Arsip Tag: saraf

Kembar siam gabung kepala…kebesaran Tuhan yang menjadi tantangan ahli bedah saraf…

Kembar siam gabung kepala atau dalam bahasa medis disebut “Craniopagus” adalah kelahiran dua bayi dengan dempet pada kepala. Walau tidak sering ditemukan namun tercatat sudah beberapa kejadian terjadi di seluruh dunia. Beberapa di antaranya tumbuh hingga dewasa tetap dalam keadaan dempet, namun beberapa di antaranya juga dilakukan usaha pemisahan sejak dini oleh para ahli bedah saraf. Tetapi usaha pemisahan dempet kepala ini bukanlah hal yang mudah, dan bahkan merupakan salah satu tantangan terbesar bagi ahli bedah saraf.

Craniopagus terjadi akibat gagalnya pemisahan dua zygot / sel telur yang sudah dibuahi oleh sperma pada keadaan kelahiran kembar/ganda. Akibatnya, terjadi penyatuan atau dempet pada suatu atau beberapa bagian tubuh. Penyatuan atau dempet dapat terjadi pada bagian perut, pinggang, dada maupun kepala. Akibat penyatuan ini maka kemungkinan akan ada organ yang digunakan secara bersama dan tidak terbentuk untuk masing-masing bayi. Usaha pemisahan selalu dilakukan agar kedua anak dapat tumbuh seperti orang normal namun pemisahan dempet kepala tidaklah semudah pemisahan jenis dempet yang lain karena berhubungan dengan struktur saraf yang sangat penting dan rapuh serta sistem pembuluh darah kepala dan otak yang amat rumit. Sehingga, usaha pemisahan dempet kepala lebih banyak mengalami kegagalan dan berakhir dengan kematian ke dua bayi dempet tersebut.

Dalam sejarah, salah seorang ahli bedah saraf Indonesia, seorang guru besar bedah saraf dari Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, RSCM, yaitu Prof. Dr. RM Padmosantjojo, SpBS, berhasil melakukan pemisahan terhadap bayi kembar siam yaitu Yuliana dan Yuliani. Hal ini merupakan salah satu kebanggaan Indonesia terhadap dunia dimana salah seorang anak bangsanya berhasil melakukan operasi yang tidak berhasil dilakukan di negara lain di dunia. Dengan berbagai kekurangan sarana dan prasarana saat itu dan dengan pengetahuan yang dianggap tidak semaju negara-negara lainnya di dunia, Prof. Padmo beserta tim dokter bedah saraf FKUI-RSCM dalam operasi yang berlangsung sekitar 16 jam, berhasil memisahkan bayi kembar siam dempet kepala, Yuliana dan Yuliani. Keberhasilan ini juga yang kemudian menganugerahkan beliau dengan gelar guru besar bedah saraf FKUI.

Yuliana-Yuliani

Saya sebagai murid langsung dari beliau merasa sangat bangga atas kerjanya, dan saya banyak mendapatkan nasehat serta ajaran mengenai kembar siam ini dan cara melakukan pemisahannya. Prof. Padmo menceritakan kepada saya mengenai prinsip-prinsip dasar pada kembar siam yang sangat penting dipegang untuk mentatalaksananya dengan benar. Untuk memisahkan kepala pada kembar siam maka yang harus dipastikan adalah adanya struktur-struktus penting saraf/otak dan pembuluh darah untuk masing-masing bayi. Menurut Prof. Padmo, sebenarnya Yang Maha Kuasa sudah memberikan dan membuat masing-masing struktur tadi namun dalam keadaan menempel atau tidak teratur. Tugas kita sebagai ahli bedah saraf yang memisahkan dan membentuknya serta meletakkannya ke tempat yang normal. Dengan pengetahuan tersebut disertai dengan ketajaman mata dan keahlian dan ketrampilan tangan memisahkan saraf dan pembuluh-pembuluh darah yang kecil, maka Prof. Padmo berhasil memisahkan bayi kembar siam. Kegagalan-kegagalan pemisahan kembar siam dempet kepala di negara-negara lain adalah karena prinsip-prinsip tadi tidak dipegang.

