Semua tulisan dari dokterandra

seorang dokter bedah saraf muda, kompeten tindakan bedah endovaskular. penyuka musik dan travelling, pemain keyboard dan seorang suami.

Hati-hati terhadap benturan kecil di kepala pada orang lanjut usia dan bayi….

Saya ingin menyampaikan suatu keadaan dan fakta yang banyak saya terima pada pasien-pasien saya khususnya pasien-pasien usia lanjut dan bayi. Sering sekali saya mendapatkan pasien-pasien usia lanjut atau bayi yang mengalami perdarahan di dalam kepala (perdarahan subdural) dengan kondisi biasanya lemas, penurunan kesadaran atau adanya kelumpuhan sesisi tubuh. Bahkan beberapa pasien tiba-tiba kehilangan kemampuan berbicara atau mengalami kejang. Bila saya tanyakan kepada pasien atau keluarga, apakah pasien sebelumnya pernah mengalami kecelakaan atau benturan pada kepala, biasanya dijawab tidak tahu atau tidak pernah. Namun saat saya lebih dalam bertanya dan mencoba mengajak keluarga untuk mengingat lebih baik maka baru diketahui cerita sebenarnya tentang adanya trauma kepala sebelumnya. Alasan yang menyebabkan keluarga atau pasien sendiri tidak ingat adanya riwayat benturan pada kepala adalah karena umumnya benturan tersebut sangat ringan dan bahkan tidak dianggap oleh pasien atau keluarga. Trauma kepala ringan seperti kepala terbentur meja atau kursi, kepala terbentur atap mobil sering sekali tidak diingat oleh setiap orang karena bersifat ringan, gejala hanya nyeri sebentar dan kemudian hilang dengan sendirinya. Namun setelah beberapa minggu atau beberapa bulan bahkan, baru pasien merasakan ada gejala yang timbul secara progresif. RIngannya trauma kepala dan jarak yang cukup lama antara kejadian trauma kepala dengan gejala yang pertama kali muncul mengakibatkan setiap orang bahkan mungkin dokter tidak memikirkan hubungan kedua kejadian ini. Padahal truma kepala ringan itulah awal dan penyebab kejadian perdarahan di kepala yang dapat berakibat fatal tersebut.

Perdarahan subdural (subdural hematom; SDH) adalah suatu perdarahan yang terjadi di antara otak dengan lapisan pembungkus otak (duramater). Perdarahan ini disebabkan robeknya pembuluh darah balik (vena) yang terletak di antara otak dan lapisan pembungkus otak atau robeknya pembuluh darah nadi (arteri) yang terletak di permukaan otak. Perdarahan biasanya bertambah sedikit demi sedikit sehingga gejala yang timbul pertama kali setelah beberapa minggu atau bahkan beberapa bulan pasca trauma kepala. Gejala yang tersering berupa sakit kepala, kejang, kelemahan anggota gerak dan kesulitan berbicara.

Secara rutin saya selalu mendapatkan dan melakukan tindakan operasi pada pasien-pasien usia lanjut dan bayi tersebut setiap bulannya. Jumlahnya juga tidak sedikit yaitu sekitar 2 sampai 3 setiap bulan. Tindakan operatifnya juga tidak terlampau sulit dan tidak terlalu membutuhkan waktu yang lama. Tindakan yang kita lakukan berupa membuat satu atau dua buah lubang untuk kemudian mengalirkan darah tersebut keluar sekaligus membilas dengan menggunakan cairan fisiologis yang steril. Selanjutnya saya cenderung meninggalkan sebuah selang “drain” untuk mengeluarkan sisa-sisa darah selama perawatan di rumah sakit. Hasil dari operasi juga sangat memuaskan, Umumnya keluhan yang dirasakan sebelum operasi akan segera atau berangsur-angsur berkurang. Sakit kepala akan menghilang dan kelemahan anggota gerak serta gangguan bicara akan membaik. Gejala kejang masih mungkin terjadi namun hal ini harus diterapi juga dengan obat-obatan. Pasien biasanya akan pulang ke rumah pada hari ke 5 pasca operasi dengan keadaan yang sangat baik. Temuan saya pada saat pasien-pasien tersebut kontrol setelah pulang adalah seluruh gejala sebelumnya yang dirasakan berkurang bahkan menghilang.

Yang saya sampaikan di atas adalah cerita baik dari suatu kejadian perdarahan subdural. Ada juga beberapa kasus yang menolak tindakan operasi karena merasa gejala tidak terlalu serius. Namun setelah beberapa waktu tiba-tiba kondisi pasien sangat menurun dan jatuh dalam keadaan yang bergantung pada alat bantu nafas serta kesadaran yang sangat jelek. Hal ini akan semakin sulit ditolong walau dengan tindakan operasi sekalipun. Ada juga pasien-pasien yang menolak tindakan operasi dan kemudian mengalami perburukan keluhan kejang sehingga sulit untuk dikontrol. Semua ini terjadi karena penundaan tindakan operasi pada perdarahan subdural tersebut. Gejaa defisit neurologis dapat menjadi permanen.

Sebagai kesimpulan, bila anda mempunyai orangtua atau anak kecil/bayi dengan gejala-gejala seperti diatas dan dengan riwayat trauma yang tidak jelas, segera lakukan pemeriksaan termasuk CT Scan kepala. Segeralah mendapatkan pertolongan medis dari dokter khususnya dokter bedah saraf untuk membuang darah yang ada. Tindakan yang diberikan dengan cepat akan membuahkan hasil yang sangat baik tanpa ada kecacatan lebih lanjut.

Iklan

“Tanda Tanya” seputar stroke….(pertanyaan-pertanyaan tersering mengenai stroke)

Selama saya menjadi seorang ahli bedah saraf, tidak sedikit pasien, keluarga pasien atau siapapun juga menanyakan beberapa hal tentang stroke. Dalam beberapa kali kesempatan saya memberikan kuliah, pidato atau presentasi tentang stroke khususnya ke masyarakat awam, saya selalu diserbu dengan banyak pertanyaan seputar penyakit yang kompleks dan mematikan ini. Tidak terhitung telah berapa banyak saya mendapatkan pertanyaan-pertanyaan yang sama dan saya memberikan jawaban yang secara prinsip juga sama. Untuk kesempatan kali ini, saya akan memaparkan beberapa pertanyaan yang palin sering saya terima dan saya jawab.

1. Apa sebenarnya faktor resiko terpenting yang dapat mengakibatkan stroke…???

Jawab : Secara umum faktor resiko stroke terbagi dua, yaitu faktor yang tidak dapat dipengaruhi (seperti usia tua, riwayat stroke sebelumnya, berbagai penyakit yang dapat menyebabkan stroke seperti kelainan pembuluh darah otak, dan lain-lain); dan faktor yang dapat dipengaruhi (seperti tekanan darah tinggi, penyakit gula, kolesterol tinggi, berat badan berlebih/obesitas, psikis/emosi, dan lain-lain). Namun bila kita perhatikan dengan benar dan teliti, ternyata salah satu faktor yang tersebut di atas merupakan faktor yang paling penting mengakibatkan stroke. Yang manakah itu…??

