepala semakin membesar dan di daerah sekitar tumor. apakah dengan kondisi diatas harus dilakukan operasi dok? atau ada cara lain yang bisa dilakukan selain operasi. terima kasih sebelumnya dok..

    1. Ibu Ria yang terhormat
      Terima kasih sudah mengunjungi blog saya.

      Pertama-tama saya menyampaikan permohonan maaf saya karena baru bisa membalas surat ibu sekarang, dikarenakan kesibukan saya beberapa hari terakhir.

      Kalau boleh saya mengkoreksi, yang tersumbat bukan aliran darah oleh tumor tetapi aliran cairan otak sehingga mengakibatkan munculnya hidrosefalus. Saya rasa ukuran tumornya sudah relatif besar sehingga telah dapat menyumbat aliran cairan otak.

      Untuk ini, menurut saya tindakan terbaik dan satu-satunya adalah dengan operasi untuk mengalirkan cairan otak yang menumpuk dan juga operasi pengambilan jaringan tumor agar dapat diperiksa dan dibuang. Tidak ada obat-obatan yang mampu mengobati tumor atau cairan otak yang menumpuk (hidrosefalus). Tanpa tindakan operasi maka cairan otak yang menumpuk akan semakin banyak dan tekanan di dalam kepala akan semakin tinggi. Akibatnya kepala akan smakin besar dan semakin banyak jaringan otak yang rusak.

      Sedang untuk tumornya bila tidak dioperasi maka ukurannya juga akan semakin membesar dan semakin banyak jaringan otak sehat disekitar tumor yang tertekan dan terdesak oleh sel tumor dan kemudian rusak.

      Tindakan operasi dapat segera mengurangi tekanan di dalam kepala dan desakan kepada jaringan otak, sehingga usaha untuk menyelematkan jaringan otak akan semakin besar.
      Apakah ibu dapat mengirimkan saya gambar CT Scan kepala atau MRI kepala keponakan ibu untuk saya analisa lebih lanjut??

      Demikian dulu dari saya, semoga dapat membantu ibu. Semoga keponakan ibu diberikan kesehatan dan kebaikan.
      Terima kasih

      Hormat Saya

      Dokter Andra (Dr. M. Radhian Arief, SpBS)
      Neurosurgeon / Endovascular Neurosurgeon
      Staf Medik Departemen Bedah Saraf FKUI-RSCM
      Email : dr.andra.bs@gmail.com
      Twitter : @dokter_andra

      Praktek :
      1. RS MEDISTRA Jakarta
      2. RS OMNI PULO MAS Jakarta
      3. RSCM / RSCM Kencana Jakarta
      4. RS Islam Pondok Kopi Jakarta

  5. dokter…. ibu saya 60 thn mengalami serangan stroke yg k-4 dan kmrn operasi vp-shunt…
    serangan k-4 april 2012 lalu, sementara serangan k-3 maret 2007 ato 5 thn yg lalu…
    waktu serangan k-3 juga dsertai dg hidrosefalus tp atas ijinNya dg obat bisa luruh..
    kondisi beliau skrng bicara, makan, minum, dll masih seperti biasa, hanya terkendala saat latih berdiri ke jalan krn obesitasnya. dan kami masih melakukan fisioterapinya..
    klo dari yg kami amati longterm memory beliau hampir boleh dibilang tdk mengalami kerusakan hanya di shortterm memory sepertinya sering tumpang tindih…dan totality aktifitas masih di bed.
    kira-kira apa ya dokter yg harus keluarga lakukan agar kondisi stabil?
    serta menjaga kondisi selang yg terpasang…
    terimakasih utk waktuny, ditengah2 ksibukan dokter yg pasti super padat…

    1. Ibu Lisda yang terhormat
      Terima kasih sudah mengunjungi blog saya.
      Sebelumnya saya ingin menyampaikan permohonan maaf saya baru bisa membalas surat ibu sekarang.

      Stroke berulang bahkan sampai 4 kali menunjukkan bahwa faktor resiko stroke masih ada dan belum terkontrol dengan baik. Yang paling sulit dikendalikan adalah tekanan darah yang cenderung tinggi dan naik turun. Biasanya kesulitan terbesar adalah menjaga psikis dan emosional yang stabil serta menjaga agar rutinitas minum obat anti tekanan darah terus dilakukan tanpa pernah bolong sama sekali. Satu hal mengenai stroke berulang, adalah setiap serangan stroke berikutnya akan memberikan efek lebih berat dan lebih fatal daripada serangan stroke sebelumnya. Oleh karena itu semaksimal mungkin harus diusahakan untuk tidak terjadi serangan stroke berikutnya.

      Stroke yang kemudian mengakibatkan hidrosefalus menunjukkan bahwa perdarahan yang terjadi cukup banyak atau lokasi perdarahan cukup dalam sehingga mengakibatkan darah dapat masuk ke dalam rongga cairan otak yang selanjutnya mengakibatkan obstruksi atau mampetnya aliran cairan otak tersebut. Hal ini menyimpulkan bahwa stroke yang telah terjadi cukup berat. Untuk itu, kita harus sangat hati-hati agar tidak terjadi stroke berikutnya.

      Yang dapat keluarga lakukan adalah menjaga ibu agar selalu dalam kondisi yang stabil emosional dan statu fisiknya. Psikologi ibu tidak boleh terganggu dan keadaan fisik ibu harus terjaga dengan baik. Selain itu yang penting adalah menjaga agar ibu meminum obat anti tekanan darahnya dengan rutin. Ibu harus dibawakan kontrol secara teratur ke dokter untuk memeriksakan tekanan darah dan segala faktor resiko stroke yang mungkin ada.

      Untuk masalah selang VP Shunt, tidak diperlukan perawatan khusus. Selang VP Shunt terpasang dengan baik dan akan menyatu dengan jaringan tubuh. Yang perlu diperhatikan keluarga adalah bila selang VP Shunt macet atau tidak berfungsi yang berakibat hidrosefalus terjadi kembali. Perhatikan tanda-tanda terjadinya hidrosefalus seperti penurunan kesadaran, sakit kepala yang berat, kadang disertai rasa mual yang hebat serta muntah-muntah. Selain itu, awasi juga bila daerah kulit di atas selang, bila tampak berwarna merah maka menunjukkan adanya radang sebagai pertanda bahwa selang VP Shunt terinfeksi atau tidak cocok dengan tubuh ibu.

      Demikian dulu informasi yang bisa saya sampaikan. Semoga dapat membantu. Semoga ibu anda diberikan kebaikan dan kesehatan.
      Terima kasih.

      Hormat Saya

      Dokter Andra (Dr. M. Radhian Arief, SpBS)
      Neurosurgeon / Endovascular Neurosurgeon
      Staf Medik Departemen Bedah Saraf FKUI-RSCM
      Email : dr.andra.bs@gmail.com
      Twitter : @dokter_andra

      Saya dapat ditemui di :
      1. RS MEDISTRA Jakarta
      2. RS OMNI PULO MAS Jakarta
      3. RSCM / RSCM Kencana Jakarta
      4. RS Islam Pondok Kopi Jakarta

  6. assalamualaikum, dokter ibu saya 52 tahun dengan keluhan gak ada keseimbangan untk berjalan, tremor hebat dan sering sakit kepala, setelah diMRI hasilnya tumor fossa posterior, dan hidrosefalus, dokter menyarankan untuk shunting trus kemudian operasi pngngktn tumornya, pertnyan saya dok, untuk shunting itu kira2 dipertahankan sbrp lama, trus jarak AV shunt dngn pngngktn tumornya berapa lama,prognosis dan kemngkinan smbhnya berapa % post operasi, trm kasih dokter

    1. Ibu Nur yang terhormat
      Terima kasih sudah mengunjungi blog saya.

      Tumor fossa posterior dan hidrosefalus merupakan indikasi wajib untuk dilakukan tindakan operasi karena selain sangat membahayakan fungsi hidup bila tidak dioperasi, juga memberikan efek dan hasil yang sangat baik bila dioperasi. Kematian dan kecacatan permanen diakibatkan penekanan pada daerah batang otak atau akibat peningkatan tekanan di dalam kepala yang menjadi sangat tinggi.

      VP Shunt yang dipasang biasanya bersifat permanen, karena penutupan jalan aliran cairan otak (hidrosefalus) biasanya bersifat menetap dan sangat tergantung terhadap jalan pintas baru melalui selang VP Shunt. Namun anda tidak perlu khawatir, selang VP Shunt memang sudah dibuat untuk dipasang secara permanen, dan selang akan menyatu dengan tubuh.

      Yang ideal adalah pemasangan VP Shunt dan pengangkatan tumor dilakukan secara bersamaan dalam satu waktu. Bila dilakukan dalam satu waktu, akan sangat memudahkan dokter bedah saraf karena kontrol tekanan dalam kepala dengan VP Shunt sangat membantu dalam pengangkatan tumor. Namun dalam keadaan-keadaan tertentu, pemasangan VP Shunt dan pengangkatan massa tumor tidak dapat dilakukan, misalnya pada keadaan dimana hidrosefalus sangat mengancam sehingga harus dilakukan operasi pemasangan VP Shunt emergensi. Kondisi lain yang memaksa harus dilakukan VP Shunt dahulu adalah bila kondisi pasien terlalu lemah atau terlalu jelek sehingga sangat berbahaya untuk menjalani operasi pengangkatan tumor yang biasanya memakan waktu yang sangat lama.

