Kejang berulang dimulai pada usia remaja….belum tentu “penyakit ayan” (epilepsi)

Pada hari ini saya melakukan tindakan operasi otak pada seorang remaja laki-laki berusia sekitar 25 tahun di sebuah rumah sakit di Jakarta. Tindakan operasi cukup besar dan saya membutuhkan sekitar 6 jam untuk menyelesaikannya. Alhamdulillah, operasi tersebut berjalan lancar dan tidak memberikan resiko berat kepada remaja tersebut.

Namun pada cerita kali ini, bukan operasinya yang ingin saya tekankan, tetapi penyakit dan riwayat perjalanan penyakit remaja ini. Remaja berusia sekitar 25 tahunan ini pertama kali datang ke rumah sakit sekitar 2 minggu yang lalu dibawa oleh orangtuanya dengan keluhan kejang-kejang berulang sejak 2 tahun sebelumnya. Kejang-kejang tersebut semakin lama semakin sering dan semakin lama durasi serangannya. Remaja ini kemudian berobat ke beberapa dokter dan dikatakan menderita epilepsi. Dia diberikan beberapa obat anti kejang, namun walau diminum secara teratur, perbaikan terhadap kejang tidak kunjung datang. Serangan kejang berulang terus ada dan sangat mengganggu aktifitas hariannya. Selama 2 tahun, berbagai obat anti epilepsi diberikan dan dicoba dikombinasikan dengan hasil yang jauh dari memuaskan. Karena rasa tidak puas, kemudian kita lakukan pemeriksaan MRI kepala/otak. Hasilnya kita temukan suatu kelainan yang kita duga sebagai suatu tumor di dalam otak.

Epilepsy

 

Remaja tersebut kemudian kita lakukan operasi pengangkatan masa tumor otak. Ternyata saat operasi, kita menemukan suatu massa berupa pembuluh-pembuluh darah dengan bentuk aneh dan abnormal. Kita kemudian menyimpulkannya sebagai suatu “malformasi vaskuler”. Operasi berjalan dengan lancar dan massa tersebut dapat kita angkat secara total.

Maksud dari cerita saya ini adalah bahwa kejang berulang yang baru muncul pertama kali saat usia remaja/muda, maka jangan terburu-buru didiagnosis sebagai suatu epilepsi. Epilepsi primer atau yang biasa dikenal sebagai penyakit “ayan” di masyarakat awam umumnya ditandai dengan kejang berulang yang terjadi sejak usia kanak-kanak atau lebih muda lagi. ┬áSelain itu, kejang merupakan petanda yang diberikan otak/tubuh bahwa ada suatu lesi/kelainan di dalam sistem saraf pusat/otak kita. Pemberian obat anti epilepsi tidak akan memberikan manfaat signifikan pada kejang berulang yang disebabkan oleh suatu massa di dalam ota. Tindakan operatif kadang sangat diperlukan.

Malformasi Vaskuler
Iklan

Abses/nanah otak…runtuhnya pertahanan pertama pada otak

Abses atau dalam bahasa awam adalah kumpulan nanah pada suatu jaringan di dalam tubuh sering ditemukan di negara kita ini yang terkenal dengan polusi dan pola hidup yang tidak bersih dan tidak teratur. Abses atau nanah dapat ditemukan hampir di seluruh bagian tubuh, mulai dari kulit di bagian luar hingga organ di dalam tubuh. Tubuh manusia yang sebenarnya memiliki sistem pertahanan yang cukup kuat terhadap berbagai kuman yang beresiko masuk dan menginfeksi tampaknya sudah mulai kalah dengan kekuatan-kekuatan kuman tersebut. Sepertinya dengan berbagai faktor eksternal yang diakibatkan perbuatan manusia yang bersifat merusak alam ini telah memberikan kemampuan mutasi dari kuman-kuman tersebut untuk menjadi lebih kompleks dan lebih tinggi daya tahannya. Sejauh manapun dunia medis mencari obat untuk membunuh kuman-kuman ini namun tetap saja akan muncul spesies kuman baru yang lebih kuat.