Untuk anda yang mungkin sudah pernah terserang stroke atau ada keluarga/teman anda yang mengalami stroke, bila kita perhatikan dan coba ingat, umumnya stroke terjadi pada kondisi-kondisi atau saat-saat dimana seseorang sedang terbangun dari tidur, sedang menonton televisi, sedang berolahraga, sedang bekerja/beraktifitas yang berlebihan/terlalu bersemangat, sedang marah, atau sedang terlalu letih/lelah. Pertanyaannya adalah kenapa stroke terjadi pada situasi-situasi tersebut…?? Jawabannya adalah pada saat melakukan kegiatan-kegiatan di atas, terdapat perubahan tekanan darah secara drastis (meningkat secara tiba-tiba) dari nilai normal yang biasa dimiliki seseorang. Apa yang menyebabkan perubahan tekanan darah secara tiba-tiba itu? Jawabannya adalah kondisi psikis dan emosional seseorang yang berubah. Semua kegiatan di atas menuntut perubahan emosional kita sehingga memicu tekanan darah untuk meningkat secara drastis. Inilah yang kemudian akan menjadi resiko terbesar terjadinya stroke.

Beberapa percobaan pengukuran tekanan darah terhadap para petani di pedesaan menunjukkan hasil yang mencengangkan dimana rata-rata tekanan darah mereka adalah 210/120 mmHg (padahal nilai normal tekanan darah yang optimal adalah 120/80 mmHg). Namun kenapa angka kejadian stroke sangat kecil pada komunitas petani dengan tekanan darah yang sangat tinggi ini? Jawabnya karena tekanan darah yang tinggi terus menerus dan cenderung stabil “bukan” merupakan faktor pencetus stroke yang signifikan. Perubahan tekanan darah secara drastis dan tiba-tibalah yang merupakan faktor pencetus utama. Disini, emosional dan psikis berpengaruh terbesar terhadap perubahan tekanan darah tersebut.

2. Bagaimana sebenarnya terapi stroke…?? Berapa lama onset stroke sejak serangan masih dapat diobati/diterapi…??

Jawab : Pada saat stroke terjadi, jaringan otak dalam kondisi terancam tidak mendapatkan pasokan darah yang berisi oksigen dan zat makanan. Hal ini terjadi baik pada stroke sumbatan (akibat tersumbatnya pembuluh darah) atau stroke berdarah (pecahnya pembuluh darah). Keadaan ini akan mengancam kematian sel-sel otak yang cenderung untuk meluas. Terapi yang harus dilakukan adalah untuk sesegera mungkin membuka sumbatan pada stroke sumbatan (stroke iskemik) dan membuang darah pada stroke berdarah (stroke hemorrhagik) dengan cara operasi.

Waktu toleransi yang diberikan oleh sel-sel otak yang terancam kematian tidaklah lama, yaitu hanya sekitar 3 – 8 jam saja sejak onset serangan (khususnya untuk stroke iskemik). Sehingga pada durasi waktu tersebut, pertolongan harus segera diberikan untuk sesegera mungkin dibuka sumbatan yang terjadi. Bila telah melewati waktu toleransi tersebut maka kemungkinan untuk pemulihan sangatlah minimal. Terapi yang dapat dilakukan adalah dengan prosedur endovaskuler (kateterisasi dan rekanalisasi pembuluh darah yang tersumbat). Sedangkan untuk stroke berdarah, maka belum ada data pasti berapa lama toleransi sel-sel otak terhadap penekanan oleh darah yang keluar akibatnya pembuluh darah. Beberapa penelitian mengatakan bahwa bila darah segera dikeluarkan dan dibuang, maka akan segera pula menurunkan tekanan di dalam kepala sehingga aliran darah ke otak juga semakin baik. Tindakannya berupa bedah saraf dengan berbagai macam teknik.

3. Apakah setelah dilakukan tindakan operasi atau prosedur lainnya pasien kemudian sembuh?

Jawab : Pemulihan pasien stroke sangat bergantung dengan kondisi keadaan pasien sebelum tindakan operasi. Bila kondisi pasien lebih baik dan kelumpuhan tidak terlalu berat maka kemungkinan pemulihan lebih cepat dan lebih baik. Namun bila kondisi sebelum operasi sangat buruk maka kemungkinan pemulihan sangat kecil dan membutuhkan waktu yang lama. Selain itu yang mempengaruhi kesembuhan dan pemulihan adalah lamanya pasien mendapatkan terapi dan tindakan operasi sejak onset stroke terjadi. Bila tindakan penyelamatan sel-sel saraf dilakukan sedini mungkin (kurang dari 3 jam) maka kemungkinan pemulihan menjadi lebih baik. Hal ini berlaku sebaliknya bila tindakan atau operasi dilakukan setelah 3 jam atau bahkan setelah 24 jam, maka hasil tindakan kemungkinan tidak bisa maksimal.

Tindakan operasi pada prinsipnya adalah untuk menyelamatkan pasien dari ancaman jiwa akibat serangan stroke sehingga bila indikasi operasi sudah ditegakkan maka biasanya seorang dokter bedah saraf akan menawarkan tindakan operasi. Hal dikarenakan usaha menyelamatkan nyawa dan fungsi merupakan suatu prioritas utama.

Selain tindakan operasi, maka terapi stroke yang vital termasuk fisioterapi dan rehabilitasi fisik. Motivasi kepada pasien untuk melakukan latihan fisik untuk se-optimal mungkin mengembalikan fungsi tubuh adalah hal yang sangat penting pada penderita stroke pasca terapi atau tindakan operasi. Bia usaha pasien maksimal dalam melatih diri maka usaha pemulihan jelas akan semakin baik.

4. Bagaimana dengan cerita tentang terapi tusuk ujung jari yang dikatakan dapat mengeluarkan darah stroke dari otak? Apakah benar adanya?

Jawab : Secara ilmu medis yang saya ketahui, tidak ada terapi tusuk ujung jari yang dapat mengeluarkan darah stroke dari dalam otak. Memang saya mendengar banyak cerita dari para pasien tentang terapi ini, namun menurut saya hal ini tidak mungkin dilakukan, sebab tidak ada hubungan antara sirkulasi darah di ujung jari dengan darah yang keluar di dalam otak. Darah di otak akibat stroke hanya dapat dikeluarkan dengan tindakan operasi bedah saraf. Berbagai teknik dan cara operasi bedah saraf tersedia tergantung kondisi pasien dan peralatan yang tersedia. Begitu juga dengan stroke sumbatan, tindakan yang dilakukan adalah dengan intervensi endovaskuler yang dapat dilakukan oleh seorang ahli bedah saraf atau neurologi.