      Prognosa dan kesembuhan sangat bergantung dengan jenis tumor yang ada pada ibu tersebut. Bila jenis tumornya adalah tumor jinak maka prognosa sangat baik. Hasil operasi pemasangan VP Shunt juga biasanya sangat baik dimana gejala pasien biasanya banyak berkurang.

      Demikian dulu dari saya, semoga dapat membantu.
      Terima kasih

      Hormat Saya

      Dokter Andra (Dr. M. Radhian Arief, SpBS)
      Neurosurgeon / Endovascular Neurosurgeon
      Staf Medik Departemen Bedah Saraf FKUI RSCM
      Email : dr.andra.bs@gmail.com
      Twitter : @dokter_andra

      Saya dapat ditemui di :
      1. RS MEDISTRA Jakarta
      2. RS OMNI PULO MAS Jakarta
      3. RSCM / RSCM KENCANA Jakarta
      4. RS Islam Pondok Kopi Jakarta

      1. Yth.dokter andra
        sy wanita berusia 29th.pd th 2007 mengalami kecelakaan,th 2009 ct scan dg hasil hidrosepalus obstruktif.wktu itu dsarankan operasi vp shunt tapi sy tkut krn mdengar beberapa orang yg hrus direvisi lg krn tjdi infeksi.keluhan sy tdk terlalu serius,semua normal2 sj,hanya sesekali sakit kepala yg tdk tlalu parah.beberapa hr yg lalu sy kontrol ct scan lg dan hasilx tertulis : pelebaran ventrikel lateral kanan-kiri simetris,ventrikel 3,tmpak kalsifikasi dominan (73 HU) pd thalamus kiri (ini apa maksudnya) ? Apa resiko yg hrus sy hdapi apbila tdk dioperasi? Seandainya sy memilih teknik ETV yg lbh aman dr resiko revisi,dmana sy bs melakukan operasi itu (sy tnggal dikota kecil palangkaraya yg alat rumah sakitnya blm lengkap)? Dan berapa biayanya?
        Terimakasih atas kesediaan dokter menjawab.

      2. Ami yang terhormat
        Terima kasih sudah mengunjungi blog saya.

        Sebelumnya saya ingin menyampaikan permohonan maaf saya karena baru dapat membalas tulisan anda saat ini dikarenakan kesibukan yang tidak dapat saya tinggalkan.

        Saya akan mencoba menjawab pertanyaan anda.

        1. Kalsifikasi pada thalamus sering sekali ditemukan pada pemeriksaan CT Scan. Anda tidak perlu buru-buru khawatir untuk hal ini karena kalsifikasi hanya menunjukkan adanya proses degenerasi pada jaringan otak. Thalamus merupakan salah satu bagian yang terpenting dari otak dan bila memang mengalami kerusakan maka gejala yang akan dialami adalah sangat berat, meliputi gangguan mendeteksi rasa hingga tidak sadarkan diri. Pada anda tidak ditemukan gejala-gejala tersebut.

        2. Menurut saya dengan kondisi anda saat ini, operasi perlu dipertimbangkan dengan matang. Gejala-gejala yang anda alami tidak berat, sehingga kemungkinan besar sirkulasi di dalam rongga cairan otak (ventrikel) masih berjalan walau mungkin tidak sempurna. Saran saya observasi saja terlebih dahulu dan bila memang gejala memberat serta kontrol CT Scan berikutnya menunjukkan ventrikel otak bertambah melebar maka barulah operasi perlu dilakukan.

        3. Teknik ETV dapat dilakukan oleh dokter bedah saraf manapun yang menguasai ilmu endoskopi dan di rumah sakit yang memiliki alat endoskopi bedah saraf. Teknik ETV ini tidak terlalu sulit dan memang sehrausnya lebih aman untuk pasien serta kita tidak memasang implan dalam tubuh pasien. Namun indikasinya harus benar-benar tepat karena bila tidak maka kemungkinan keberhasilannya sangat kecil. Bila anda berkenan, anda dapat bertemu dengan saya dan kita akan lakukan ETV pada anda (bila indikasinya tepat).

        4. Saya tidak mengetahui berapa biaya operasi ETV. Hal tersebut mungkin perlu anda tanyakan ke rumah sakit. Tetapi mungkin untuk perkiraan saja, paketnya sekitar 30 hingga 40 juta rupiah.

        Bila memungkinkan, saya ingin sekali melihat CT Scan kepala anda. Mohon dikirimkan ke email saya pada dr.andra.bs@gmail.com

        Demikian dulu dari saya, semoga dapat membantu anda.
        Terima kasih

        Hormat Saya

        Dr. M. Radhian Arief, SpBS (Dokter Andra)
        Neurosurgeon (Dokter Spesialis Bedah Saraf) / Endovascular Neurosurgeon (Neuro-Intervensi)
        Staf Medik Departemen Bedah Saraf FKUI-RSCM
        CEO PT. ALTERLOBE INDONESIA (www.alterlobe.com)
        Konsultan Pelayanan Kesehatan dan Rumah Sakit pada PT. QUALEX CONSULTING / QINOVEX (www.qinovex.com)

        Email : dr.andra.bs@gmail.com
        Twitter : @dokter_andra

        Saya dapat ditemui di :
        1. RS. MEDISTRA Jakarta
        2. RS. ANTAM MEDIKA Jakarta
        3. RS. JAKARTA HEART CENTER (JHC) Jakarta
        4. RS. ISLAM PONDOK KOPI Jakarta
        5. RS. OMNI PULO MAS Jakarta
        6. RS. DHARMAIS Jakarta.

  7. maaf dokter mau lanjut bertanya lagi, tentang kasus ibu saya, 52 tahun dgn tumor fossa posterior dengn hidrosefalus, saat ini sdh dilakukan vp shunt, lagi menunggu jadwal untuk dilakukan operasi pengangkatan tumornya. kemungkinan yang bisa terjadi setelah operasi apa saja dokter? apakah pasti akan meninggalkan gejala sisa? klo ia misalnya apa saja? seandainya jenis tumornya jinak apakah ibu saya masih ada kemngkinan ut bisa berjaln sendiri? saat ini ibu tidak bisa berjalan sendiri harus dipapah kiri dan kanan, dan klo tumornya ganas prognosisnya sprti apa? trm ksh dokter

    1. Ibu Nur yang terhormat

      Komplikasi operasi yang tersering pada tumor di serebelum adalah perdarahan saat dan pasca operasi. Selain itu resiko infeksi juga besar karena negara kita yang memang tidak bersih. Kerusakan serebelum dapat menyebabkan gangguan berupa kesulitan menjaga keseimbangan dan kesulitan mengatur koordinasi dari tangan. Pada keadaan yang terberat, maka dapat mengakibatkan gangguan menelan dan mudah tersedak.

      Adanya gejala sisa sangat tergantung dari besarnya tumor dan gejala yang sudah ada sebelum operasi. Tindakan operasi yang berat juga dapat merusak struktur serebelum sehingga menambah resiko kerusakan fungsi.

      Kemungkinan untuk jalan sendiri sangat bergantung sejauh mana massa tumor diambil dan motivasi serta kemauan ibu anda untuk pulih dan bisa berjalan kembali. Fisioterapi pasca operasi sangat diperlukan.

      Bila tumornya ganas maka prognosis akan menjadi jelek dengan angka bertahan atau lamanya hidup berdasarkan statistik sesuai dengan jenis tumor ganasnya.

      Demikian dulu dari saya, semoga dapat membantu ibu.

      Terima kasih

      Hormat Saya

      Dokter Andra (Dr. M. Radhian Arief, SpBS)
      Neurosurgeon / Endovascular Neurosurgeon
      Staf Medik Departemen Bedah Saraf FKUI RSCM.
      Email : dr.andra.bs@gmail.com
      Twitter : @dokter_andra

      Saya dapat ditemui di :
      1. RS MEDISTRA Jakarta
      2. RS OMNI PULO MAS Jakarta
      3. RSCM / RSCM KENCANA Jakarta
      4. RS Islam Pondok Kopi Jakarta

  8. dokter mau bertanya kembali, saat ini ibu sy sdh dilakukan remove tumor trnyata hasilnya kistik berisi cairan, tapi kok nda dilab hasilnya ut menegakkan diagnosis, apa emng gak perlu yang dokter hasilnya dilab klo berupa kistik? skg ibu saya tremornya bertambah hebat terutama dikepala, sebelmnya ya tremor juga tapi nda separah sprti skg ini setelah operasi. kira2 faktor penyebab tremornya itu apa ya dok? penangannya seperti apa? trima kasih dokter

    1. Ibu Nur yang terhormat

      Wah sepertinya masalahnya sedikit bertambah kompleks ya. Tumor dengan hasil kistik atau cairan memang sulit untuk dilakukan pemeriksaan jaringan tumor karena memang massa atau jaringan tumornya tidak ditemukan. Namun tetap saja bisa diperiksa cairan kistik tumor tersebut dengan harapan dapat melihat dan menganalisa sel-sel tumor yang mungkin larut di dalam cairan tersebut.