Penyebab lain dari mudahnya kuman masuk adalah lemahnya atau hilangnya daya tahan dan sistem pertahanan tubuh manusia itu sendiri. Penyebabnya bisa berbagai hal, mulai dari faktor psikis, kekurangan gizi hingga penyakit pembunuh seperti HIV/AIDS. Kesemuanya akan meningkatkan resiko infeksi dan kejadian abses juga akan meningkat.

Otak yang terletak di dalam tempurung kepala memiliki pertahanan atau daya imunitas terkuat di dalam tubuh dari invasi dan infeksi berbagai kuman. Tulang kepala yang kompleks, sistem pembuluh darah yang menabjubkan serta adanya selaput pembungkus otak merupakan bagian terbesar dari sistem pertahanan otak yang pertama dan utama. Bila infeksi sudah berhasil masuk ke dalam otak maka kemungkinan besar infeksi juga sudah berhasil memasuki sistem organ yang lainnya.

Namun akhir-akhir ini, banyak pasien yang datang kepada saya dengan penemuan adanya abses atau nanah di dalam otak dengan keadaan bagian tubuh lainnya relatif sehat dan stabil. Pasien-pasien ini datang dengan gejala atau keluhan yang berhubungan dengan gangguan pada otak namun tidak mengeluh adanya gangguan lain di tubuhnya termasuk infeksi kuman di organ lainnya. Tentunya akan memberikan pertanyaan bagi kita, mengapa otak yang memiliki sistem pertahanan terkuat di dalam tubuh mengalami infeksi kuman (abses) tetapi bagian tubuh lainnya dalam keadaan sehat…?? Apakah imuntas otak semakin lama semakin berkurang…??

Jawabannya adalah karena ternyata kuman menemukan “jalan-jalan rahasia” sebagai akses langsung menuju ruang otak. Dasar tulang tengkorak memiliki banyak lubang-lubang kecil tempat keluar-masuknya saraf-saraf dan pembuluh darah otak. Lubang-lubang ini akan digunakan oleh kuman untuk masuk ke ruang otak. Infeksi-infeksi pada daerah wajah seperti infeksi daerah mulut, gigi, rongga hidung dan infeksi pada telinga merupakan sumber-sumber utama tempat asal kuman yang menyerang otak. Pasien-pasien dengan infeksi tersebut akan rentan untuk mengalami infeksi otak bila tidak diobati dengan tepat. Pasien-pasien dengan riwayat trauma kepala dimana terjadi keretakan pada tulang kepala serta kerusakan selaput otak akan memudahkan kuman masuk secara langsung melalui daerah trauma tersebut. Sehingga banyak pasien pasca trauma kepala kemudian akan mengalami infeksi dan/atau abses pada otak.

Pasien-pasien dengan abses otak harus dilakukan terapi dengan benar untuk menghentikan infeksi kuman sekaligus memastikan kesembuhan. Jumlah nanah yang terlalu besar perlu dilakukan tindakan operasi untuk membuang nanah tersebut. Pemasangan selang drainase ke dalam otak kadang perlu dilakukan hingga seluruh nanah dikeluarkan. Pengobatan atau pembuangan infeksi asal dari gigi, telinga dan lain-lain juga harus dilakukan karena tanpa mengobati sumber asalnya, bukan tidak mungkin abses otak akan terjadi lagi. Selain itu, pemberian antibiotik untuk abses otak harus dalam dosis yang lebih besar, durasi yang lebih lama serta dengan kombinasi yang sesuai dengan kuman yang ditemukan di nanah yang diambil. Biasanya, antibiotik diberikan selama 6 sampai 8 minggu dengan suntikan dan kemudian dilanjutkan dengan antibiotik oral selama 1 sampai 2 minggu. Untuk pasien-pasien dengan sistem imunitas terganggu seperti pada HIV/AIDS maka terapi peningkatan sistem imunitas juga perlu diberikan.

Pasien dengan abses otak tanpa ada penyakit lainnya yang mengganggu sistem imunitas tubuh umumnya memiliki prognosis kesembuhan yang cukup baik bila diterapi dengan benar. Tindakan operasi diperlukan untuk membuang nanah dan mencari tahu jenis kuman yang menginfeksi sebagai pedoman pemberian terapi antibiotik selanjutnya.

Abses otak

Perlukah tindakan pembedahan pada stroke…??