Prof. Dr. RM. Padmosantjojo, SpBS(K)

Saat ini Yuliana dan Yuliani sudah tumbuh dan telah menyelesaikan pendidikan perguruan tinggi mereka masing-masing. Ada yang menjadi dokter dan ada yang menjadi Insinyur teknik. Mereka berdua dapat menjalani hidup seperti orang normal biasa.

Akan selalu ada masalah-masalah medis yang timbul sebagai suatu tantangan bagi dokter dan tenaga medis lainnya. Hal ini merupakan pintu kesempatan bagi kita para dokter untuk mengembangkan diri menjadi lebih baik asalkan tidak putus usaha. Tantangan  pemisahan kembar siam dempet kepala masih dihadapi oleh para ahli bedah saraf dunia, termasuk saat ini oleh ahli-ahli bedah saraf dari Departemen Bedah Saraf FKUI-RSCM.

Iklan

Peregangan sendi leher secara aktif dan kuat….kebiasaan yang membahayakan…!

Mungkin kita sering melihat seseorang melakukan peragangan sendi leher secara aktif dengan cara mendorong dagu dan kepala ke salah satu sisi baik kanan atau kiri yang kemudian menimbulkan suara “klik” pada sendi leher. Hal ini sering dilakukan oleh anak-anak muda dan remaja, atau mungkin kita sendiri sudah sering melakukannya. Bahkan tukang pijat atau tukan cukur/potong rambut sering melakukannya saat memijat kita.

Setelah melakukan peregangan aktif sendi leher itu dan setelah timbul suara “klik” pada sendi leher maka seseorang tersebut akan merasakan kenyamanan karena kurangnya ketegangan pada sendi leher. Hal ini kemudian akan memicu orang-orang tersebut untuk melakukannya kembali saat leher terasa tegang dan lama kelamaan menjadi kebiasaan. Namun apakah mereka atau kita mengetahui ancaman dan bahaya dari tindakan dan gerakan tersebut…??

Tidak sedikit saya menemukan pasien-pasien muda/remaja yang datang ke unit gawat darurat dengan kelumpuhan seluruh alat gerak (tangan dan kaki) pasca melakukan peregangan aktif sendi leher tersebut. Pasien-pasien tersebut tidak dapat menggerakkan tangannya dan tidak dapat berjalan. Di antaranya juga mengalami gangguan berkemih dan buang air dimana tidak dapat mengontrolnya dengan baik. Yang lebih parah di antara mereka ada yang tidak dapat bernafas secara spontan sehingga membutuhkan alat bantu nafas segera. Mengapa ini bisa terjadi…??

Sendi leher (hubungan antara ruas pertama dan kedua tulang leher dengan bagian basis kepala) merupakan suatu susunan yang kompleks dan kuat namun memiliki kemampuan pergerakan yang sangat luwes. Sendi-sendi tersebut terbentuk dari berbagai hubungan jaringan ikat penyambung yang disebut ligamen yang menghubungkan tulang dengan tulang. Terdapat sebuah tulang yang menjulang ke atas dari ruas kedua tulang leher sebagai sumbu perputaran leher dan kepala kita. Pada saat seseorang melakukan peregangan aktif sendi leher yang terlalu berlebihan dan sering akan merusak dan menganggu kekuatan serta elastisitas dari ligamen-ligamen tersebut. Suara “klik” yang timbul menunjukkan adanya benturan antara tulang bahkan mengakibatkan pergeseran tulang. Pada keadaan ekstrim, ligamen-ligamen akan putus dan tulang akan retak atau hancur sehingga tulang leher akan menjadi tidak stabil dan bergeser. Akibatnya, saraf tulang belakang di leher akan tertekan dan terluka. Saraf tulang belakang tersebut mengatur seluruh fungsi badan dari leher ke bawah, baik fungsi pergerakan, rasa, kontrol organ-organ dalam (misalnya fungsi pernafasan dan fungsi jantung), berkemih, fungsi seksual, dan lain-lain. Pada saat saraf di leher rusak maka seluruh sistem dan fungsi tersebut di atas akan mengalami gangguan sehingga muncullah gejala-gejala yang membahayakan fungsi hidup pasien-pasien tersebut.