      Selain itu menurut pendapat saya setiap tumor pasti ada jaringan padatnya walau sedikit dan kecil. Karena jaringan padat tumor tersebut lah yang biasanya menghasilkan cairan kistik yang bisa dalam jumlah banyak itu. Idealnya operasinya adalah mengambil seluruh cairan kistik dan sebagian jaringan padat tumor.

      Otak kecil atau serebelum yang mengalami kerusakan juga dapat menimbulkan gangguan tremor. Sepertinya karena perubahan kondisi otak kecil pasca operasi membuat fungsinya agak bertambah terganggu dan tremor semakin memberat. Coba tanyakan kepada dokter bedah sarafnya mengenai hasil operasi. Apakah banyak jaringan otak kecil yang mengalami kerusakan? Sebab kadang tidak dapat dihindari operasi terpaksa harus merusak sebagia jaringan otak kecil. Penanganannya adalah dengan memberikan obat-obatan untuk mengurangi gejala tremor. Bila memungkinkan, lakukan pemeriksaan CT Scan kepala atau MRI kepala kontrol pasca operasi untuk mengevaluasi hasil operasi.

      Demikian dulu dari saya, semoga dapat membantu ibu.
      Terima kasih

      Hormat Saya
      Dokter Andra (Dr. M. Radhian Arief, SpBS)
      Neurosurgeon / Endovascular Neurosurgeon
      Staf Medik Departemen Bedah Saraf FKUI-RSCM
      Email : dr.andra.bs@gmail.com
      Twitter : @dokter_andra

      Saya dapat ditemui di :
      1. RS MEDISTRA Jakarta
      2. RS OMNI PULO MAS Jakarta
      3. RSCM / RSCM Kencana Jakarta
      4. RS Islam Pondok Kopi Jakarta

  9. Halo Dok,

    Saya ingin menanyakan kondisi ayah saya, 68th, beliau sedang dirawat dikarenakan pnenumonia/infeksi paru. Kemarin baru saja menjalani CT scan dan dr bedah syaraf menyatakan ayah terdiagnosa hydrocephalus. Karena kurang informasi kami tidak menanyakan apakah ini normal pressure hydrocephalus (NPH) atau yg lainnya. dr bedah syaraf menyarankan untuk operasi VP Shunt. Ayah saya juga terdiagnosa pompa jantung lemah pada saat masuk UGD seminggu yg lalu dikarenakan kurangnya oxygen yg masuk karena penyakit pnenumonia tadi. Tetapi masalah jantung lemah ini sepertinya sudah tidak menjadi masalah karena dr jantung menyatakan kondisi jantung ayah saya sudah normal kembali. Perlu diketahui bahwa ayah saya adalah penderita DM dan terdiagnosa Alzheimer yg menyebabkan dementia.

    Yang ingin saya tanyakan adalah :
    1. Apakah operasi VP shunt beresiko tinggi terhadap ayah saya, mengingat bahwa beliau adalah penderita DM, sedang perawatan untuk pnenumonia dan pernah terdiagnosa jantung yg lemah?
    2. Menurut penilaian dokter, resiko versus manfaat yg didapat dari operasi VP shunt ini lebih besar mana?
    3. Bagaimana untuk pemulihan pasca operasi VP shunt mengingat kondisi yg ayah saya sedang alami?
    4. Apakah dementia yg diderita ayah saya lebih banyak berkaitan dengan NPH daripada alzheimer? Perlu menjadi catatan sekitar 3 tahun yg lalu ayah saya menjalani scan MRI tetapi tidak terdapat penumpukan CSF, dan memang selama 3thn ini kondisi ayah saya terus menurun.

    Terima kasih sebelumnya atas jawaban dokter.

    1. Odi yang terhormat
      Terima kasih sudah mengunjungi blog saya.

      Sebelumnya saya ingin menyampaikan permohonan maaf saya karena baru membalas tulisan Odi saat ini.

      Saya akan mencoba menjawab pertanyaan Odi mengenai kondisi ayah Odi yang cukup kompleks penyakitnya.

      1. Adanya suatu penyakit sistemik seperti DM atau adanya penyakit infeksi seperti pneumonia atau penyakit jantung memang mememberikan faktor resikk terhadap tindakan operasi apapun termasuk operasi VP Shunt. Penyakit DM dapat mengakibatkan kemampuan pemulihan jaringan yang dioperasi menjadi sangat lambat dan sulit. Kondisi infeksi paru seperti pneumonia dan kondisi jantung yang lemah akan memberikan faktor resiko pembiusan untuk operasi. Namun semua ini harus dinilai dengan benar dan dinilai pula besar dari manfaatnya operasi. Selain itu kita dapat mempersiapkan kondisi ayah Odi seoptimal mungkin sebelun dan untuk operasi.

      2. Bila memang benar terdiagnosis hidrosefalus maka tindakan operasi merupakan kewajiban. Bila keadaan akibat hidrosefalusnya sangat mengancam dan membahayakan nyawanya maka tindakan VP Shunt harus dilakukan segera dengan berusaha secepat mungkin mengoptimalkan keadaan. Namun bila kondisi hidrosefalus tidak memberikan ancaman gejala yang berbahaya maka tindakan operasi dapat direncanakan setelah segala faktor resiko penyakit lain diatasi atau dikontrol.

      3. Tidak ada hal yang spesifik untuk pemulihan pasca operasi VP Shunt. Yang penting adalah asupan gizi dan nutrisi harus cukup, keadaan infeksi harus distabilkan atau dikontrol, dan ayah Odi harus segera menjalankan proses fidioterapi. Kadar gula darah harus dijaga dengan baik dan penyakit jantung juga dapat dikontrol.

      4. Alzheimer merupakan salah satu jenis demensia dengan ciri-ciri dan pembuktian yang khas kalau memang demensia tersebut adalah alzheimer. Keadaan NPH dapat mengakibatkan kerusakan pada otak dan fungsi-fungsi yang dikontrol oleh otak sehingga dapat menjadi faktor resiko atau faktor pemberat demensia dan alzheimer.

      Demikian dulu dari saya, semoga dapat membantu Odi. Semoga orangtua Odi diberikan kesehatan dan kebaikan.
      Terima kasih.

      Hormat Saya
      Dr. M. Radhian Arief, SpBS (Dokter Andra)
      Neurosurgeon / Endovascular Neurosurgeon
      Staf Medik Departemen Bedah Saraf FKUI-RSCM
      Email : dr.andra.bs@gmail.com
      Twitter : @dokter_andra

      Saya dapat ditemui di :
      1. RS MEDISTRA Jakarta
      2. RS OMNI PULO MAS Jakarta
      3. RS Islam Pondok Kopi Jakarta
      4. RSCM / RSCM Kencana Jakarta

  10. ia dokter sprtinya malah tambah komplek, parahnya lagi dok skg ibu saya terjadi gangguan kembali proses meneln, minum air putih 2 teguk saja langsng batuk hebat,.emang sblm operasi juga smpt sprti itu, tapi nda separah sekrng ini bahkan post op yg pertama (vp shunt) gangguan menelan itu smpt hilang ibu bisa makan dan minum dengan baik, tapi setelah op remove tumor nya, gangguan menelan kembali muncul terutama saat minum air. itu disebabkan karena apa ya dok? penangannya? terima kasih

    1. Ibu Nur yang terhormat

      Kemungkinan penyebab gejalanya bertambah berat pasca operasi adalah :
      1. Kerusakan yang terjadi akibat prosedur operasi
      2. Pembengkakan jaringan otak yang kemudian menenakan saraf yang mengatur fungsi menelan.

      Penanganannya cukup sulit. Bila disebabkan oleh pembengkakan maka harus diberikan terapi untuk mengurangi bengkaknya otak. Namun bila sudah mengalami kerusakan maka yang dapat dilakukan adalah fisioterapi untuk melatih kemampuan menelan. Hal ini tidak mudah dan membutuhkan waktu yang cukup lama. Yang penting harus hati-hati jangan sampai tersedak saat minum karena air bisa masuk ke dalam saluran nafas dan ini sangat membahayakan.

      Terima kasih

      Dokter Andra

  11. maaf dok masih ada pertanyaan lanjutan, hasil ct scan kontrol ibu saya post op tumor fossa posterior sdh ada,,tapi hasilnya kok sprtinya gak jauh beda dgn sblm operasi masih tampak lesi kistik dicerebellum,berbatas tegas dengan tepi reguler,:( , itu sbnrnya karena apa dok? apa emng klo berupa kistik sngt besar kmngkinan untuk residif? atau emang tindakan operasi sndiri yang sbnrnya gak maksimal, atau faktor lain yg kira2 mnjadi pnyebabnya apa ya dok? trm kasih

    1. Ibu Nur yang terhormat

      Bila memang masih terdapat cairan maka jaringan tumor penghasil cairan tersebut belum dapat diambil semuanya pada operasi terakhir.Jika memungkinkan, saya ingin sekali melihat hasil CT Scan terakhir setelah operasi dan sebelum operasi untuk dibandingkan. Bila ibu berkenan dapat menemui saya secara langsung di tempat saya berpraktek dengan membawa semua CT Scan yang ibu anda miliki, agar dapat saya lihat secara langsung.