Stroke merupakan penyakit yang menempati posisi nomor dua terbesar penyebab kematian setelah serangan jantung. Setiap tahunnya, angka serangan stroke semakin meningkat, dan semakin meningkat resikonya dengan bertambahnya usia seseorang. Namun, ternyata pada saat ini, stroke juga sudah menyerang orang-orang dengan usia yang lebih muda. Bila dahulu penyakit stroke biasanya terjadi pada usia di atas 55 tahun, saat ini stroke sudah menyerang usia 30 tahun. Penyebabnya adalah semakin tidak sehatnya pola hidup kita saat ini.

Stroke secara garis besar terbagi menjadi stroke akibat sumbatan pada pembuluh darah otak (stroke iskemik) dan stroke akibat pecahnya pembuluh darah otak (stroke hemorrhagik/stroke perdarahan). Keduanya dapat mengakibatkan kerusakan sel-sel otak dan metabolisme otak sekaligus meningkatkan tekanan di dalam kepala. Penyebab dari stroke umumnya adalah tekanan darah tinggi, kadar kolesterol darah tinggi, penyakit gula darah, stres dan lain-lain. Umumnya terapi yang diberikan oleh dokter saraf adalah obat pengatur tekanan darah, obat pengatur gula darah, kolesterol dan sebagainya.

Namun, perlukah tindakan pembedahan untuk penyakit stroke…?

Jawabannya adalah “perlu” bila memang terindikasi untuk pembedahan. Pada stroke perdarahan, jumlah perdarahan yang cukup banyak merupakan indikasi untuk dilakukan tindakan pembedahan dengan tujuan mengeluarkan darah dan berusaha menghentikan sumber perdarahan bila ditemukan aktif. Sedangkan pada stroke iskemik akibat sumbatan pembuluh darah otak sering sekali mengakibatkan pembengkakan pada otak yang mengancam jiwa. Tindakan pembedahan diperlukan untuk memberikan ruang yang cukup bagi otak yang membengkak. Selain itu, baik pada kasus stroke iskemik maupun stroke perdarahan, tindakan pembedahan diperlukan untuk menurunkan tekanan di dalam kepala (tekanan intrakranial) karena tekanan intrakranial yang tinggi dapat mengancam jiwa serta menghambat masuknya darah dan obat-obat yang diberikan untuk otak.

Tindakan pembedahan walau memiliki resiko, pada indikasi yang tepat dapat menjadi terapi yang menyelamatkan jiwa pada penderita stroke. Terapi pembedahan bukanlah terapi tunggal pada penyakit stroke tetapi harus dikombinasikan dengan terapi medikamentosa lainnya.

Stroke

Langkah baru bagi dokter bedah saraf muda…

Alhamdulillah….saya ucapkan berulang kali pada hari Sabtu, tanggal 17 Desember 2011 kemarin, dimana pada sore hari itu, di Surabaya, saya berhasil menyelesaikan evaluasi akhir nasional untuk bedah saraf dengan sangat baik. Acara ujian nasional bedah saraf yang diikuti oleh 7 orang dokter peserta program spesialis bedah saraf (termasuk saya) dapat melalui evaluasi itu dan lulus dengan baik. Saya juga sangat bersyukur bahwa pada hasil ujian tersebut, mendapatkan predikat terbaik. Mulai saat ini, akan menjadi langkah dan tantangan baru bagi saya untuk memberikan pelayanan bedah saraf yang lebih baik bagi masyarakat Indonesia. Terima kasih Ya Allah….Bismillah….

 

Saya bersama guru saya, Professor Padmosantjojo dan Professor Hafid serta teman-teman lulusan baru

 

Dokter-dokter bedah saraf baru bersama para guru besar bedah saraf dan konsultan senior bedah saraf

WFNS International Skull Base Cadaver Dissection and Seminar

World Federation of Neurosurgical Societies (WFNS) kembali menyelenggarakan workshop dan seminar mengenai “skull base surgery” khususnya pendekatan akses dan teknik operasi serta “tips and tricks” dari para ahli bedah saraf dunia. Acara ini digelar di laboratorium anatomi Universitas Airlangga dengan tuan rumah Departemen Bedah Saraf FK UNAIR/RS Sutomo Surabaya serta Perhimpunan Spesialis Bedah Saraf Indonesia (PERSPEBSI), pada tanggal 6 – 7 Desember 2011.