Ilmu tusuk jarum yang saya kenal dan memang ada dalam dunia kedokteran adalah akupunktur. Namun akupunktur disini berguna untuk membantu proses rehabilitasi setelah tindakan operasi dilakukan. Selain fisioterapi maka akupunktur juga menjadi pilihan dalam mempercepat pemulihan pasien pasca stroke.

5. Bagaimana dengan teknik “Brain Wash” untuk stroke yang banyak terdengar akhir-akhir ini?

Jawab : Teknik “Brain Wash” mulai banyak terdengar 2 tahun terakhir yang dikatakan dapat menyembuhkan stroke. Sesungguhnya teknik “Brain Wash” adalah teknik intervensi endovaskuler yang dapat dilakukan untuk melepaskan sumbatan pembuluh darah atau menutup pembuluh darah yang anomali bentuknya. Teknik ini semakin banyak digunakan karena sifatnya yang “minimal invasif” sehingga pasien tidak memerlukan perawatan yang lama. Dengan teknik ini, khususnya untuk stroke sumbatan, diharapkan dapat melepaskan sumbatan sehingga aliran darah otak dapat berjalan kembali.

Namun perlu diperhatikan dengan benar dan jelas bahwa jaringan otak yang sudah mati akibat tidak mendapatkan suplai darah karena adanya stroke, hanya mempunyai waktu yang relatif sangat pendek untuk diselamatkan agar dapat pulih kembali. Bila tindakan dilakukan setelah melewati masa waktu toleransi (“Golden Hour”), maka tindakan intervensi endovaskuler tidak dapat memberikan hasil yang baik atau yang diharapkan. Waktu toleransi otak untuk dapat diselamatkan sebelum kerusakan permanen hanyalah sekitar 8 jam. Setelah itu maka kerusakan otak permanen sudah terjadi dan tindakan endovaskuler/brain wash kemungkinan besar tidak dapat membantu.

6. Apakah serangan stroke bisa dianggap akhir dari segalanya?

Jawab : Walaupun stroke dianggap penyakit yang sangat mematikan (seperti penyakit serangan jantung) namun bila ditatalaksana sesegera mungkin pasca serangan maka kemungkinan untuk mendapatkan pemulihan lebih besar. Tindakan operatif dan intervensi masih berperan sangat besar dalam tatalaksana stroke. Selain itu semangat dan motivasi pasien untuk sembuh serta kesabaran keluarga untuk merawat adalah hal yang vital pula.

“Perdarahan Epidural” di dalam kepala…”the silent killer”…!!

Kejadian trauma kepala saat ini semakin banyak akibat tingginya angka kecelakaan lalu lintas serta ketidakamanan suasana kerja yang beresiko tinggi, misalnya pada pekerjaan buruh pembangunan dan lain-lain.Kelalaian dalam mentaati peraturan lalu lintas ditambah dengan semakin majunya teknologi kenderaan bermotor menyebabkan selain kejadian trauma kepala meningkat juga disertai dengan ‘impact” yang tinggi pada kepala dan otak.Akibatnya terjadilah perdarahan hebat pada otak atau pembengkakan otak.Gejala yang tampak biasanya sangat jelas, seperti luka di kepala, penurunan kesadaran atau gejala-gejala kelumpuhan lainnya. Namun diantara jenis perdarahan otak yang mungkin terjadi, terdapat suatu jenis perdarahan otak yang kadang tidak terdeteksi dan mematikan.Perdarahan itu disebut dengan perdarahan epidural atau “Epidural hematoma (EDH)”.

Perdarahan epidural atau kita singkat dengan EDH adalah perdarahan yang terjadi di antara selaput pembungkus otak (duramater) dan tulang kepala. Perdarahan ini terjadi akibat retaknya tulang kepala pada trauma kepala yang selanjutnya retakan tulang itu akan menjadi sumber perdarahan atau dapat pula mencederai pembuluh darah yang berada di selaput pembungkus otak tersebut. Darah kemudian akan berkumpul dan bertambah banyak baik secara perlahan-lahan atau dalam tempo yang singkat. Pada awalnya dimana jumlah darah masih sangat sedikit, mungkin penderita tidak merasakan suatu keluhan yang berat atau berarti sehingga sering diabaikan. namun bila jumlah perdarahannya sudah cukup banyak maka dampaknya sangat berat hingga kematian.

Dalam kesempatan ini saya ingin bercerita mengenai salah satu pengalaman saya berkaitan dengan perdarahan epidural yang saya alami semasa saya masih menjalani pendidikan untuk menjadi seorang dokter spesialis bedah saraf. Di suatu malam dimana saya sedang bertugas jaga malam di sebuah rumah sakit pemerintah terbesar di indonesia, saya mendapat panggilan dari unit gawat darurat yang mengatakan bahwa ada pasien yang mengalami trauma kepala akibat kecelakaan lalu lintas. Segera saya bergegas ke unit gawat darurat untuk menemui dan memeriksa pasien. Ternyata saya menemukan seorang kakak dan adiknya yang baru saja mengalami kecelakaan lalu lintas saat mereka sedang mengendarai sepeda motor. Keduanya tidak memakai helm dan diserempet oleh sebuah mobil minibus yang melaju dengan cepat. Keduanya kemudian terlempar dan terhempas ke kerasnya aspal di jalan. Saya asumsikan telah terjadi benturan kepala dengan aspal baik pada si kakak maupun si adik dari memar yang ada di kepala mereka masing-masing. Namun kondisi saat itu, si adik dalam keadaan tidak sadar dan sepertinya kondisinya darurat. Sedangkan sang kakak terlihat sadar penuh dan terus memegang lengan adiknya sambil menangis, walau terdapat memar di kepalanya juga. Keduanya diantar oleh orangtua mereka ke rumah sakit.

Si adik kemudian dilakukan pemeriksaan lengkap termasuk CT Scan kepala. Hasilnya menunjukkan adanya perdarahan otak yang minimal namun pembengkakan otak yang hebat di sisi kanan, sehingga kemudian saya menyarankan untuk dioperasi segera untuk pengangkatan darah dan memberikan ruang bagi otak yang bengkak. Orangtua setuju untuk dilakukan tindakan operasi. Kemudian saya menawarkan kepada si kakak untuk diperiksa lebih dalam dengan melakukan pemeriksaan CT Scan kepala. Namun si kakak menolak dan begitu pula dengan orangtuanya melihat kondisi kakaknya yang baik-baik saja.Surat penolakan tindakan diagnostik lebih lanjut pun ditandatangani oleh orangtua. Dalam kesempatan itu saya tetap memberikan edukasi agar si kakak perlu diobservasi dengan ketat setidaknya untuk 24 jam pertama pasca kecelakaan. Kembali orangtua memilih untuk membawa sang kakak pulang ke rumah. Si adik kemudian menjalani operasi bedah saraf. Operasi berjalan dengan baik dan kemudian pasca operasi dirawat di ruang rawat intensif. Kelihatannya perbaikan mulai terlihat dan sang adik mulai siuman.