      Demikian dulu dari saya, semoga dapat membantu ibu.
      Terima kasih

      Hormat Saya

      Dokter Andra (Dr. M. Radhian Arief, SpBS)
      Neurosurgeon / Endovascular Neurosurgeon
      Staf Medik Departemen Bedah Saraf FKUI-RSCM
      Email : dr.andra.bs@gmail.com
      Twitter : @dokter_andra

      Saya dapat ditemui di :
      1. RS MEDISTRA Jakarta
      2. RS OMNI PULO MAS Jakarta
      3. RS ISLAM PONDOK KOPI Jakarta
      4. RSCM / RSCM KENCANA Jakarta

  12. Yth dr Andra,
    Dok, ibu saya (74 th) terkena stroke tidk bisa menelan minum sekalipun sehingga sekarang dirawat di RS dgn dibantu NGT, Oksigen, kateter, mata tdk fokus, dan penurunan kesadaran, dari hasil ctscan ibu sy mengalami penumpukan cairan tubuh di otak, menurut dokter bedah syaraf harus dilakukan operasi pemasangan selang kateter permanen di tubuhnya untuk mengalirkan cairan dari otak ke tubuh bagian perut. Pertanyaan saya 1. apakah ada cara lain selain operasi misalnya dengan pemberian obat untuk mengurangi cairan di otak mengingat usia ibu sy, jantung yg lemah, tekanan darah turun naik, dan paru penuh slem krn dahak ga bisa/susah dikeluarkan walaupun sdh dibantu dgn inhalasi. 2. Seandaninya dilakukan operasi berapa lama pemulihan pasca operasi sampai beliau bisa siuman. 3. Apabila tidak dilakukan operasi sy sbg anak tdk memberikan pengobatan maksimal mengangat sikon kami. Atas penjelasan dari dokter sy ucapakan terimakasih

    1. Ibu Yuyu yang terhormat
      Terima kasih sudah mengunjungi blog saya.

      Sebelumnya saya ingin menyampaikan permohonan maaf karena baru bisa membalas tulisan ibu saat ini.
      Saya turut sedih mendengar apa yang dialami oleh orangtua ibu.
      Saya akan mencoba menjawab pertanyaan ibu.

      1. Pada kasus ibu anda yang mengalami hidrosefalus, menurut saya memang terapi satu-satunya adalah pemasangan selang VP Shunt. Karena tidak ada obat yang bisa mengeluarkan atau membuang cairan otak yang menumpuk di dalam otak tersebut. Sebagai tambahan informasi, ada obat yang daapt mengurangi produksi cairan otak, tetapi efeknya hanya mengurangi dan produksi tetap berjalan. Akibatnya tekanan di dalam kepala akan semakin tinggi dan mengakibatkan penekanan pada sel-sel otak yang akan membunuh sel-sel otak tersebut. Saya mengerti faktor resiko operasi akan semakin tinggi akibat kondisi ibu anda yang sudah berusia lanjut dan keadaan penyakit lainnya, namun hal ini bisa diminimalisir dengan melakukan pemeriksaan kesehatan ibu secara lengkap untuk persiapan operasi.

      2. Lamanya pemulihan pasca operasi sangat bergantung dari kondisi ibu anda sebelum operasi dan sejauh mana kerusakan otak yang sudah terjadi. Hal ini harus dievaluasi lebih lanjut oleh dokter bedah saraf nya. Yang akan menjadi penyebab lamanya pemulihan adalah kondisi pernafasan dan jantung yang tidak optimal.

      3. Pilihan terapi termasuk operasi adalah hak anda dan keluarga untuk menentukan. Saya rasa anda dan keluarga sudah melakukan segala hal yang paling maksimal untuk menolong ibu anda. Yang penting adalah kita melakukan usaha semaksimal mungkin sembari berdoa untuk yang terbaik bagi ibu anda.

      Demikian dulu dari saya, semoga dapat membantu ibu. Semoga ibu anda mendapatkan kesehatan dan kebaikan.
      Terima kasih

      Hormat Saya

      Dokter Andra (Dr. M. Radhian Arief, SpBS)
      Neurosurgeon / Endovascular Neurosurgeon
      Staf Medik Departemen Bedah Saraf FKUI-RSCM
      Email : dr.andra.bs@gmail.com
      Twitter : @dokter_andra

      Saya dapat ditemui di :
      1. RS MEDISTRA Jakarta
      2. RS OMNI PULO MAS Jakarta
      3. RS ISLAM PONDOK KOPI Jakarta
      4. RSCM / RSCM KENCANA Jakarta

  13. Assalamu’alaikum,
    berhubung kami berdomisili jauh dok tepatnya disulawesi tenggara,hasil ct scan ibu saya pre dan post op InsyaAllah saya kirim via email dokter, sampe skg ini ibu saya masih dirawat disalah satu RS dimakassar.terima kasih dokter

    1. Terima kasih kembali.

      Hormat Saya

      Dokter Andra (Dr. M. Radhian Arief, SpBS)
      Neurosurgeon / Endovascular Neurosurgeon
      Staf Medik Departemen Bedah Saraf FKUI-RSCM
      Email : dr.andra.bs@gmail.com
      Twitter : @dokter_andra

      Saya dapat ditemui di :
      1. RS MEDISTRA Jakarta
      2. RS OMNI PULO MAS Jakarta
      3. RS ISLAM PONDOK KOPI Jakarta
      4. RSCM / RSCM KENCANA Jakarta

  14. Dok, mau bertanya, untuk VP Shunt yang sudah dipasang dikepala, bagaimana mengeceknya supaya tau dalam kondisi baik atau tidak dan pemeriksaan rutin ke dokter untuk VP Shunt sebaiknya dilakukan per berapa bulan atau bagaimana Dok? Pemeriksaan VP shunt sendiri bisa melalui media apa Dok? Atau bisa dideteksi dari pemeriksaan dokter terhadap fisik pasien saja? Terima kasih.

    1. Ibu Angelina Imelda yang terhormat
      Terima kasih sudah mengunjungi blog saya.

      Sebelumnya saya ingin menyampaikan permohonan maaf saya karena baru dapat membalas tulisan anda saat ini.

      Untuk memastikan fungsi VP Shunt berjalan dengan baik atau tidak adalah berdasarkan gejala yang ada pada pasien, pemeriksaan fisik oleh dokter bedah saraf dan pemeriksaan pompa VP Shunt itu sendiri oleh dokter bedah saraf.

      Bila muncul gejala-gejala peningkatan tekanan di dalam kepala kembali seperti sakit kepala, mual, muntah, pembesaran ukuran kepala pada anak bayi, maka harus dicurigai bahwa fungsi VP Shunt terganggu. Bila anda menyaksikan hal ini, maka harus segera dicari pertolongan ke dokter bedah saraf khususnya.

      Pemeriksaan fisik yang dapat dilakukan oleh dokter bedah saraf adalah khususnya pengukuran ukuran lingkar kepala dan ketegangan ubun-ubun besar pada anak bayi. Selai itu dapat pula dilakukan pemeriksaan “funduskopi” pada mata untuk melihat apakah ada peningkatan tekanan di dalam kepala.

      Sedangkan pemeriksaan fungsi pompa HARUS dilakukan dan HANYA BOLEH dilakukan oleh dokter bedah saraf saja. Biasanya dokter bedah saraf akan mencoba menekan ringan pompa VP Shunt dan merasakan respon pompa. Melalui pemeriksaan ini dapat ditentukan apakah ada gangguan pada selang VP Shunt, baik selang pada bagian atas (di dalam kepala) atau selang bagian bawah (di dalam perut). Pemeriksaan ini dilakukan langsung oleh dokter bedah saraf sembari pemeriksaan fisik dilakukan.

      Demikian dulu dari saya, semoga dapat membantu anda.
      Terima kasih

      Hormat Saya

      Dr. M. Radhian Arief, SpBS (Dokter Andra)
      Neurosurgeon (Dokter Spesialis Bedah Saraf) / Endovascular Neurosurgeon (Neuro-Intervensi)
      Staf Medik FKUI
      CEO PT. ALTERLOBE INDONESIA (www.alterlobe.com)
      Konsultan Pelayanan Kesehatan dan Rumah Sakit pada PT. QUALEX CONSULTING / QINOVEX (www.qinovex.com)

      Email : dr.andra.bs@gmail.com
      Twitter : @dokter_andra

      Saya dapat ditemui di :

      1. RS. MEDISTRA Jakarta
      2. RS. OMNI PULO MAS Jakarta
      3. RS. JAKARTA HEART CENTER (JHC)
      4. RS. ANTAM MEDIKA Jakarta
      5. RS. ISLAM PONDOK KOPI Jakarta
      6. RS. DHARMAIS Jakarta

    1. Qiky yang terhormat
      Terima kasih sudah mengunjungi blog saya.

      Tidak ada hubungan langsung antara pemasangan VP Shunt dengan kejadian gagal nafas. Yang mungkin terjadi adalah bahwa pasca pemasangan VP Shunt terjadi perdarahan otak yang kemudian menyebabkan gangguan fungsi nafas.

      Salah satu komplikasi pemasangan VP Shunt adalah perdarahan otak dimana akibat pengaliran cairan otak yang terlalu hebat dan terlalu cepat oleh selang VP Shunt berakibat cairan di otak habis dan jaringan otak sendiri jatuh akibat tidak ada tahanan oleh cairan otak tersebut. Jatuhya otak mengakibatkan putusnya pembuluh-pembuluh darah di otak yang menyebabkan perdarahan otak.