Pada acara yang cukup besar ini, hadir beberapa nama besar bedah saraf internasional yang menekuni bidang “skull base surgery” seperti Kawase, Hongo, Nakamura, dan lain-lain. Para pakar tersebut mendemonstrasikan berbagai pendekatan operasi skull base untuk fossa anterior, media dan posterior. Dalam kesempatan ini juga didemonstrasikan mengenai teknik bypass ECA – ICA dengan menggunakan graft autolog.

Menariknya topik “skull base surgery” dan dihadiri oleh pakar-pakar dunia yang sudah sangat terkenal, mengundang banyak ahli bedah saraf nasional untuk ikut bergabung dengan acara ini. Pada acara ini juga terdapat sesi khusus pelatihan penggunaan “high speed drill” bagi para dokter spesialis bedah saraf nasional.

Me and Prof. Kawase

 

WFNS Skull Base Workshop, laboratorium anatomi, FK UNAIR, Surabaya

 

Me and my Neurosurgeon friends from Surabaya

Dukungan Jepang untuk pengembangan “Endovascular Neurosurgery” di Indonesia

With Prof. Matsumaru and Ms Atsuko Kato from JCMT at Tangkuban Perahu

Japan Council for Medical Training (JCMT) dan Toranomon Hospital, Tokyo, Jepang, memberikan dukungannya kepada bedah saraf Indonesia untuk pengembangan ilmu dan teknik endovaskuler (neuro-intervensi), yaitu suatu teknik terapi minimal invasive berbagai kasus kelainan pembuluh darah maupun kelainan-kelainan lain pada otak dan sistem saraf lainnya. Melalui teknik ini, dengan menggunakan akses langsung dalam pembuluh darah, maka sebuah kateter kecil dapat memberikan terapi pada kelainan di otak dan saraf tulang belakang. Karena tindakan ini tidak memerlukan pembedahan maka lama perawatan dan efek samping juga dapat ditekan.

Perwakilan JCMT Jepang, Ms. Atsuko Kato datang bersama seorang guru besar ahli endovaskuler dari Toranomon Hospital, Tokyo, Jepang, Professor Yuji Matsumaru mengadakan kunjungan ke Departemen Bedah Saraf FKUI-RSCM selama 5 hari dimana pada kesempatan itu, mereka dapat melihat sejauh mana perkembangan endovaskuler bedah saraf di Indonesia. Menurut mereka, kemajuan bedah saraf dalam bidang endovaskuler sudah lebih baik namun perbaikan-perbaikan dan pengembangan harus terus dilakukan untuk mencapai pelayanan yang sesempurna mungkin. Diharapkan dalam 2 tahun ke depan, endovaskuler bedah saraf sudah semakin maju dan dapat memberikan pelayanan seluas mungkin kepada seluruh bangsa Indonesia.

Saya sebagai murid langsung dari Professor Yuki Matsumaru, mengucapkan terima kasih yang sebesarnya atas seluruh dukungan dan bantuan yang telah beliau berikan, baik kepada saya sendiri maupun untuk kemajuan ilmu ini di Indonesia.

Terapi nyeri ( pain therapy ) … terapi dewa…???

Salah satu terapi dan tindakan yang dapat dilakukan oleh para dokter ahli bedah saraf adalah terapi nyeri (pain therapy). Hal ini dikarenakan memang mekansme terjadinya nyeri dikarenakan rangsangan patologis atau kelainan pada sistem saraf yang merupakan reseptor nyeri pada seluruh tubuh kita. Iritasi atau kompresi pada saraf baik akibat metabolisme yang salah atau mekanik dapat menghasilkan rasa nyeri pada setiap bagian tubuh manusia.