Keesokan paginya, saat saya akan pulang ke rumah sehabis dinas malam, saya kembali mendapatkan panggilan dari unit gawat darurat yang menyatakan ada pasien yang mengalami trauma kepala kembali. Dikatakan pasien tersebut telah dilakukan CT Scan kepala oleh teman sejawat saya dari bagian neurologi/saraf, dan ditemukan ada perdarahan luas. Saya segera berlari ke unit gawat darurat dan alangkah terkejutnya saya menemukan pasien tersebut ternyata sang kakak yang mengalami kecelakaan semalam. Kondisinya amat buruk dan sudah dalam bantuan nafas dengan mesin. tidak terdapat tanda-tanda kehidupan sehingga saya terpaksa menyatakan telah terjadi kematian batang otak yang tidak mungkin bisa diobati walau dengan operasi sekalipun. Kedua orangtuanya menangis histeris namun sempat saya bertanya bagaimana kejadiannya. Orangtua bercerita bahwa malam sebelumnya, si kakak langsung ingin tidur setelah sampai di rumah. Tetapi hingga pagi, sang kakak tidak pernah bangun dan tidak dapat dibangunkan sehingga kemudian dilarikan ke rumah sakit. Hasil CT scan terdapat perdarahan epidural yang sangat luas dan dengan volume yang besar, yang telah menekan batang otak begitu hebat dan mengakibatkan kematian. Pada saat itu saya hanya dapat meminta maaf karena tidak ada hal lain yang bisa saya lakukan untuk membantu serta menyatakan jam kematian si kakak.

EDH pada CT Scan kepala

Dari cerita ini tampak bahwa si kakak yang pada awalnya tidak menunjukkan gejala apapun ternyata berakhir dengan kematian. Sedangkan si adik yang kondisi awalnya sangat berat kemudian mendapatkan pertolongan operatif sehingga dapat tertolong nyawanya. Perdarahan epidural dapat disebut sebagai “the silent killer” bila kita tidak waspada dan tidak cermat dalam mengantisipasi. Setiap trauma kepala seringan maupun seberat apapun harus mendapatkan pertolongan dan pemeriksaan yang optimal agar kematian dan kecacatan mungkin dapat dihindari.

Misteri kekuatan potensial otak (saraf) pada bayi dan anak

Mungkin pernah saya sampaikan dalam tulisan-tulisan saya sebelumnya mengenai misteri otak, khususnya pada bayi dan anak. Mungkin juga saya telah menyampaikan bahwa dari seluruh jenis kasus bedah saraf, kasus bedah saraf anak adalah yang paling rumit dan penuh dengan tanda tanya. Masih banyak hal yang belum dapat dijelaskan dengan dasar pengetahuan medis serta referensi berbagai literatur tentang penyakit saraf pada anak, khususnya yang telah dilakukan tindakan pembedahan.

Tidak seperti pada orang dewasa, dimana suatu kelainan pada sistem saraf pusat (otak dan saraf tulang belakang) dapat lebih dijelaskan tentang mekanisme kejadian, rencana pengobatan dan manfaat serta khususnya prognosis ke depan dengan jelas atau cukup jelas. Hasilnya pun tidak terlalu jauh dari prediksi kita para dokter bedah saraf mengenai perjalanan penyakitnya selanjutnya. Pada kasus bedah saraf anak, masih banyak hal-hal yang dapat tidak kita duga yang akan terjadi.

Bayi dan anak, walaupun dianggap sebagai suatu manusia yang baru hidup di dunia dengan segala kelemahannya akibat belum sempurnanya pertumbuhan, ternyata memiliki suatu kekuatan potensial yang sangat dasyat, yang membantu untuk mempercepat pemulihan serta memperbaiki segala kerusakan. Kekuatan tersebut dapat membantu bayi dan anak untuk kembali mengejar hidup yang normal pada usia yang lebih dewasa. Kekuatan itu adalah kemampuan “tumbuh kembang”. Cadangan kemampuan untuk pertumbuhan dan perkembangan lebih lanjut masih sangat besar pada bayi dan anak. Kemampuan sel-sel tubuh termasuk sel-sel saraf untuk mengembalikan fungsinya amatlah tinggi, walau kemampuan sel saraf sendiri untuk beregenerasi sangat rendah. Kerusakan dan kehilangan yang berat juga masih dapat diganti fungsinya dengan bagian sel saraf yang lain. Inilah kekuatan potensial pada bayi dan anak tersebut.

Beberapa minggu sebelumnya, saya melakukan suatu tindakan operasi bedah saraf pada seorang bayi yang masih berusia 1 bulan. Bayi tersebut mengalami perdarahan masif pada otak disertai dengan pembengkakan otak yang hebat. Penyebabnya sangat sederhana, lupa diberikan suntikan vitamin K pada saat lahir. Pada saat operasi, saya menemukan kerusakan otak yang begitu hebatnya pada otak sebelah kiri (otak dominan pada umumnya) sehingga struktur otak sudah berubah menjadi seperti bubur. Sel-sel otak yang rusak dan mati dalam jumlah besar ini terpaksa saya buang karena sel-sel otak yang rusak dapat menularkan kerusakannya ke sel-sel otak yang normal. Lebih dari 50% otak sisi kiri saya buang, yang sebagian besar sel-sel otak tersebut memiliki fungsi yang vital, diantaranya untuk fungsi pergerakan sisi kanan tubuh serta fungsi peraba sisi kanan tubuh. Pada saat saya membunag semua jaringan otak yang mati itu, saya berpikir bahwa kemungkinan besar bayi kecil malang ini akan menderita kelumpuhan sebelah kanan selanjutnya. Namun saya tidak punya pilihan, daripada kerusakan otak menjadi total.

Pasca operasi dan pasca bayi tersebut dibangunkan dari pengaruh obat bius, saya mengamati suatu hal yang luar biasa. Dengan kehilangan hampir setengah bagian dari otak, bayi kecil tersebut tidak menunjukkanadanya kekurangan apapun. Seluruh tangan dan kaki kecilnya dapat bergerak dengan baik dan begitu aktifnya. Suara tangisannya begitu kuat dan semangat untuk minumnya sangat tinggi. Secara keseluruhan, kondisi bayi jauh lebih baik dan lebih segar dibandingkan dengan sebelum operasi. Bagaimana saya dapat menjelaskan ini….? Bagaimana saya dapat menjelaskan kenapa seluruh fungsi pergerakannya berjalan dengan baik padahal hampir setengah otak saya buang…?? Apakah mungkin jaringan otak yang saya buang itu tidk memiliki peran apapun dalam fungsi hidup si bayi…??