      Demikian dulu dari saya, semoga dapat membantu anda.
      Terima kasih.

      Hormat Saya

      Dr. M. Radhian Arief, SpBS (Dokter Andra)
      Neurosurgeon (Dokter Spesialis Bedah Saraf) / Endovascular Neurosurgeon (Neuro-Intervensi)
      Staf Medik FKUI-RSCM
      CEO pada PT. ALTERLOBE INDONESIA (www.alterlobe.com)
      Konsultan Pelayanan Kesehatan dan Rumah Sakit pada PT. QUALEX CONSULTING / QINOVEX (www.qinovex.com)

      Email : dr.andra.bs@gmail.com
      Twitter : @dokter_andra

      Saya dapat ditemui di :
      1. RS. MEDISTRA Jakarta
      2. RS. ANTAM MEDIKA Jakarta
      3. RS. OMNI PULO MAS Jakarta
      4. RS. ISLAM PONDOK KOPI Jakarta
      5. RS. DHARMAIS Jakarta
      6. RS. RAWALUMBU Bekasi

  15. Mau tanya dokter.anak saya sekarang 1,9 tahun. di operasi pemasangan shunt pada umur 48 hari.satu bulan yang lalu anak saya tanpa demam mengalami step.pertama kali hanya beberpa detik.esoknya hampir 15 mnt. Dikasi obat valeptic.setelah mengkonsumsi valeptic satu minggu,kami hentikan karna BAB anak saya keras hampir 2 minggu. Setelah itu step nya kambuh lagi hingga dalam satu hari step berulang 7 kali.apa yang salah dengan anak saya dok?mohon penjelasannya.trimakasih.

    1. Ibu Destri yang terhormat
      Terima kasih sudah mengunjungi blog saya.

      Sebelumnya saya ingin menyampaikan permohonan maaf saya karena baru dapat membalas tulisan anda saat ini dikarenakan kesibukan yang tidak dapat saya tinggalkan.

      Ada hal penting yang perlu saya tanyakan dan saya ketahui sebelumnya. Apa indikasi pemasangan VP Shunt pada anak anda ya? Kenapa anak anda dipasang VP Shunt pada usia 48 hari…?? Penyakit apa yang dialaminya…??

      Kejang (step) yang dialami oleo anak anda saat ini mungkin berhubungan dengan penyakit awal yang dialami oleh anak anda. Apalagi kejangnya cukup sering frekuensinya saat ini, hingga 7x setiap harinya.

      Kejang merupakan suatu kondisi akibat gangguan pada listrik otak yang berjalan di permukaan otak. Segala sesuatu yang dapat mengganggu aliran listrik ini dapat mengakibatkan kejang (step). Adanya tekanan yang tinggi di dalam kepala akibat hidrosefalus , adanya infeksi pada permukaan otak, adanya perdarahan pada otak, atau hal-hal lain yang dapat mengiritasi dan menekan permukaan otak, dapat mengakibatkan kejang.

      Pada kasus yang sangat jarang, pasca pemasangan VP Shunt juga dapat mengakibatkan kejang. Pasca pemasangan VP Shunt, dapat terjadi perdarahan di bawah selaput otak akibat otak yang kempes terlalu cepat. Selain itu, pemasangan VP Shunt sendiri memerlukan sebagian kecil daerah otak ditembus oleh selang, yang juga dapat mengakibatkan kejang.

      Saran saya, pemeriksaan CT Scan kepala mungkin perlu diulang lagi untuk melihat masalah apa yang terjadi di dalam kepala anak anda. Segera kunjugi dokter anak anda untuk medapatkan terapi anti kejang yang adekuat. Kejang berulang memberikan efek yang sangat buruk bagi otak.

      Demikian dulu dari saya, semoga dapat membantu anda.
      Terima kasih

      Hormat Saya

      Dr. M. Radhian Arief, SpBS (Dokter Andra)
      Neurosurgeon (Dokter Spesialis Bedah Saraf) / Endovascular Neurosurgeon (Neuro-Intervensi)
      Staf Medik Departemen Bedah Saraf FKUI-RSCM
      CEO PT. ALTERLOBE INDONESIA (www.alterlobe.com)
      Konsultan Pelayanan Kesehatan dan Rumah Sakit pada PT. QUALEX CONSULTING / QINOVEX (www.qinovex.com)

      Email : dr.andra.bs@gmail.com
      Twitter : @dokter_andra

      Saya dapat ditemui di :
      1. RS. MEDISTRA Jakarta
      2. RS. ANTAM MEDIKA Jakarta
      3. RS. JAKARTA HEART CENTER (JHC) Jakarta
      4. RS. ISLAM PONDOK KOPI Jakarta
      5. RS. OMNI PULO MAS Jakarta
      6. RS. DHARMAIS Jakarta.

  16. pagi dokter………. sy punya anak umum 11 tahun dia menderita hydrocypalus sejak umur 2 tahun sering kejang dan sy cma bs kasih obat glaucon dan obat kejang juga herbal selama 10 tahun ini…… apa ada obat lain ya untuk mengurangi kejangxa selama sy belum mampu untuk membawax operasi…. tks

    1. Bapak/Ibu s1k3c1lq yang terhormat
      Terima kasih sudah mengunjungi blog saya.

      Sebelumya saya ingin menyampaikan permohonan maaf saya karena baru sekarang dapat membalas tulisan bapak dikarenakan kesibukan yang tidak dapat saya tinggalkan.

      Saya sangat bersimpati mengenai kondisi anak anda yang sudah sakit cukup lama. Saya juga sedih karena setelah sekian laa tidak dilakukan tindakan operasi sama sekali. Walau saya sangat mengerti bahwa faktor ekonomi sangat berpengaruh. Bagaimana kondisi anak anda sekarang….? Apakah dapat berjalan dan berbicara….??

      Pengobatan hidrosefalus adalah hanya dengan tindakan operasi. Tidak ada obat-obatan apapun yang dapat menyembuhkan hidrosefalus. Obat-obat seperti “Galucon” hanya membantu mengurangi produksi cairan otak saja, dan tidak membuat tumpukan cairan otak bisa berjalan lancar kembali. Dengan waktu yang sudah berjalan begitu lama, saya rasa sudah terjadi gangguan dan kerusakan yang cukup banyak pada jaringan otak anak anda. Keadaan kejang yang berulang juga merupakan akibat kerusakan otak yang sudah terjadi.

      Obat untuk kejang adalah anti kejang, dan dipilih anti kejang yang cocok baik jenis, dosis maupun kombinasinya bagi anak anda. Hal ini harus anda konsultasikan dengan dokter spesialis anak khususnya bagian saraf anak. Tetapi bila anak anda masih hidrosefalus, maka hal itu juga sebaiknya diterapi.

      Bila anda mengalami masalah dengan pembiayaan, anda bisa mencari surat jaminan kesehatan, seperti JAMKESMAS/JAMKESDA atau KJS (bila penduduk Jakarta). Selain itu juga banyak yayasan-yayasan yang mau membantu anak-anak dengan penderita hidrosefalus untuk pembiayaan operasi nya. Bila anda tertarik, saya akan mencoba mencarikannya juga.

      Demikian dulu dari saya, semoga embantu anda.
      Terima kasih.

      Hormat Saya

      Dr. M. Radhian Arief, SpBS (Dokter Andra)
      Neurosurgeon (Dokter Spesialis Bedah Saraf) / Endovascular Neurosurgeon (Neuro-Intervensi)
      Staf Medik Departemen Bedah Saraf FKUI-RSCM
      CEO PT. ALTERLOBE INDONESIA (www.alterlobe.com)
      Konsultan Pelayanan Kesehatan dan Rumah Sakit pada PT. QUALEX CONSULTING / QINOVEX (www.qinovex.com)

      Email : dr.andra.bs@gmail.com
      Twitter : @dokter_andra

      Saya dapat ditemui di :
      1. RS. MEDISTRA Jakarta
      2. RS. ANTAM MEDIKA Jakarta
      3. RS. JAKARTA HEART CENTER (JHC) Jakarta
      4. RS. ISLAM PONDOK KOPI Jakarta
      5. RS. OMNI PULO MAS Jakarta
      6. RS. DHARMAIS Jakarta.

  17. Halo Dok,

    Saya ingin menanyakan kondisi anak saya, 5 minggu. Kemarin sudah ke rumah sakit untuk melakukan USG, dan hasilnya dokter menganjurkan untuk CT scan atau MRI untuk pemeriksaan lebih lanjut.

    Yang ingin saya tanyakan adalah :
    1. CT Scan atau MRI yg lebih mempunyai resiko terendah dan keakuratan tertinggi
    2. Apakah operasi VP shunt beresiko tinggi terhadap anak saya, mengingat baru sekitar 5 minggu?
    3. Menurut penilaian dokter, resiko versus manfaat yg didapat dari operasi VP shunt ini lebih besar mana?
    4. Bagaimana untuk pemulihan pasca operasi VP shunt?
    5. Rekomendasi untuk operasi VP shunt dimana ya?

    Terima kasih sebelumnya atas jawaban dokter.