Nyeri merupakan suatu keluhan atau gejala yang bersifat sangat luas baik dari intensitas, karakteristik, pola dan dinamikanya terhadap perubahan lingkungan dan posisi. Nyeri juga merupakan gejala yang bisa menjadi sangat mengganggu sehingga seseorang dapat begitu menderitanya atau bahkan dapat kehilangan produktifitasnya. Seseorang bisa menjadi sangat tidak nyaman dan tidak dapat menemukan suatu posisi atau apapun yang dapat meredakan nyeri. Rasa nyeri luar biasa hebatnya dapat terjadi pada kasus kanker tulang belakang atau kanker lainnya yang mengiritasi saraf, dimana hanya dengan rangsangan ringan saja seperti hembusan angin, seseorang sudah merasakan penderitaan yang luar biasa.

Saya ingin bercerita tentang seorang pasien yang saya temui sekitar 3 tahun yang lalu, seorang wanita dengan usia sekitar 50 tahunan yang sudah terdiagnosa kanker payudara stadium akhir dari 3 tahun sebelumnya. Kanker tersebut sudah menyebar hingga ke saraf tulang belakang yang selanjutnya mengganggu fungsi saraf disana. Alhasil, wanita tersebut merasakan nyeri yang luar biasa. Jangankan diberikan rangsangan yang kuat pada kaki atau punggungnya, dengan sentuhan ringan saja sampai hembusan angin ke bagian tubuhnya itu akan menimbulkan nyeri luar biasa hingga membuat dia berteriak dan menangis.

Pasien sudah beruang kali diberikan obat-obatan anti nyeri hingga pemberian morfin namun tidak pernah ada perbaikan. Nyeri tetap ada dan bahkan terasa memberat. Penderitaan tersebut memberikan kesengsaraan yang hebat pada wanita itu. Memang, berdasarkan teori medis, kanker payudara stadium terminal dengan bukti sudah ada penyebaran merupakan penyakit yang tidak dapat disembuhkan lagi. Pasien bahkan sudah divonis mengenai panjang sisa usianya. Namun apakah wanita itu harus menjalankan sisa hidupnya dalam penderitaan hebat itu? Apakah pada akhir hidupnya, wanita tersebut berada dalam kesengsaraan nyeri luar biasa?

Jawabannya TIDAK! Walau seseorang sudah divonis dengan penyakit mematikan, bukan berarti tidak dapat menjalankan sisa hidup dengan rasa nyaman dan tenang. Nyeri yang biasanya menyertai penyakit terminal merupakan penyebab kesengsaraan dan menghilangkan rasa nyaman itu. Oleh karena itu, harus ada usaha untuk mengatasi rasa nyeri itu agar setiap pasien dapat menjalankan sisa hidupnya dengan baik.

Wanita tersebut kemudian berobat kepada salah seorang guru saya, seorang ahli bedah saraf hebat yang menguasai ilmu terapi nyeri. Melihat penderitaan wanita tersebut, guru saya tersebut menyarankan untuk terapi nyeri paliatif dengan cara pemanasan dan perusakan saraf tulang belakang yang terlibat melalui ransangan listrik atau kauterisasi saraf. Wanita tersebut karena sudah lelah akan rasa nyerinya kemudian menyetujui tindakan ini. Dilakukanlah operasi pembukaan kecil tulang belakang dan kemudian dilakukan perusakan pada saraf yang terlibat nyeri. Operasi tidak berlangsung lama dan kemudian wanita itu dibawa ke kamarnya kembali. Pasca sadar dari pengaruh obat bius, wanita tersebut kemudian kita periksa kembali. Dan alangkah bahagianya dia karena nyerinya hilang sama sekali. Memang terasa baal namun nyeri tidak terasa sama sekali. Rasa nyaman dan kebahagiaan yang luar biasa bebas dari nyeri kemudian membuat wanita itu turun dan bersujud di depan guru saya dan mengatakan “Dokter adalah dewa saya….”.

Mulai saat itu saya berpikir, benarkah seorang dokter bisa menjadi dewa atau dianggap dewa karena terapi ini? Kenyataannya begitu yang saya lihat pada setiap terapi nyeri yang dilakukan oleh seluruh dokter bedah saraf.

Hingga saat ini, terapi nyeri bedah saraf semakin berkembang. Bentuk terapi juga sangat bermacam-macam dengan alat yang semakin canggih dan banyak. Terapi nyeri dapat dengan obat-obatan, suntikan, dan operasi saraf. Kita, para dokter bedah saraf juga telah semakin maju dalam pengetahuan serta kemampuan terapi nyeri.