Patah tulang leher

 

Tindakan yang dapat dilakukan oleh seorang dokter bedah saraf adalah operasi untuk melepaskan tekanan pada saraf tulang belakang, reduksi dan reposisi tulang leher disertai dengan pemasangan alat untuk menciptakan kestabilan. Kemampuan pulih tergantung sejauh mana kerusakan saraf sudah tercapai namun sangat sulit untuk kembali menjadi normal seperti sebelumnya. Tindakan operasi yang tidak dilakukan dengan segera akan dapat membahayakan nyawa pasien karena seluruh fungsi tubuhnya akan mengalami kegagalan.

Fiksasi tulang leher dengan "screw"

 

Oleh karena itu, hati-hatilah dalam melakukan peregangan sendi leher secara aktif baik yang kita lakukan sendiri atau dilakukan oleh orang lain. Mungkin memang memberikan kenyamanan sementara namun dapat merugikan seumur hidup bahkan mengancam nyawa. Daripada melakukan peregangan sendi leher secara aktif saat leher tegang, jauh lebih baik beristirahat dengan berbaring atau tidur.

Infeksi TBC pada otak…suatu penyakit “peniru”

Hingga saat ini, penyakit TBC (Tuberculosis) masih merupakan suatu tantangan dan pekerjaan rumah yang belum tuntas diselesaikan oleh bangsa dan negara kita. Penyakit yang disebabkan oleh bakteri “Mycobacterium tuberculosa” masih merupakan salah satu masalah kesehatan yang utama yang dihadapi oleh pemerintah kita khususnya oleh departemen kesehatan RI. Usaha pemerintah untuk mengatasi penyakit ini dengan memberikan pengobatan secara luas hingga ke puskesmas-puskesmas dan bersifat gratis, tetap tidak mampu mengejar kecepatan penyebaran penyakit ini. Penyakit ini menyebar melalui udara dari pernafasan penderita ataupun saat penderita batuk, sangat mudah menular kepada orang-orang di sekitarnya baik keluarga, tetangga dan teman. Ditambah lagi keadaan higenitas/kebersihan lingkungan dan udara di negara kita yang relatif buruk.

Bentuk paling umum yang diketahui oleh masyarakat adalah bahwa penyakit TBC menyerang organ paru-paru kita dengan manifestasi klinis berupa batuk-batuk  atau mungkin sesak nafas. Beberapa penderita juga kadang mengeluhkan suhu tubuh meningkat (demam) yang bersifat naik turun. Beberapa penderita lainnya juga mengeluh suka keringat dingin di malam hari dan berat badan menurun. Pada kasus dengan penyakit TBC lanjut, pasien dapat mengalami batuk berdarah.

Namun ternyata, penyakit TBC ini lebih luas dari hanya gangguan di sistem pernafasan atau paru-paru saja. Kemampuan bakteri TBC untuk menyerang tubuh kita tidak terbatas pada organ paru-paru saja. Tuberculosis mampu menyerang hampir seluruh organ di tubuh kita, termasuk otak dan saraf tulang belakang. Saya harus akui bahwa pasien dengan TBC pada otak dan tulang belakang yang datang ke bedah saraf tidaklah sedikit.

Kenapa saya mengatakan bahwa TBC merupakan penyakit “peniru”….??