Memang harus diakui, masih banyak pengetahuan yang tidak diketahui kita para dokter dan manusia pada umumnya. Masih banyak rahasia Tuhan Yang Maha Esa yang belum dimengerti oleh kita. Mungkin memang tidak semuanya dapat atau harus diketahui oleh manusia. Dalam hal medis dan fungsi sel-sel otak, konsep yang berkembang terakhir adalah bahwa sel-sel saraf memiliki kemampuan untuk memindahkan pusat pengaturan fungsi di suatu bagian otak ke bagian lainnya, sehingga walau ada yang rusak/hilang, fungsinya masih tetap ada. Selain itu, cadangan potensial “tumbuh kembang” pada anak memiliki kemampuan untuk memperbaiki dan mengatur ini semua.

Sebagai pembelajaran khususnya bagi saya dari kasus ini adalah, jangan pernah menyerah dalam menghadapi kelainan pada bayi dan anak. Jangan pernah putus asa dan membiarkan kerusakan atau gangguan pada bayi dan anak berlanjut tanpa usaha memberikan tindakan untuk memperbaiki. Kita para dokter harus selalu berusaha memberikan kondisi yang suportif bagi tubuh bayi/anak agar dapat melakukan tumbuh kembangnya dengan baik. Berikanlah kesempatan pada bayi dan anak untuk tumbuh dan berkembang serta menikmati keindahan dunia ini.

 

Berikan kesempatan untuk tumbuh dan berkembang

Perdarahan otak pada anak dengan “Acquired Prothrombin Complex Deficiency”…efek fatal akibat kesalahan kecil…

Ketika seorang anak baru saja lahir dan keluar dari rahim ibunya, setelah proses membersihkan dan memastikan anak dalam kondisi stabil keadaan vitalnya, maka biasanya selalu dilanjutkan dengan pemberian suntikan vitamin K pada si anak. Pemberian suntikan vitamin K bertujuan untuk menambah dan mendukung fungsi pembekuan darah dari anak yang baru lahir, dimana setelah lepas dari rahim ibu, anak tidak mendapatkan lagi dukungan zat-zat pembekuan darah dari sang ibu.

Namun, karena begitu sederhananya tindakan ini, terkadang suka dilupakan atau terlewatkan oleh yang menolong persalinan (dokter, bidan, dukun, dan lain-lain). Bisa juga dikarenakan ketidaktahuan dari si penolong persalinan akan pentingnya suntikan vitamin K ini.

Sebenarnya, apa sih gunanya suntikan vitamin K ini…?? Perlukah diberikan dan bagaimana bila tidak diberikan…??

Sekali lagi, keperluan suplemen vitamin K ini adalah untuk memberi bantuan tambahan terhadap kemampuan pembekuan darah si anak/bayi. Bila tidak diberikan maka jelas tubuh si anak terpaksa berjuang sendiri dalam memenuhi kemampuan pembekuan darahnya. Sayang sekali, ternyata banyak anak yang tubuhnya belum mampu untuk bertahan sendiri. Sehingga timbullah efek fatal dari ketidakmampuan ini.

Secara umum, gangguan kemampuan pembekuan darah akan berakibat meningkatnya resiko perdarahan pada bayi atau anak. Perdarahan yang biasanya terjadi karena adanya trauma dari luar, maka pada keadaan gangguan pembekuan darah, perdarahan tersebut dapat terjadi secara spontan tanpa stimulus dari luar. Perdarahan spontan tersebut dapat terjadi di bagian manapun dari tubuh. Yang paling fatal adalah perdarahan di otak si anak. Perdarahan di otak tersebut jelas akan menyebabkan penekanan pada otak akibat brtambahnya jumlah darah yang keluar sehingga otak akan terjepit. Selain itu, iritasi darah pada otak akan mengakibatkan otak membengkak dan juga merangsang timbulnya kejang yang berulang pada anak. Otak yang terjepit, bengkak serta kejang yang berulang akan menyebabkan anak mengalami penurunan kesadaran, gangguan fungsi pernafasan dan fungsi sirkulasi (jantung dan pembuluh darah). Alhasil, anak terpaksa dirawat khusus dengan bantuan alat nafas. Ditambah lagi, faktor-faktor pembekuan darah yang kacau di dalam tubuh, mengakibatkan anak kekurangan darah (pucat) dan kuning (ikterik). Fungsi hati juga akan mengalami gangguan. Kesemua ini akan semakin memberatkan beban tubuh untuk mengatasi masalah perdarahan selanjutnya, dan anak akan semakin turun kondisinya serta terancam akan kematian.

Vitamin K untuk pembekuan darah

 

Keadaan diatas disebut sebagai suatu penyakit “Acquired Prothrombin Complex Deficiency” atau biasanya disingkat dengan APCD, suatu keadaan gangguan pembekuan darah secara menyeluruh pada anak yang biasanya disebabkan karena defisiensi vitamin K.

Lalu bagaimana cara mengatasinya…??? Apakah sudah tidak ada harapan bagi si anak…???

Jawabannya adalah sangat bergantung dari cepatnya memberikan bantuan terapi pada anak, baik terapi obat-obatan maupun terapi operasi. Anak dengan APCD harus diberikan terapi suplemen zat-zat pembekuan darah segera termasuk tranfusi darah sesuai kebutuhan. Pemberian suplemen vitamin K serta tranfusi komponen-komponen darah harus segera diberikan. Selain itu, tindakan operasi harus segera dilakukan bersamaan dengan koreksi zat-zat pembekuan darah tadi. Tindakan operasi bertujuan untuk mengeluarkan darah dan memberikan ruang bagi otak yang bengkak. Pasca operasi, anak harus dirawat di ruang rawat intensif dengan bantuan alat nafas, serta pemantauan ketat terhadap kemungkinan perdarahan selanjutnya.

Lalu bagaimana prognosis selanjutnya…?? Bagaimana kondisi anak selanjutnya…??

Pengalaman saya, dari 10 anak dengan perdarahan otak akibat APCD karena kekurangan vitamin K, yang kemudian dilakukan terapi operasi segera dan terapi obat-obatan, maka 8 anak mengalami perbaikan dan bisa bebas dari alat bantu nafas dalam periode 5 hari pasca operasi. Anak kemudian akan mengalami perbaikan secara progresif dan menunjukkan pemulihan yang sangat baik. Dua anak yang tidak menunjukkan hasil kurang baik dikarenakan komplikasi penyakit lain yang dimiliki kedua anak tersebut. Tapi secara umum, bahwa angka keberhasilan tindakan operasi untuk kasus ini sangat baik. Sehingga saya sangat menyarankan untuk anak-anak dengan perdarahan otak akibat APCD, harus segera mendapatkan terapi operasi dan obat-obatan tadi.