    1. Bapak Yoseph yang terhormat
      Terima kasih sudah mengunjungi blog saya.

      Sebelumnya saya ingin menyampaikan permohonan maaf karena baru sekarang dapat membalas tulisan bapak.

      Saya akan mencoba menjawab pertanyaan bapak.

      1. Keakuratan antara CT Scan dan MRI kepala tergantung apa yang ingin dilihat. CT Scan lebih akurat dalam mendeteksi perdarahan dan kelainan tulang serta adanya nanah/infeksi di dalam otak. Sedangkan MRI lebih akurat dalam mendeteksi kelainan seperti tumor atau pembuluh darah. Untuk resiko, mungkin MRI lebih aman karena hanya menggunakan tenaga magnet (elektromagnet) untuk pemeriksaannya sedangkan CT Scan menggunakan radiasi (X-Ray)

      2. Operasi VP Shunt bukanlah operasi besar, namun tetap memiliki resiko. Bila memang sudah terindikasi maka operasi VP Shunt jelas lebih besar manfaatnya dibandingkan dengan resikonya.

      3. Kembali, bila memang terindikasi maka manfaat operasi VP Shuunt jelas lebih besar daripada resikonya.

      4. Pemulihan pasca operasi VP Shunt tidak rumit dan tidak lama. Yang penting dipastikan tidak ada infeksi pada daerah selang VP Shunt. Komplikasi lain yang mungkin terjadi adalah perdarahan dan gangguan keseimbangan garam-garam tubuh. Hal ini biasanya dipantau pada hsri pertama hingga hari ke lima pasca operasi.

      5. VP Shunt dapat dilakukan dimana saja, asal ada dokter bedah saraf nya. Bila bapak berkenan juga dapat datang menemui saya di rumah sakit tempat saya bertugas.

      Demikian dari saya , semoga dapat membantu anda.
      Terima kasih

      Hormat Saya

      Dr. M. Radhian Arief, SpBS (Dokter Andra)
      Neurosurgeon (Dokter Spesialis Bedah Saraf) / Endovascular Neurosurgeon (Neuro-Intervensi)
      Staf Medik Departemen Bedah Saraf FKUI-RSCM
      CEO PT. ALTERLOBE INDONESIA (www.alterlobe.com)
      Konsultan Pelayanan Kesehatan dan Rumah Sakit pada PT. QUALEX CONSULTING / QINOVEX (www.qinovex.com)

      Email : dr.andra.bs@gmail.com
      Twitter : @dokter_andra

      Saya dapat ditemui di :
      1. RS. MEDISTRA Jakarta
      2. RS. ANTAM MEDIKA Jakarta
      3. RS. JAKARTA HEART CENTER (JHC) Jakarta
      4. RS. ISLAM PONDOK KOPI Jakarta
      5. RS. OMNI PULO MAS Jakarta
      6. RS. DHARMAIS Jakarta.

  18. Selamat malam Dokter.

    Maaf sebelumnya disini saja juga ingin bertanya dok.
    Adik saya telah terdiagnosa ALL sejak maret 2012, kondisinya dulu sempat koma selama 5 hari, kejang dan tidak sadar. Setelah di CT scan, dokter mengatakan ada cairan di otaknya (Hidrochepalus), tp Dr tsb mengatakan bahwa cairan itu sedikit, dan tidak perlu sampai operasi pemasangtan selang.

    Namun, sampai sekarang, adik saya masih saja kejang, walaupun dalam jarak yang agak jauh, misalnya dalam 1 bulan hanya 1 kali kejang, tapi selain itu mata kiri adik saya juga mengalami gangguan, rabun tapi hanya pada mata kirinya dan mata kanannya normal. Bola mata hitam di bagian mata kirinya juga agak naik ke atas.

    Saya mohon sekali bantuannya dok, bagaimana sebaiknya yang harus saya lakukan, ?
    Ibu dan bapak saya juga tidak melihat, dan saya berharap agar adik saya tidak sampai menjadi buta total seperti mereka.
    Sekarang adik saya (Sri Kardi) masih menjalani pengobatan kemoterapi di RSUP Sanglah, Bali.

    Saya mohon sekali bantuan penjelasan dari dokter mengenai masalah tsb.
    Terima kasih.

    1. Bapak Putu Yth.

      Terima kasih telah mengunjungi blog saya. Sebelumnya saya ingin menyampaikan permohonan maaf karena baru sekarang dapat membalas tulisan bapak.
      Leukemia merupakan suatu jenis kanker darah yang menurut saya sangat rumit. Rumit disini artinya bahwa sang penyakit beredar diseluruh tubuh si sakit karena berada dalam darah. Salah satu yang paling dikhawatirkan adalah keterlibatan organ otak.

      Karena dasar penyakit leukemia yang tersebar diseluruh pembuluh darah, maka sulit sekali menentukan letak kelainan yang pasti (dalam otaknya). Terjadinya penumpukan cairan di otak pada kasus leukemia dapat disebabkan oleh gangguan aliran sirkulasi pada sistem pembuluh darah karena dipenuhi sel kanker, atau karena sel kankernya sendiri telah menginfiltrasi (menembus) secara mikro pada struktur jaringan otak kemudian menyumbat aliran keluar cairan otak.

      Operasi untuk membuang cairan menurut saya belum tentu harus dilakukan bila indikasi tidak kuat. Indikasi yang kuat adalah adanya gejala peningkatan tekanan dalam kepala, seperti pingsan, mual dan muntah.
      Untuk masalah kejang pada adik anda, belum tentu disebabkan oleh cairan yang menumpuk. Karena pada kasus lain yang cukup banyak, kejang disebabkan oleh iritasi permukaan otak pasien leukemia akibat infiltrasi sel-sel kanker. Begitu pula dengan masalah gangguan penglihatan pada mata kiri serta kelainan posisi dan gerak bola mata, juga saya duga, disebabkan oleh infiltrasi sel kanker.

      Saran saya yang utama adalah; selesaikan kemoterapi untuk membunuh seluruh sel kanker dalam tubuh. Kemoterapi adalah pengobatan yang memang dutujukan untuk membunuh sel-sel kanker yang tersebar diseluruh tubuh. Selain itu, lakukan observasi ketat dan bila perlu, proses diagnosis lebih lanjut untuk masalah otak (lakukan pemeriksaan EEG untuk menilai sumber lokasi kejang di otak, bila mungkin lakukan CT Scan kepala secara serial untuk melihat apakah ada penambahan cairan otak yang menumpuk tersebut- bila cairan memang bertambah, disertai gejala peningkatan tekanan dalam kepala maka perlu operasi pembuangan cairan).

      Demikian dulu dari saya, semoga dapat membantu anda. Terima kasih.

      Hormat saya:
      dr. M. Radhian Arief, Sp. BS (dokter Andra)
      Neurosurgeon
      Staf Medik FKUI

      email: dr.andra.bs@gmail.com
      twitter: @dokter_andra

      saya dapat ditemui di:
      1. RS Medistra, Jakarta
      2. RS Antammedika, Jakarta
      3. RS Jakarta Heart Center
      4. RS Islam Pondok Kopi
      5. RS Kanker Dharmais

  19. malam dok….mau tanya nih dok??anak saya umur 1 bulan sudah terkena penyakit hedroshefalus saya di anjurkan untuk operasi pemasangan selang setelah umur 3 bulan….
    seharusny tndakan operasi lebih dini bukannya lebih baik dokter,,,menurut dokter andra apakah anjuran untuk melakukan tindakan operasi umur 3 bulan lebih baik…tolong penjelasan terima kasih………

    1. Bapak / Ibu Miftah yang terhormat
      Terima kasih sudah mengunjungi blog saya.

      Sebelumnya saya ingin menyampaikan permohonan maaf saya karena baru dapat membalas tulisan anda saat ini dikarenakan kesibukan yng tidak dapat saya tinggalkan.

      Berdasarkan keilmuan yang saya pelajari maka suatu hidrosefalus akut memerlukan tindakan operasi secepatnya atau sesegera mungkin. Untuk hidrosefalus pada bayi atau anak maka tindakan pemaangan VP Shunt juga sebaiknya dilakukan secepat mungkin bila indikasi operasi sudah tepat dan tidak ada kontraindikasi dalam tindakan operasi tersebut.

      Memang beberapa dokter anak dan dokter anastesi menganggap operasi yang aman untuk bayi atau anak-anak adalah bila usianya sudah 3 bulan atau lebih. Hal ini berhubungan dengan kematangan fungsi paru dan jantung yang sangat dipengaruhi oleh pembiusan nantinya. Namun bila ada hidrosefalus maka hal ini harus dikesampingkan dan hidrosefalus harus diatasi dengan segera. Yang dapat menunda atau menghentikan tindakan operasi untuk hidrosefalus adalah bila memang kondisi bayi atau anak begitu beratnya sehingga tindakan pembiusan dapat menyebabkan kematian atau ancaman kematian.

      Bagaimana kondisi anak anda sekarang….?? Apakah sudah dilakukan tindakan operasi….?? Dimanakah dirawat…??