Saya jawab dengan sebuah cerita. Seorang wanita muda datang kepada saya dengan keluhan sakit kepala kronis dan kelemahan sesisi tubuh. Pasien sudah mengalami penyakit ini sejak 3 bulan terakhir. Tidak jelas adanya riwayat trauma ataupun infeksi dari cerita pasien. Pasien datang dengan rasa khawatir dan takut yang tidak dapat disembunyikan. Dengan membawa CT Scan dan MRI kepala hasil pemeriksaan dirinya, pasien bercerita kalau dia sudah pernah berobat ke dokter saraf dan dikatakan menderita penyakit tumor otak. Setelah divonis dengan tumor otak, pasien menjadi sangat ketakutan dan kehilangan semangat hidup. Dengan menangis, dia berkata mengapa usia semuda dirinya harus menghadapi kematian sedini mungkin.

Saya berusaha menenangkan wanita muda tersebut dan menyampaikan kepadanya untuk tenang dan bersabar dahulu. Berdasarkan riwayat penyakit dan pemeriksaan fisik yang dilakukan padanya serta hasil pemeriksaan pencitraan yang dibawanya, diagnosis pasti penyakitnya belum dapat ditentukan. Memang dari hasil pemeriksaan CT Scan dan MRI kepala terlihat suatu massa menyerupai tumor di dalam otak. Pada saat itu memang saya belum bisa memberikan kesimpulan dari penyakitnya. Kemudian saya menawarkan tindakan operatif untuk mengambil massa yang diduga tumor tersebut dengan tujuan untuk mengetahui jenis massa tumor dan usaha untuk mengurangi massa tumor seoptimal mungkin. Pasien dalam kepasrahan menyetujui tindakan yang saya tawarkan dan kemudian pasien dipersiapkan. Dilakukan tindakan operasi pada pasien satu minggu setelah kedatangannya ke saya. Massa tumor diambil sebagian karena pengambilan secara total dapat membahayakan nyawa pasien. Massa tumor yang diambil kemudian dikirim ke laboratorium untuk diperiksa. Pasien kemudian dirawat pasca operasi.Pasien masih dalam keadaan stres dan tidak punya semangat hidup setelahnya.

Sekitar satu minggu setelah tindakan operasi, keluarlah hasil pemeriksaan massa tumor. Pasien sangat khawatir saat menunggu hasil pemeriksaannya keluar. Kemudian saya membuka amplop hasil pemeriksaan laboratorium. Saya terdiam sejenak kemudian saya menatap pasien dan mulai berbicara. Sebelum saya beri tahu hasilnya, saya bertanya terlebih dahulu kepada pasien apakah pasien pernah mengalami sakit batuk-batuk kronis. Pasien mengangguk. Kemudian saya bertanya apakah di antara anggota keluarga ada yang menderita penyakit TBC dan bila ada, bagaimana dengan pengobatannya. Pasien menjawab ada namun pengobatannya tidak lengkap. Baru kemudian saya memberi tahu pada pasien bahwa hasil pemeriksaan laboratorium menunjukkan bahwa pasien tidak menderita tumor otak, tetapi yang ada adalah lesi tuberkulosis pada otak. Penyakit TBC ini dapat sembuh dengan pengobatan yang benar dan teratur. Pada saat itu juga pasien menangis kegirangan dan bersujud syukur. Dia kemudian memeluk saya sekuat tenaga sambil masih terus menangis dan mengucapkan terima kasih. Saya hanya mengatakan kepadanya untuk berterima kasih kepada Tuhan Yang Maha Kuasa. Saya juga kemudian menganjurkan pasien untuk memulai terapi TBC secara teratur.

Enam bulan semenjak pasien pulang dari perawatan di rumah sakit, saya ertemu kembali dengannya di poliklinik. Wanita muda tersebut kelihatan sangat segar, bahkan tubuhnya lebih berisi. Wajahnya penuh dengan senyuman dan matanya berbinar-binar. Wanita muda tersebut kemudian mengatakan bahwa keluhan sudah jauh membaik. Kelumpuhannya semakin membaik dan sakit kepalanya menghilang. Hasil pemeriksaan MRI kepala kontrol menunjukkan massa TBC sudah hampir menghilang sepenuhnya. Dapat dikatakan pasien sudah sehat sekarang.