Pesan yang ingin saya sampaikan disini adalah bahwa pemberian suntikan vitamin K sangat vital dan diperlukan pada bayi yang baru lahir, untuk mencegah perdarahan-perdarahan selanjutnya yang bersifat fatal. Tindakan pemberian suntuikan vitamin K sangatlah sederhana, namun bila tidak dilakukan akan mengakibatkan hal yang fatal, bahkan kematian.

Pembekuan darah

Terlalu cepatkah kita mendiagnosis anak dengan “Cerebral palsy”…???

Saya awali cerita ini dengan sedikit menyampaikan mengenai “cerebral palsy”. Istilah cerebral palsy jika saya coba kemukakan dalam bahasa awam adalah suatu kondisi kegagalan umum sistem saraf pusat dalam hal ini otak (serebral) dalam hampir seluruh fungsi tertinggi seorang manusia, seperti bergerak, berbicara, intelektual dan lain-lain. Kerusakan otak yang begitu luas dan menyeluruh ini sering dianggap sebagai vonis seorang anak/manusia tidak dapat tumbuh dan berkembang dengan baik dan normal walau fungsi hidupnya tidak terganggu,. Fungsi vital tetap berjalan dengan baik seperti bernafas, fungsi jantung dan lain-lain. Selain itu, tidak ada tindakan medis baik dengan obat-obatan atau operasi yang dapat menyembuhkan atau memperbaiki kondisi ini. Walau tidak berakhir dengan kematian dini, kondisi seperti ini sangatlah menyedihkan, melihat seorang anak yang kehilangan masa depannya dan kesempatannya untuk menikmati hidup di dunia ini.

Yang menjadi pertanyaan adalah, apakah diagnosis “Cerebral palsy” ini sudah tepat dilakukan? Benarkah tidak mungkin adanya suatu penyakit lain yang menimbulkan gejala serupa dengan “Cerebral palsy” namun bila diterapi akan mungkin memberikan hasil yang baik?

Sebuah pengalaman ingin saya sampaikan pada bagian ini. Suatu saat saya mendapatkan konsul dari dokter spesialis anak untuk melihat pasien, seorang anak balita (usia sekitar 5 tahun). Anak tersebut terlihat tidak aktif dan diam, bahkan sangat diam, hanya terbaring di tempat tidur dan tidak menunjukkan tanda-tanda kehidupan yang normal. Memang menurut orangtuanya hal ini baru berlangsung selama 1 minggu terakhir. Namun ketika saya tanyakan bagaimana keadaan anak sebelumnya, orangtua sang anak menjawab bahwa anaknya tidak pernah normal dan sudah dinyatakan menderita “cerebral palsy” sejak lahir. Tidak pernah ada pengobatan yang diberikan selanjutnya pada anak tersebut, dan setelah anak menjadi lebih tidak aktif baru kemudian dibawa ke rumah sakit dan dilakukan pemeriksaan pencitraan otak. Alhasil ditemukan dua penyakit berat yaitu “hidrosefalus” dan tumor otak kecil (tumor serebelum) dengan ukuran yang sangat besar. Begitu besarnya tumor ini sehingga 50% otak kecilnya sudah menjadi tumor.

Yang selanjutnya menjadi pertanyaan adalah apakah sebenarnya tumor ini sudah tumbuh sejak lahir? Apakah hidrosefalus ini sudah terjadi sejak awal? Apakah gangguan pada anak sejak dini dikarenakan dua penyakit ini atau karena “cerebral palsy”? Bukankah bila sejak awal kita mengetahui keadaan penyakit si anak dan kemudian mengobatinya maka kondisi anak akan semakin baik? Apakah kita terlalu cepat mendiagnosis “Cerebral palsy” pada anak, sehingga kita tidak mentatalaksana penyakitnya dan kemudian keadaannya semakin parah dan tidak tertolong lagi?

Semua pertanyaan di atas memang tidak dapat saya jawab. Namun satu hal yang saya pelajari dan saya renungkan dari cerita diatas, yaitu bahwa dalam menghadapi setiap pasien termasuk pasien anak, temukanlah penyakit sesungguhnya, penyakit yang menimbulkan keluhan dan gangguan pada pasien. Berikan bantuan semaksimal mungkin yang dapat kita (dokter) berikan dan setelah itu baru kemudian pasrah pada keputusan Yang Maha Kuasa. Selain itu yang terpenting, anak bukanlah orang dewasa kecil. Anak adalah manusia yang masih memiliki kemampuan tumbuh kembang yang sangat baik. Jangan menyerah dalam memberikan bantuan kesehatan pada anak serta selalu mengusahakan meringankan beban pada tubuh anak agar tumbuh kembangnya dapat berjalan dengan baik. Berikan kesempatan pada anak untuk tumbuh dan menikmati kehidupan.

Akhir kata, saya hanya ingin menginformasikan, pada saat tulisan ini dibuat, sang anak baru saja menjalani operasi baik untuk hidrosefalusnya dan untuk tumornya. Saya belum dapat menceritakan kondisinya sekarang, namun yang saya harapkan, walau telat, ada kebaikan kondisi bagi si anak. Amiin….

 

Berikan kesempatan pada mereka untuk tumbuh dan berkembang

Impotensi….tidak harus karena gangguan hormon atau psikologis….

Ada yang menarik dengan keluhan impotensi (gangguan ereksi pada alat kelamin laki-laki) yang saya perhatikan dari pasien-pasien yang datang ke saya. Kekhawatiran dan kepanikan seseorang untuk suatu gangguan impotensi jauh melebihi dari kekhawatiran dan kepanikan terhadap gangguan jenis lain, baik kelumpuhan alat gerak, kehilangan sensasi raba bahkan kebutaan. Seseorang dengan gangguan ereksi biasanya selalu segera menyetujui setiap saran pengobatan atau operasi yang saya berikan atau dokter bedah saraf lain berikan. Tetapi seseorang dengan gangguan penglihatan, masih bisa menolak untuk mendapatkan pengobatan operatif hingga kebutaan menyerangnya. Bahkan seorang pasien tidak memperdulikan biaya pengobatan yang besar untuk masalah impotensi, sedangkan biaya obat yang relatif tidak mahal untuk penyakit kejang masih sering dikritik oleh pasien dan keluarganya. Sepertinya masalah impotensi ini menduduki posisi yang penting dibandingkan kelainan lainnya.

Selama ini banyak kita baca di majalah-majalah yang membahas tentang kesehatan atau media-media elektronik yang membicarakan tentang penyakit, yang mengupas masalah mengenai impotensi. Banyak orang yang berkonsultasi melalui media-media ini tentang gangguan ereksi/disfungsi ereksi yang mereka alami. Biasanya para ahli kesehatan akan merespon dengan mengatakan hal itu sebagai suatu kelainan psikologis yang biasanya didasari oleh masalah di keluarga, pekerjaan, atau keletihan. Sehingga sering dianjurkan untuk beristirahat atau berkonsultasi untuk masalah keluarga dan lain-lain. Selain itu, penyebab lain yang sering diungkapkan adalah akibat gangguan hormonal sehingga dianjurkan untuk berobat ke dokter andrologi atau dokter ahli hormon.