      Demikian dulu dari saya, semoga dapat membantu anda.
      Terima kasih

      Hormat Saya

      Dr. M. Radhian Arief, SpBS (Dokter Andra)
      Dokter Spesialis Bedah Saraf (Neurosurgeon) / Endovascular Neurosurgeon (Neuro-Intervensi)
      Staf Medik Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (FKUI)
      CEO PT. ALTERLOBE INDONESIA (www.alterlobe.com)
      Konsultan Kesehatan dan Rumah Sakit pada PT. QUALEX CONSULTING / QINOVEX (www.qinovex.com)

      Email : dr.andra.bs@gmail.com
      Twitter : @dokter_andra

      Saya dapat ditemui di :
      1. RS. MEDISTRA Jakarta
      2. RS. ANTAM MEDIKA Jakarta
      3. RS. JAKARTA HEART CENTER (JHC)
      4. RS. ISLAM PONDOK KOPI Jakarta
      5. RS. DHARMAIS Jakarta

  20. Assalamualaikum dokter,dokter ibu saya sdh mengalami stroke k 2 pertama thun 2010,yg k2 tgl 25 agustus 2013 ini.pd saat itu lngsng dlakukan DSA dan dstand coil 2lbng,stelah itu dokter mnyampaikan bahwa msh ada cairan dselaput otak kanan,alhamdulillah atas izin اَللّهُ SWT,cairan trsebut brkurang,namun ibu saya terkena hydrocephalus,tp dokter menyarankan utk minum obat terlebih dahulu.krn melihat dari keadaan fisik ibu saya yg ada kemajuan.yg saya tanyakan apa bila nnti ibu sya harus dpasang selang resiko yg tinggi?dan berapa lama selang itu dpakai?trimakasih

    1. Ibu Santy Pujawati Yth

      Mohon maaf baru dapat membalas sekarang. Utamanya diakibatkan sering terjadi crash pada sistem wordpress ini, sehingga saat ini tim dokterandra.com sedang dalam proses untuk pindah platform demi kelancaran komunikasi dan aliran informasi.

      Bagaimana keadaan ibu anda sekarang? Saya harap sudah kembali sehat.
      Saya akan tetap menjawab pertanyaan ibu. Risiko pemasangan selang adalah infeksi dan perdarahan dibawah selaput otak. Namun efek samping ini biasanya dapat dicegah dengan memilih ukuran selang shunting yang baik, serta menjaga proses tindakan agar tetap steril. Risiko lainnya adalah perdarahan stroke ulang, bila koil yang dipasang tidak memenuhi rongga pembuluh darah yang abnormal tersebut.
      Selang biasanya dipakai permanen seumur hidup. Karena pada hidrosefalus yang diakibatkan oleh perdarahan biasanya pintu keluar cairan otak sudah tertutup permanen.
      Jika saya boleh tahu, dimana dilakukan tindakan DSA dan koil pada bulan Agustus lalu?

      Demikian dari saya, semoga dapat membantu anda.
      Terima kasih.
      dr. M. Radhian Arief, Sp. BS (dokter Andra)
      Spesialis Bedah Saraf – Ahli Neuro Endovaskular

      saya dapat ditemui dengan perjanjian di
      1. RS. Medistra
      2. RS. Jantung Jakarta (Jakarta Heart Center)
      3. RS. Kanker Dharmais
      4. RS. Antam Medika
      5. RS. Jakarta

  21. Selamat malam dok,

    Saya ingin konsultasi, saya punya ponakan umur 2 tahun, saat ini ponakan saya telah di pasang Vp Shunt sejak bulan Juli kemarin. Yang ingin saya tanyakan :

    1. Sebelum dipasang selang dia sering tiba2 kaget apabila terbangun dari tidurnya, namun kenapa setelah dipasang selang kagetnya makin menjadi2 yah dok terkadang sampai menangis kencang? Apa penyebabnya?

    2. Apakah selang ini harus seumur hidup dok? Ataukah ada kemungkinan bisa dilepas jika sewaktu2 dirasa tidak ada cairan yg berlebih di otak?

    3. Apa resikonya apabila selang dilepas?

    4. Sampai saat ini ponakan saya belum bisa jalan dan duduk, apakah ada hubungannya dgn penyakitnya dok??

    Terima kasih Dok..

    1. Bapak Avry S yang terhormat
      Terima kasih sudah mengunjungi blog saya.

      Sebelumnya saya ingin menyampaikan permohonan maaf saya karena baru dapat membalas tulisan bapak saat ini dikarenakan kesibukan yang tidak dapat saya tinggalkan.

      Saya akan mencoba menjawab pertanyaan-pertanyaan bapak :

      1. Kaget bangun dari tidur tidak harus berhubungan dengan pemasangan VP Shunt karena sudah ada sejak sebelum pemasangan. Peningkatan frekuensi kaget bisa disebabkan banyak hal, baik secara positif atau negatif. Pasca pemasangan VP Shunt, tekanan di dalam kepala turun sehingga umumnya tingkat kesadaran si anak semakin tinggi. Hal ini yang mungkin mengakibatkan semakin sering kaget atau terbangun. Selain itu mungkin bisa dicari tahu, apa penyebabnya sang anak mengalami hidrosefalus pada saat usia 2 tahun. Karena penyebabnya mungkin saja yang menimbulkan gejala-gejala yang dialami si anak.

      2. Selang memang dipasang permanen untuk seumur hidup karena biasanya hidrosefalus adalah penyakit yang tergantung sekali terhadap selang VP Shunt.

      3. Resikonya adalah terjadi kembali hidrosefalus (penumpukan cairan otak)

      4. Sangat mungkin iya. Hidrosefalus atau penyebab hidrosefalus sudah mengakibatkan gangguan pada fungsi otak sehingga tumbuh kembang anak akan terhambat.

      Demikian dulu dari saya, semoga dapat membantu anda.
      Terima kasih

      Hormat Saya

      Dr. M. Radhian Arief, SpBS (Dokter Andra)
      Neurosurgeon / Endovascular Neurosurgeon
      Staf Medik Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (FKUI) Jakarta
      Email : dr.andra.bs@gmail.com
      Twitter : @dokter_andra

      Saya dapat ditemui di :
      1. RS. MEDISTRA Jakarta
      2. RS. Jakarta Heart Center (JHC) Jakarta
      3. RS. ANTAM MEDIKA Jakarta
      4. RS. Islam Pondok Kopi Jakarta
      5. RS. DHARMAIS Jakarta
      5. RS. PELNI Jakarta

  22. apa perlu pemasangan vp shunt kedua? anak saya pada tahun 2009 lalu ada tumor di otaknya, karena saya menolak operasi remove tumor akhirnya saya hanya melakukan operasi vp shunt dan anak saya kembali hidup normal seperti biasa. tapi kemarin tgl 16 des dia pingsan. setelah melakukan ct scan dokter bedah menganjurkan vp shunt kedua padahal kata dokter bedah itu vp shuntnya masih berfungsi.

    1. Bapak Gani yang terhormat
      Terima kasih sudah mengunjungi blog saya.

      Sebelumnya saya ingin menyampaikan permohonan maaf saya karena baru dapat membalas tulisan bapak saat ini.

      Pemasangan selang VP Shunt kedua harus dengan alasan yang jelas dan benar. Pemasangan segala jenis implan atau alat ke dalam tubuh memerlukan pertimbangan yang matang dan harus benar-benar bermanfaat untuk pasien. Apakah dijelaskan oleh sang dokter kenapa harus dipasanga VP Shunt kedua padahal VP Shunt yang pertama masih berfungsi dengan baik…???

      Kenapa bapak menolak untuk dilakukan operasi pengangkatan massa tumor….? Dimanakah operasi dilaksanakan…??
      Bagaimana kondisi anak bapak sekarang….??

      Demikian dulu dari saya, semoga dapat membantu anda.
      Terima kasih

      Hormat Saya

      Dr. M. Radhian Arief, SpBS (Dokter Andra)
      Neurosurgeon / Endovascular Neurosurgeon
      Staf Medik Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (FKUI) Jakarta
      Email : dr.andra.bs@gmail.com
      Twitter : @dokter_andra

      Saya dapat ditemui di :
      1. RS. MEDISTRA Jakarta
      2. RS. Jakarta Heart Center (JHC) Jakarta
      3. RS. ANTAM MEDIKA Jakarta
      4. RS. Islam Pondok Kopi Jakarta
      5. RS. DHARMAIS Jakarta
      6. RS. PELNI Jakarta

  23. Dok, anak saya berusia 6 bulan ada kista fossa posterior. Dan sudah seminggu ini dilakukan pemasangan vp shunt. yang saya tanyakan setelah pemasangan shunt anak saya stiap hari muntah biasanya 2-3 kali per hari dan gampang tersedak. apakah itu ada hubungannya dgn pemasangan shunt?dan brapa lama muntah itu hilang? apakah itu karena anak saya adaptasi karena adanya benda asing ditubuhnya? bagaimana ciri adanya pendarahan di otak pada anak saya? bahayakah apabila anak saya sering muntah? apakah perlu direvisi? trima ksh

    1. Ibu Lisa yang terhormat
      Terima kasih sudah mengunjungi blog saya.

      Gejala muntah dan tersedak adalah petanda adanya penekanan pada fossa posterior, kemungkinan disebabkan oleh kista tersebut. VP Shunt biasanya dipasang untuk penyakit hidrosefalus (penumpukan cairan di rongga cairan otak). Untuk kista fossa posterior biasanya saya pasang juga selang ke kista tersebut untuk mengalirkan cairannya. Seharusnya pasca pemasangan VP Shunt dan selang pada kista fossa posterior, kista posterior akan berkurang sehingga gejala harusnya berkurang atau menghilang. Bila masih ada gejala muntah dan tersedak, maka harus dilihat apakah benar kista fossa posterior sudah teratasi atau belum. Lakukan pemeriksaan CT Scan atau MRI kepala kontrol untuk memastikannya.