Penyakit TBC pada otak dapat berbentuk seperti suatu tumor otak dengan gejala-gejala seperti gejala yang ditimbulkan oleh tumor otak. Penyakit TBC merupakan suatu penyakit yang dapat menyerang hampir seluruh organ di tubuh kita dan dapat menjadi berbahaya bila tidak diobati. Namun satu hal yang harus diketahui, bahwa penyakit TBC dapat diobati.

Balada bayi-bayi “berkepala besar”

Bayi-bayi berkepala besar, lahir ke dunia dan diterima dengan kesedihan akibat kecacatan yang dialaminya. “Kepala besar” pada seorang bayi atau anak, dalam dunia medis disebut sebagai “Hidrosefalus“, merupakan suatu kelainan yang disebabkan oleh gangguan pada saat perkembangan di dalam rahim ibu (kongenital) atau akibat suatu penyakit yang didapat setelah bayi tersebut lahir. Mekanismenya adalah akibat akumulasi cairan otak di dalam kepala yang terus bertambah dan menimbulkan ketidakseimbangan antara produksi dengan pembuangan (ekskresi) cairan otak tersebut. Hasilnya adalah tekanan di dalam kepala semakin meningkat yang selanjutnya akan membunuh sel-sel otak sehat. Secara klinis, anak akan menjadi tidak aktif dan muncullah berbagai kelainan saraf, seperti kebutaan dan lain-lain.

Pasien dengan penyakit hidrosefalus umumnya datang ke dokter bedah saraf pada waktu yang sudah relatif terlambat. Alasannya yang utama adalah masalah biaya, namun yang menyedihkan adalah beberapa di antaranya beralasan bahwa penyakit hidrosefalus adalah penyakit kecacatan yang sudah divonis permanen dan tidak dapat diperbaiki bahkan pasti berakhir dengan kematian dini. Hal ini yang membuat orangtua kemudian hanya pasrah dan tidak membawa anaknya untuk mencari pertolongan medis.

Walaupun belum ada bukti medis dan klinis yang pasti dari penelitian, ternyata sebagian besar kasus hidrosefalus pada bayi yang dilakukan tindakan sedini mungkin berupa mengalihkan cairan otak yang menumpuk di dalam kepala ke dalam perut dengan pemasangan sebuah selang (ventriculoperitoneal shunt; VP Shunt), memberikan hasil yang baik dan positif. Hidrosefalus akibat suatu penyakit yang didapat setelah lahir khususnya bila dilakukan terapi operai pemasangan VP Shunt sebelum usia 1 bulan, menunjukkan anak tersebut dapat tumbuh dan berkembang dengan baik. Beberapa kasus yang sudah dilakukan terapi 20-25 tahun yang lalu, sekarang anak-anak tersebut tumbuh normal dan dapat sekolah dan kuliah dengan baik. Di antaranya bahkan ada yang menjadi seorang pemain piano yang hebat. Hal ini menunjukkan bahwa ternyata masih ada harapan untuk anak-anak penderita hidrosefalus yang dilakukan terapi operasi sedini mungkin.

Oleh karena itu, bila anda atau keluarga dan teman anda mempunyai anak “berkepala besar” atau hidrosefalus, segeralah mencari pertolongan medis ke dokter. Bila memang terindikasi maka dokter spesialis bedah saraf akan melakukan operasi untuk kelainan ini. Beri kesempatan bagi anak anda untuk menikmati indahnya masa depan.