Namun yang sering dilupakan adalah impotensi dapat juga merupakan akibat dari gangguan fungsi saraf. Sistem saraf otonom yang merupakan sistem pengatur koordinasi ereksi dan ejakulasi pada pria dapat menjadi terganggu karena berbagai sebab. Akibatnya dapat terjadi impotensi. Gangguan pada saraf otonom seperti sistem saraf lainnya dapat terjadi akibat suatu proses iritasi dan/atau kompresi pada saraf. Suatu penekanan saraf seperti pada kasus tumor spinal, HNP (Hernia Nucleus Pulposus), atau malformasi vaskuler di saraf tulang belakang dapat mengakibatkan gejala impotensi. Hal ini sering terlupakan dan kemudian akan menjadi lebih berat. Pada akhirnya setelah terapi konsultasi dan hormonal gagal, barulah pasien dikirim ke dokter saraf atau bedah saraf. Kerusakan saraf yang sudah lanjut akan sulit untuk disembuhkan.

Oleh karena itu, bila memiliki keluhan atau gangguan impotensi, apalagi disertai dengan gangguan saraf lainnya yang menyertai, waspadalah kemungkinan suatu gangguan atau penyakit yang menyerang saraf tulang belakang. Diagnosis pati yang dilakukan dengan segera dilanjutkan dengan terapi mungkin dapat membantu masalah ini sehingga akan memberikan kebahagiaan bagi anda dan keluarga.

Masalah Impotensi

“Normal Pressure Hydrocephalus”…hidrocephalus orangtua…

Mendengar kata hidrocephalus (suatu kelainan akibat gagalnya cairan otak dibuang dari dalam kepala sehingga mengakibatkan tekanan di dalam kepala bertambah tinggi) biasanya yang terbayang adalah anak-anak kecil atau bayi dengan ukuran kepala yang besar serta keterbelakangan akibat gagal tumbuh dan kembang. Gambaran seperti ini memang sering kita lihat di media elektronik maupun cetak dan kadang membuat kita merasa takut atau sedih. Namun ternyata hidrocephalus tidak hany diderita oleh anak kecil atau bayi-bayi saja. Di usia manapun, hidrocephalus dapat muncul akibat beberapa penyebab.

Salah satunya adalah hidrocephalus yang sering ditemukan pada orang lanjut usia (usia 55 tahun ke atas). Penyakit tersebut disebut dengan “Normal Pressure Hydrocephalus” atau NPH, yaitu suatu jenis hidrocephalus dengan tekanan yang relatif normal. Maksudnya disini adalah bahwa tekanan yag disebabkan oleh penyakit ini fluktuatif dimana kadang normal, kadang juga tinggi. Karena ketidakstabilan ini maka gejala yang ditimbulkan juga tidak seperti hidrocephalus yang biasa (penurunan kesadaran, muntah, pembesaran ukuran kepala dan lain-lain).

Gejala yang paling sering dan umumnya ditemukan pada orang lanjut usia dengan NPH adalah tercakup dalam trias gejala “amnesia, ataksia dan inkontinensia”. Amnesia adalah gejala berupa sering lupa/pelupa, hal ini tercermin dari ketidakmampuan untuk mengingat nama orang-orang terdekat, tempat dan waktu. Ataksia adalah ketidakmampuan untuk menjaga postur dan keseimbangan badan sehingga cenderung untuk jatuh saat berdiri atau berjalan. Inkontinensia adalah ketidakmampuan untuk menahan berkemih alias suka ngompol.Ketiga gejala ini timbul akibat penekanan pada pusat-pusat kontrol di otak oleh hidrocephalus tersebut.

Untuk mendiagnosis kemungkinan seseorang menderita NPH, maka beberapa pemeriksaan dapat dilakukan seperti pemeriksaan CT Scan kepala atau pemasangan monitor tekanan intrakranial untuk mengevaluasi fkutuasi dari tekanan di dalam kepala.

Normal Pressure Hydrocephalus

Terapi yang diberikan umumnya adalah tindakan untuk menurunkan tekanan di dalam kepala dengan memasang selang drainase dari dalam kepala ke perut (Ventriculoperitoneal Shunt; VP Shunt). Biasanya setelah pemasangan selang VP Shunt, maka ketiga gejala diatas akan berkurang.

Oleh karena itu, jika anda atau orangtua anda memiliki trias gejala di atas, cobalah diperiksakan ke dokter ahli bedah saraf/saraf untuk memastikan ada tidaknya NPH. Pikun dan pelupa serta gangguan gerak lebih banyak trjadi pada orang usia lanjut namun jangan pernah menutup mata adanya penyakit “Normal Pressure Hydrocephalus” ini.

NPH mengancam orang usia lanjut

Nyeri wajah sesisi yang membingungkan pada “Trigeminal Neuralgia”

Seorang teman membawa salah seorang anggota keluarganya untuk menemui saya dengan suatu keluhan yang sangat mengganggu dan sudah lama dideritanya. Anggota keluarga tersebut adalah seorang wanita usia sekitar 50-an yang mengeluh merasakan nyeri yang tidak nyaman pada sisi kanan wajahnya. Nyeri ini sudah berlangsung sejak 8 bulan sebelumnya dan nyeri ini bersifat hilang timbul progresif. Nyeri tersebut kadang dirasakan pada daerah pelipis kanan, kadang pada pipoi sebelah kanan, kadang di rahang kanan atau di belakang telinga kanan. Yang mencengangkan adalah pasien sudah menemui banyak dokter dari berbagai bidang spesialis mulai dari dokter saraf, dokter penyakit dalam maupun dokter gigi. Pasien selama ini divonis menderita migren, dan bahkan sakit gigi. Berulang kali pasien diberikan berbagai obat anti nyeri kepala dan pemeriksaan gigi untuk masalah nyerinya tersebut. Pasien bahkan telah mengorbankan dua buah giginya yang telah dicabut karena diduga sebagai penyebab nyeri yang dialaminya.

Namun setelah mengalami semua hal di atas, nyeri tak kunjung reda dan bahkan semakin memberat. Pada serangan yang berat, hembusan angin ringan saja ke sisi wajah yang sakit akan dirasakan sebagai suatu nyeri yang sangat hebat, seperti ditampar atau seperti wajah ini dibakar. Pasien hingga berteriak-teriak dan menangis karena menahan nyeri.