Bila anda merasakan nyeri dalam bentuk apapun, tidak ada salahnya untuk dicoba terapi nyeri. Kami dokter bedah saraf, siap memberikan pelayanan terapi nyeri (pain therapy) pada anda.

 

Pain Therapy

The 5th Asia Pacific Cervical Spine Society Meeting

Pada tanggal 23 – 24 November 2011, Omni Hospital Alam Sutera, Tangerang-Serpong, mempersembahkan sebuah seminar/simposium dan workshop dalam “The 5th Asia Pacific Cervical Spine Society Meeting”. Seminar dan workshop mengenai pengetahuan dan teknik operasi terbaru untuk kasus-kasus tulang belakang daerah leher, disajikan begitu apik dan berkualitas, dengan dukungan dari Perhimpunan Spesialis Bedah Saraf Seluruh Indonesia. Dr. Alfred Sutrisno, SpBS, seorang dokter ahli bedah saraf yang cukup terkemuka, sebagai ketua Neuroscience Clinic untuk Omni hospital berhasil membuat sebuah acara yang sangat baik dan diikuti oleh sebagian dokter bedah saraf dari seluruh Indonesia. Acara ini juga semakin menarik dengan hadirnya beberapa ahli bedah saraf tamu dari luar negeri yang berkualitas internasional seperti Danial Kim, M.D, seorang professor ahli bedah saraf dari Amerika Serikat dan Mehmet Zileli, M.D, seorang professor ahli bedah saraf dari Turki. Keduanya juga sangat mendalami dan menguasai pengetahuan dan kemampuan operasi tulang belakang (Spine).

Pada pertemuan dan workshop ini ditunjukkan bahwa kemampuan spesialis bedah saraf dalam terapi dan operasi tulang belakang sudah begitu majunya dan dengan alat-alat mutakhir, memberikan terapi terbaik pada pasien-pasien dengan kelainan seperti nyeri punggung atau pinggang, cedera tulang belakang atau saraf tulang belakang, kelainan bentuk tulang belakang, kelainan degeneratif yang mengakibatkan penjepitan saraf tulang belakang, tumor saraf tulang belakang dan infeksi tulang belakang.

Selain tulang belakang, pertemuan ini juga menunjukkan suatu demonstrasi langsung (life demonstration) dari terapi nyeri (pain therapy). Dokter-dokter ahli bedah saraf memiliki kemampuan terapi nyeri dengan berbagi macam teknik. mulai dari terapi obat-obatan, terapi suntikan hingga operasi untuk mengatasi nyeri.

 

The 5th Asia Pacific Cervical Spine Society Meeting

 

The 5th Asia Pacific Cervical Spine Society Meeting

 

Kekuatan vaksin polio…kehebatan dan kemuliaan dr. Jonas Salk…

Pada saat sedang jeda di suatu hari sabtu, perhatian saya tertuju pada sebuah acara di televisi. Acara tersebut berisikan tentang manusia dan hasilnya untuk dunia. Diambil sebuah contoh figur yang hidup lebih dari 50 tahun yang lalu yang mungkin sudah terlupakan saat ini namun hasilnya untuk dunia masih tetap digunakan sampai saat ini. Dialah “Dr. Jonas Salk”, seorang dokter dan seorang peneliti yang menelurkan suatu hal penting dalam sejarah kesehatan dunia, yaitu penemuan vaksin Polio.

Dr. Jonas Salk adalah seorang dokter dan peneliti berkebangsaan Rusia yang pada masa kecilnya hidup cukup susah dengan keluarga miskin yang kekurangan. Namun Dr. Jonas Salk berhasil menyelesaikan pendidikan hingga lulus dokter. Karena ketertarikannya di bidang penelitian, Dr. Jonas Salk memulainya dengan usaha mencari pengobatan/vaksin untuk influenza yang banyak menyerang tentara pada masanya. Namun kesuksesannya terjadi pada saat beliau menemukan vaksin terhadap virus polio yang saat itu sangat ditakutkan karena mengakibatkan kelumpuhan. Melalui vaksin yang diciptakannya, maka penyakit polio dapat diatasi dan memberikan harapan pada dunia dalam melawan penyakit saraf yang berbahaya ini.