Misteri regenerasi dan pemulihan saraf

Saya awali cerita ini dengan membandingkan dua penyakit yaitu penyakit stroke dan penyakit patah tulang. Seseorang dengan patah tulang akibat kecelakaan, maka dengan terapi yang tepat, baik operasi maupun tidak, maka tulang akan dapat menyatu dan pulih kembali. Tingkat pulihnya dan kembali normalnya juga amat baik. Namun bagaimana dengan seseorang yang terkena penyakit stroke? Umumnya dikatakan setelah mendapat serangan stroke maka seseorang akan menjadi cacat seumur hidup. Kelemahan sesisi tubuh, gangguan bicara, ketidakmapuan untuk mengurus diri sendiri hingga hilangnya produktifitas merupakan beberapa konsekuensi dari penyakit stroke. Walau tindakan operasi sudah dilakukan untuk mengeluarkan darah atau tindakan intervensi sudah dilakukan untuk membuka sumbatan, namun fungsi saraf yang sudah rusak akan sulit kembali normal. Kenapa ini terjadi? Kenapa tidak bisa gangguan atau kerusakan saraf pulih sebaik patah tulang?

Jawabannya adalah karena seluruh sistem, jaringan dan organ di tubuh kita memiliki kemampuan regenerasi atau memperbaiki diri yang berbeda-beda. Kemampuan untuk pulih dari masing-masing sistem atau organ tidak sama. Ada organ yang memiliki kemampuan pulih luar biasa dan mendekati sempurna seperti tulang dan kulit. Ada organ yang memiliki kemampuan pulih sedang dimana terdapat regenerasi namun tidak sempurna seperti pada organ hepar (hati), usus dan lain-lain. Tapi juga ada organ yang memiliki kemampuan pulih sangat rendah dan saraf termasuk dalam katagori ini. Saraf disini yang dimaksud adalah sistem susunan saraf pusat yaitu otak dan saraf tulang belakang (medula spinalis).

Berbeda dengan susunan saraf pusat, maka sistem saraf perifer memiliki kemampuan regenerasi yang lebih baik. Saraf-saraf perifer yang terletak di tangan atau kaki kita bila terluka atau putus, kemudian dilakukan tindakan penyambungan yang tepat dan suasana penyembuhan yang kondusif maka pemulihan dapat terjadi. Saraf perifer yang putus, maka mulai dari daerah yang putus tersebut hingga ke ujung terjauh saraf (distal) dari sistem saraf pusat akan terjadi peleburan saraf dan selaput saraf. Peleburan otomatis ini akan diikuti dengan dibersihkannya sisa-sisa peleburan dan penghancuran oleh sel-sel makrofag (sel yang membunuh atau membersihkan kuman dan benda berbahaya di tubuh). Setelah bersih, maka sel-sel pembentuk selaput saraf akan mulai membuat kerangka atau desain saraf serupa dengan yang lama untuk selanjutnya kerangka ini akan menjadi “blue print” dalam pembentukan saraf baru. Kerangka yang sudah dibuat selaput saraf kemudian akan diisi oleh sel-sel saraf baru hingga menyerupai saraf yang lama. Hal ini tidak terjadi pada sistem saraf pusat.

Hingga saat ini terus dilakukan penelitian untuk mencari dan mengetahui rahasia pemulihan otak dan saraf tulang belakang. Berbagai usaha penelusuran dilakukan untuk mengetahui cara modifikasi sistem saraf dalam tingkat biomolekuler agar regenerasi dapat distimulasi. Cadangan-cadangan untuk pemulihan terus dicari dari otak kita yang menakjubkan ini. Penemuan terakhir mengetahui bahwa adanya sel-sel muda (stem cell) saraf di sekitar saraf penciuman kita. Sel-sel muda ini dapat tumbuh menjadi sel-sel saraf normal dan berfungsi baik. Beberapa obat sudah diproduksi untuk menstimulus sel-sel muda ini tumbuh dan menggantikan sel-sel saraf yang rusak. Obat-obat ini umumnya diberi dengan cara penetesan langsung di hidung seorang pasien. Hasilnya memang belum dipastikan namun pengalaman menunjukkan terdapat beberapa hasil yang positif, dimana regenerasi saraf terjadi.