Dari gejala-gejala di atas, saya sudah menduga bahwa pasien mengalami suatu penyakit yang disebut dengan “Trigeminal neuralgia”, yaitu suatu penyakit dimana saraf kranial yang bertanggung jawab untuk sensasi daerah wajah (saraf ke V atau disebut juga dengan saraf trigeminal) mengalami iritasi atau kompresi oleh struktur lain di otak khususnya pembuluh darah di otak. Terdapat dua saraf trigeminal pada setiap manusia yang bertanggung jawab pada sensasi masing-masing sisi wajah, dimana iritasi pada salah satunya akan muncul sebagai suatu nyeri yang hebat pada wajah sesuai sisinya. Nyeri tersebut dirasakan berulang dan hilang timbul dikarenakan saraf mengalami jepitan dan iritasi fluktuatif berdasarkan denyutan pembuluh darah yang menjempitnya.

Saya kemudian memintakan pemeriksaan MRI kepala dan hasilnya mengkonfirmasi adanya jepitan saraf trigeminal tersebut oleh pembuluh darah otak. Pasien kemudian saya anjurkan untuk operasi untuk melepaskan jepitan saraf tersebut. Pasien yang sudah mengalami nyeri yang begitu hebat dalam waktu yang lama langsung menyetujui tindakan operatif tersebut. Operasi pun dilakukan dan pasca operasi, pasien mulai merasakan bebas dari nyeri. Pasien merasakan kelegaan luar biasa walau masih sedikit dibantu dengan obat-obatan penghilamng rasa nyeri. Perlahan-lahan, nyeri di wajah menghilang.

Fenomena nyeri pada wajah sering membingungkan dan kompleks dikarenakan begitu banyak struktur dan organ di wajah dan kepala. Suatu penyakit trigeminal neuralgia dapat diduga sebagai suatu penyakit migren atau bahkan sakit gigi, yang diterapi tanpa memberikan hasil yang berarti. Tindakan operatif biasanya dapat menghilangkan rasa nyeri yang sangat mengganggu tersebut.

Trigeminal neuralgia

Carpal Tunnel Syndrome (CTS)…..penyakit si pekerja tangan aktif…

Pernahkah anda menglami rasa tidak nyaman pada pergelangan tangan atau jari-jari tangan…? Pernahkah pula merasakan rasa pegal luar biasa atau rasa kesemutan di telapak tangan atau jari-jari anda…? Bagaimana dengan kelemahan pada jari-jari tangan sehingga anda tidak dapat mengepalkan tangan dan tidak dapat menggenggam bola atau memegang gelas atau peralatan lainnya yang ingin anda ambil atau angkat….?

Mungkin hal ini sering terjadi dan dialami banyak orang khususnya orang-orang usia di atas 30 tahun. Kejadian ini akan lebih sering pula dialami pada orang-orang yang banyak menggunakan tangan atau gerakan tangan yang monoton dan berulang saat bekerja atau melakukan suatu pekerjaan. Misalnya pada ibu-ibu rumah tangga yang banyak mencuci baju secara tradisional (tanpa mesin cuci), atau pada orang-orang yang banyak menulis dan mengetik.

Nyeri, rasa kesemutan, baal pada pergelangan tangan

Apa sebenarnya yang terjadi….? Apakah sudah terjadi kerusakan saraf atau kelumpuhan yang permanen…?

Orang awam kadang menganggap ini sebagai akibat kelelahan bekerja. Atau pada keadaan yang lebih ekstrim bisa dianggap kelumpuhan total akibat serangan stroke. Walau kemungkinannya ada seperti dugaan itu namun ada suatu penyakit lain yang lebih sering terjadi dan mengakibatkan gejala-gejala di atas. Penyakit itu disebut dengan “Carpal tunnel syndrome” atau sering disingkat menjadi CTS. Penyakit ini disebabkan terjepitnya saraf perifer (nervus medianus) oleh ligamen transversus carpii (ligeman otot yang berada di pergelangan tangan) yang mengalami degenerasi dan pengerasan akibat kerjanya yang hiperaktif dan berulang. Pada orang-orang yang bekerja dengan menggunakan tangan dan dengan gerakan tangan yang monoton berulang akan memiliki resiko pengerasan dan degenerasi ligamen tersebut lebih tinggi. Sehingga resiko terkena penyakit CTS akan menjadi lebih tinggi pula.

Carpal tunnel syndrome

Gejala penyakit CTS biasanya berupa rasa nyeri, tidak nyaman, kesemutan pada jari-jari tangan dan telapak serta pergelangan tangan. Pada keadaan yang lebih lanjut dapat pula disertai dengan rasa baal dan kelemahan pada jari-jari tangan sehingga tidak dapat mengepalkan tangan dan menggenggam benda-benda yang akan diambil. Semua gejala tersebut terbatas hanya pada tangan saja dan tidak meliputi lengan atas ataupun lengan bawah. Bila lengan atas dan lengan bawah mengalami rasa yang lain juga, maka kemungkinan jepitan saraf terjadi di daerah lebih proksimal atau daerah leher.

Cara untuk mengetahui apakah anda mengalami CTS atau tidak adalah dengan mencoba menekuk pergelangan tangan ke arah telapak tangan dan mempertahankan posisi tersebut selama sekitar 1 menit (phalen’s test). Bila nyeri atau rasa kesemutan dan baal atau kelemahan bertambah, maka kemungkinan anda mengalami penyakit CTS. Cara kedua adalah dengan melakukan ketukan-ketukan ringan berulang secara terus menerus pada pergelangan tangan (tinel’s test). Bila nyeri, kesemutan, baal dan kelemahan bertambah maka kemungkinan CTS sudah terjadi pada anda.

Phalen’s test dan Tinel’s test

Untuk mengetahui dengan pasti maka anda perlu datang ke dokter bedah saraf agar dapat dilakukan pemeriksaan dengan teliti dan pemeriksaan EMG (Electromyelography). Dari pemeriksaan EMG dapat dipastikan apakah CTS sudah terjadi.

Terapi CTS adalah dengan operasi melepaskan jepitan saraf medianus tersebut. Ligamen yang mengeras akan dipotong dan dibelah sehingga saraf medianus akan terlepas dari jepitan. Tindakan operasi ini sangat ringan dan tidak membutuhkan waktu yang lama. Pembiusan pun dapat dilakukan secara regional dan tidak harus pembiusan umum (kecuali atas permintaan pasien). Pasca operasi, pasien tidak perlu dirawat lama, cukup satu hari saja atau bahkan bisa langsung pulang.

CTS pasca tindakan operasi biasanya akan menunjukkan hasil yang sangat baik dan memuaskan. Biasanya rasa nyeri dan kelemahan akan mengalami perbaikan. Pasien juga dapat kembali beraktifitas setelah jahitan dan luka di tangan sembuh. Komplikasi dari tindakan operasi pun sangat jarang.

Oleh karena itu, bila anda merasa mengalami gejala CTS, segeralah berobat ke dokter agar pertolongan dini segera dapat diberikan. Tindakan operatif dengan luka kecil akan segera mengembalikan anda untuk beraktifitas dengan baik kembali.