      Adaptasi benda asing bukan dengan gejala muntah atau tersedak. Biasanya kalau pasien tidak bisa beradaptasi terhadap selang, maka akan muncul tanda kemerahan pada selang VP Shunt dan diserati tanda radang seperti demam atau bengkak.

      Ciri khas perdarahan tidak bisa dipastikan, bisa dengan penurunan kesadaran, ukuran kepala membesar, ubun-ubun besar yang tegang dan membonjol dan lain-lain. Hal ini harus diobservasi dengan jelas.

      Muntah yang berulang dan sering merupakan petanda ada sesuatu yang harus diperhatikan di dalam kepala atau tubuh. Segera lakukan penelusuran untuk mencari apa penyebab muntah-muntah tersebut. Bila selang VP Shunt mampet, maka revisi harus dilakukan dengan segera.

      Demikian dulu dari saya, semoga dapat membantu anda.
      Terima kasih

      Hormat Saya

      Dr. M. Radhian Arief, SpBS (Dokter Andra)
      Neurosurgeon / Endovascular Neurosurgeon
      Staf Medik Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (FKUI) Jakarta
      Email : dr.andra.bs@gmail.com
      Twitter : @dokter_andra

      Saya dapat ditemui di :
      1. RS. MEDISTRA Jakarta
      2. RS. Jakarta Heart Center (JHC) Jakarta
      3. RS. ANTAM MEDIKA Jakarta
      4. RS. Islam Pondok Kopi Jakarta
      5. RS. DHARMAIS Jakarta
      6. RS. PELNI Jakarta

  24. Ass Wr Wb,

    Dokter, 1 tahun yang lalu suami saya (23th) mengalami kecelakaan motor hebat, dia mengalami pendarahan di otak, pada hari yang sama suami saya di intruksikan untuk melakukan operasi guna mengeluarkan pendarahan di otaknya, alhamdulilah berhasil, 2 minggu kemudian suami saya di diagnosa ada cairan yang mengendap di parunya, dokter rumah sakit pun mengintrusikan untuk pemasangan selang ventilator di leher guna mengeluarkan dahag atau reaknya, selang itu dipakai hingga 1 bulan, 2 bulan kemudian suami saya di diagnosa ada cairan yang menghambat di kepalanya, sampai akhirnya tindakan oprasi pun harus segera di lakukan, dan suami saya masih dalam keadaan menggunakan selang ventilator di lehernya. Dokter RS tersebut melakukan pemasangan selang VP Shunt, yang selangnya di beli dari luar negri seharga 5,5 Jt.

    Pertanyaan saya :
    1. Apakah selang tersebut steril, karna kami sama sekali tidak diberi tahu bentuknya seperti apa ?
    2. Apa resiko terbesar untuk suami saya, pasalnya selang VP Shunt tersebut digunakan seumur hidup ?
    3. Apa yang harus kami lakukan untuk menghindari dari resiko tersebut ?
    4. Saat ini suami saya masih mengalami sulitnya menjaga keseimbangan tubuhnya, apakah selamanya akan seperti ini ?

    Saya sangat mencintai suami saya, terlebih anak pertama kami baru berusia 8 bulan, saya sangat menginginkan suami saya kembali normal seperti dulu lagi dok.

    Terimakasi atas perhatiannya

    1. Ibu Ekky yang terhormat
      Terima kasih sudah mengunjungi blog saya.

      Saya akan menjawab pertanyaan2 ibu :

      1. Selang tersebut steril dan dibuat dari zat silikon yang bisa diterima tubuh pada umumnya. Ukurannya relatif kecil dan berada di bawah kulit. Bagian selang yang atas masuk ke dalam rongga cairan otak, kemudian disambung dengan sebuah pompa yang berada di sebelah luar tulang tengkorak. Kemudian disambung kagi dengan selang panjang yang masuk ke dalam perut.
      2. Komplikasi pemasangan VP Shunt (lebih tepat disebut komplikasi dibandingkan resiko) adalah : perdarahan otak, infeksi yang dibawa karena pemasangan yang tidak steril, kerusakan otak, atau penolakan oleh badan terhadap selang pada kasus yang jarang.
      3. Tidak ada tindakan dari ibu atau keluarga untuk menghindari itu. Dokter bedah saraf harus melakukan pemasangan dengan baik serta kita berdoa semoga tubuh suami tidak menolak selang tersebut.
      4. Dimanakah letak perdarahannya pada waktu itu?? Apakah di otak kecil…?? Bila iya, maka gangguan keseimbangan mungkin akan sulit untuk pulih walaupun kemungkinan untuk pulih itu ada. Fisioterapi adalah latihan terbaik.

      Bagaimana kondisi suami ibu saat ini….?? Bila berkenan dapat menemui saya agar saya dapat memeriksa dengan lebih baik.

      Terima kasih

  25. Kepada Yth. Dokter Andra,

    Saya sangat bersyukur menemukan blog anda. Terima kasih untuk informasi yang sangat berguna di blog anda. Saya berusaha untuk tidak menanyakan hal-hal yang sudah dituliskan/dijawabkan di blog anda ini.

    Ayah saya, 75 tahun, sudah mengalami 7 kali stroke (itu pun yang terhitung!) dalam jangka waktu 25 tahun yang mengakibatkan lebih dari 1/3 otak beliau tersumbat al hasil beliau tidak dapat berbicara sejak 20 tahun lalu dan dengan keterbatasan2 fisik lainnya. Setelah stroke yang terakhir di akhir Desember 2015, beliau tidak dapat berjalan/berdiri seperti sebelumnya dan hanya ingin tidur sepanjang hari. Keluarga pun akhirnya membawa dia untuk scan otak dengan hasil yang menunjukkan beliau terkena hydrocephalus.

    Seperti yang anda tuliskan di blog ini juga, kami diajurkan untuk operasi sebagai jalan satu-satunya. Kami mengerti bahwa kondisi ayah harus di tes apakah beliau memungkinkan untuk operasi. Kami juga mengerti bahwa setiap operasi mempunyai risiko seperti komplikasi jantung, infeksi, tubuh menolak shunt tersebut, koma, dll.

    Namum ada 3 pertanyaan yang ingin saya mohon tanyakan ke dokter Andra :

    1 – Untuk orang selanjut usia ayah saya dengan kondisi yang seperti di atas (hampir “bedridden” walau bisa makan/minum/buang-air), apakah dokter Andra menganjurkan operasi?

    2 – Apa kemungkinan terburuk ayah apabila keluarga memutuskan untuk tidak membawa beliau untuk operasi?

    3 – Apakah operasi pemasangan shunt terbilang operasi “kecil” dimana banyak operasi sudah dilakukan di Indonesia dengan sukses?

    Terima kasih sebelumnya untuk jawaban dan perhatiaannya.

    Dengan hormat,
    Melany Sulaiman

    1. Ibu Melany yang terhormat. Terima kasih sudah mengunjungi blog saya.

      Kasus yang dialami ayah anda terbilang cukup banyak dan sering menjadi dilematis antara operasi atau tidak. Terus terang, mengingat usia ayah anda, jumlah serangan stroke yang terjadi serta kondisi ayah anda saat ini, bagi saya sendiri cenderung untuk tidak operasi. Yang sering disalahartikan pada pembacaan CT scan otak adalah apakah memang mengalami hidrosefalus atau tidak. Hidrosefalus adalah penumpukan cairan otak yang mengakibatkan efek penekanan pada otak atau meningkatnya tekanan di dalam kepala. Pada orang usia lanjut, apalagi sudah mengalami stroke berulang, sering sekali jaringan otak sudah mengalami degenerasi dan kemudian menciut (atrofi), sehingga rongga-rongga di dalam otak atau celah-celah otak menjadi relatif membesar. Hal ini disebut dengan atrofi otak, dan bukan hidrosefalus.

      Untuk menjawab pertanyaan anda :
      1. Saya tidak yakin ayah anda mengalami hidrosefalus. Kemungkinan lebih tepatnya adalah atrofi otak. Oleh karena itu saya menyarankan untuk tidak operasi lebih dahulu. Bila ada kesempatan, mungkin bisa menunjukkan CT scan ayah anda kepada saya.
      2. Bila memang bukan hidrosefalus dan hanya atrofi, maka tidak ada kemungkinan terburuk bila tidak dioperasi. Bahkan bila dilakukan operasi pada keadaan yang atrofi otak saja, maka akan lebih banyak komplikasi buruk yang akan terjadi seperti perdarahan otak dan infeksi.
      3. Tidak ada operasi kecil pada bedah saraf, walau operasi pemasangan VP shunt hanya memerlukan atau membuat luka yang kecil. Hampir semua RS di indonesia yang ada dokter bedah saraf nya dapat melakukan pemasanga VP shunt. Bila indikasinya benar maka angka keberhasilan operasi akan semakin tinggi.

      Terima kasih

Bagaimana menurut anda, ada komentar?

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s