Menurut saya penelitian harus terus dilanjutkan agar pemulihan saraf yang baik dapat ditemukan. Otak dan saraf tulang belakang merupakan pusat pengaturan segala fungsi tubuh kita dan kerusakannya akan memberikan dampak yang berat bagi kehidupan si pasien dan keluarganya. Mari, kita para cendekiawan untuk terus bekerja dan berusaha mencari dan menguasai pengetahuan ini untuk memberikan kesempatan lebih baik bagi umat manusia.

Saraf

Anak anda sering jatuh saat berjalan atau berlari……hati-hati ada penyakit saraf yang tak terduga…

Beberapa tahun terakhir, saya sering menerima pasien-pasien anak kecil yang dibawa orangtuanya dengan keluhan sering jatuh saat berjalan atau berlari. Bahkan anak-anak tersebut sering tidak tahan lama untuk berdiri. Para orangtua kemudian sering menyalahkan anaknya karena keteledorannya dan tidak hati-hati. Bahkan anak yang bisa berdiri tapi kemudian tidak tahan lama kemudian dianggap hanya malas atau sedikit telat aktifitas badannya. Alasan-alasan ini sering membuat para orangtua tidak segera membawa anaknya ke dokter anak untuk memeriksakan apa sebenarnya yang terjadi. Penundaan ini yang selanjutnya menjadi malapetaka.

Anak-anak dengan gangguan-gangguan di atas kemudian akan merasa sedih dan mungkin minder karena dikatakan teledor dan lain-lain. Padahal mereka mungkin membutuhkan bantuan yang lebih.
Beberapa anak-anak tersebut setelah bertahun-tahun kemudian mulai mengeluh sulit untuk menahan kencing atau sering disebut mengompol. Keanehan ini dimana anak-anak yang sudah berusia di atas 6 tahun tapi masih mengompol barulah menjadi alasan orangtua khawatir dan kemudian membawa ke dokter. Tapi apakah sudah telat…..?? Apa sebenarnya yang terjadi…..??

Sebagian besar pasien-pasien anak itu saya terima dari kiriman para sejawat dokter-dokter spesialis anak khususnya spesialis saraf anak. Dari cerita orangtua, pemeriksaan fisik yang saya lakukan dan pemeriksaan penunjang lainnya, sungguh miris mengetahui penyakit apa yang sebenarnya diderita sang anak.

Anak-anak tersebut mengalami penyakit saraf yang disebut dengan “myelomeningocele” atau kadang sering disebut dengan “spina bifida”. Keduanya sebenarnya tidak sama. “Myelomeningocele” adalah suatu keadaan dimana terdapat bagian saraf tulang belakang yang keluar dari rongga tulang belakang sehingga terjepit dengan jaringan sekitarnya. Sedangkan “spina bifida” adalah keadaan dimana terdapat bagian tulang belakang yang terbuka karena gagal penyatuan saat tumbuh kembang mulai dari dalam janin. Hal ini yang memudahkan saraf tulang belakang untuk keluar dan terjepi jaringan sekitarnya. Saraf-saraf yang terjepi ituah yang mengakibatkan timbulnya kelumpuhan-kelumpuhan pada kaki anak dan lain-lain. Kelumpuhan ini akan bersifat progresif bila tidak segera diterapi.

Saat anak mulai suka jatuh, sebenarnya jepitan saraf itu telah berlangsung lama, apalagi saat keluhan mengompol muncul. Saraf yang begitu lama terjepi akan sulit untuk kembali normal lagi. Kelumpuhan kaki dan kandung kencing kemungkinan akan sulit diperbaiki. Ini tentu saja berbeda bila sang anak dibawa sedini mungkin ke dokter bedah saraf. Tindakan operatif yang baik untuk melepaskan jepitan serta menutup defek yang ada saat dini akan memberikan hasil yang baik bagi fungsi saraf si anak.