Yang menarik bagi saya adalah, bahwa untuk menghasilkan vaksin tersebut, Dr. Jonas Salk menghadapi hambatan dan tantangan yang tidak ringan. Mulai ditentang oleh berbagai pihak hingga tidak memiliki dana sama sekali untuk percobaannya. Bahkan pada suatu saat, Dr. Jonas Salk terpaksa melanjutkan penelitiannya di dapur di rumahnya sendiri dengan menggunakan peralatan masak istrinya. Namun dengan semangat dan kerja kerasnya serta keinginannya untuk membantu kesehatan dunia, beliau akhirnya berhasil menghasilkan vaksin yang dinanti berjuta-juta orang saat itu.

Selain itu ada hal lain yang membuat saya kagum pada dokter ini, yaitu vaksin yang dihasilkannya kemudian dia berikan secara gratis kepada siapapun yang membutuhkan. Berjuta-juta vaksin dikeluarkan dan diberikan kepada orang yang membutuhkan. Hal ini bahkan dipertanyakan kepadanya dalam sebuah wawancara di televisi. Beliau ditanyakan kenapa tidak menjual vaksin nya ke perusahaan farmasi? Siapa yang memgang hak paten dari vaksinnya tersebut? Kenapa tidak mau menjadi kaya raya dari hak paten tersebut?

Dr. Jonas Salk menjawab sambil tertawa ringan, “Siapa yang mempunyai hak paten matahari?”. “Hak Paten dari vaksin polio adalah milik seluruh umat manusia, bukan milik saya”. Ini adalah suatu pernyataan mulia dari seorang manusia, seorang dokter yang berkemampuan luar biasa. Dr. Jonas Salk kemudian melanjutkan hidupnya hanya dengan gajinya sebagai dokter dan pengajar. Honornya tidak banyak tapi baginya cukup untuk hidup dengan keluarganya. Pada tahun terakhir kehidupannya, Dr. Jonas Salk sempat sibuk di laboratoriumnya untuk mencari vaksin AIDS, namun usia mengalahkannya dan dia meninggal dunia sebelum vaksin itu ditemukan.

Komentar selanjutnya dari acara televisi itu adalah “apakah ada orang-orang seperti Dr. Jonas Salk saat ini?”, yaitu seorang pemuda intelektual yang mampu menghasilkan sesuatu untuk kebutuhan dan kebaikan dunia. Apa yang terjadi oleh manusia khususnya para pemuda saat ini? Dunia bahkan berkesimpulan kalau manusia saat ini lebih banyak bekerja untuk destruksi atau kerusakan dunia. Sikap ambisius terhadap uang dan kekayaan tanpa cara dan jalan yang benar, membawa manusia kepada kerakusan yang merusak dunia ini. Lihat saja, yang dikejar adalah cara-cara spontan dan cepat mendapatkan uang seperti di permainan saham, perbankan, dan usaha-usaha lainnya yang belum tentu benar. Kebanyakan dari perbuatan dan tindakan tersebut memberikan kesulitan pada rakyat banyak khususnya rakyat menengah ke bawah. Hal ini yang sedang terjadi di perekonomian Amerika dan Eropa sekarang. Para penguasa “wall street”, bankir, pengusaha, seenaknya saja mempermainkan uang dan rakyat untuk keuntungannya sendiri, yang semakin merugikan bangsa dan negara. Sedihnya, pemerintah tidak berusaha untuk mengatasinya dan bahkan mendukung tindakan-tindakan ini. Akhirnya hanyalah akan menghasilkan kehancuran dimana-mana dan rakyat kecil paling sengsara.

Sebagai pemuda, kita harus bisa menjaga idealisme kebaikan tetap tinggi. Tidak salah untuk mencari profit dan kehidupan yang lebih baik asal dilakukan dengan cara benar dan tidak merugikan orang lain. Sebagai seorang dokter, saya sangat berterima kasih kepada Dr. Jonas Salk untuk vaksin yang dihasilkannya dan untuk sifat serta sikap yang dimilikinya sebagai suatu contoh dan pedoman bagi saya untuk mencapai seluruh cita-cita saya.

Bagaimana dengan anda….???

PERJALANAN SEORANG DOKTER BEDAH SARAF