Jadi bila anak anda sering jatuh, coba tahan diri sesaat untuk memarahinya atau menegurnya tapi pikirkan kemungkinan kalau penyakit saraf sudah dideritanya. Segeralah bawa ke dokter, selamatkan masa depan anak anda.

Indahnya otak kita…….

Otak…..dikatakan sebagai salah satu organ vital di tubuh kita yang memegang peranan penting dalam pengaturan seluruh sistem dan fungsi tubuh manusia. Tapi apakah itu saja mengenai otak? Apa keistimewaan otak dibandingkan organ lain….?

Sebelum menekuni pendidikan kedokteran, saya tidak mengetahui sama sekali tentang otak. Setelah mengenyam pendidikan bedah saraf, saya masih tidak mengerti sepenuhnya tentang otak manusia. Otak terdiri dari sel-sel saraf dan sel-sel penunjang saraf. Semuanya dihubungkan dengan serabut-serabut asosiasi sehingga dapat menimbulkan suatu mekanisme kerja yang serasi dan berkelanjutan.

Bagaimana kita dapat mencium hal yang berbau harum dapat membuat kita senang, bagaimana kita dapat mendengar suara musik yang hebat dapat memberi kita semangat, bagaimana seorang artis dapat bermain piano begitu hebatnya, bagaimana seorang atlit dapat mengkoordinasikan tubuhnya dengan baik dan lain-lain adalah karena kinerja otak yang begitu hebat.

Tapi tahukah kita bahwa semua fungsi tubuh yang kita lakukan setiap hari itu hanya diatur oleh sebagian kecil sel-sel otak? Tahukan bahwa walau otak kita dibuang setengah, kita masih bisa bekerja dan hidup seperti orang normal? Tahukah bayi yang lahir dengan penyakit “hidrosefalus” (penyakit dimana isi kepala sebagian besar adalah cairan otak dan sel-sel otak gagal tumbuh) tapi bila ditangani segera dapat tumbuh menjadi anak normal, menjadi mahasiswa dan pianis hebat?

Jadi sebenarnya apa fungsi-fungsi otak yang lain? Bagian mana dari otak yang mengatur fungsi-fungsi tersebut? Sejauh mana kerusakan otak yang membuat semua fungsi hilang? Semuanya masih menjadi rahasia dan misteri otak kita yang amat indah itu……

Hati-hati dengan masalah nyeri pinggang…….

Nyeri pinggang merupakan keluhan ketiga terbanyak yang membawa seseorang berobat ke dokter. Sebagian dari mereka mengalami kesembuhan yang melegakan. Namun sebagian lainnya lagi belum mendapatkan kesembuhan yang mereka cari. Sebenarnya apa itu nyeri pinggang atau yang sering disebut sebagai “low back pain”? Secara definisi kata, nyeri pinggang adalah rasa tidak nyaman atau sakit pada daerah pinggang. Namun pada kenyataannya, nyeri pinggang itu sangat bervariasi. Begitu banyak organ di daerah pinggang yang dapat menimbulkan nyeri pinggang. Sebut saja gangguan otot, tulang, saraf dan bahkan gangguan ginjal. Masing-masing sebenarnya memiliki karakteristik nyeri yang khusus, ditambah pula dengan gejala-gejala tambahan lainnya yang khusus pula. Seorang dokter yang pandai akan mampu membedakan kelainan-kelaianan yang terkait dengan nyeri pinggang itu.
Tidak sedikit nyeri pinggang disebabkan karena kelainan persarafan di daerah pinggang atau punggung. Selain itu biasanya kelainan saraf akan disertai dengan gejala-gejala tambahan lainnya seperti kesemutan, baal dan bahkan kelumpuhan. Seorang dokter bedah saraf yang baik memiliki kemampuan untuk mencari dan menentukan kelainan saraf tersebut. Pengetahuan tentang riwayat penyakit dan perjalanan penyakit penderita, pemeriksaan fisik yang baik disertai dengan pemeriksaan penunjang yang tepat, akan mendapatkan diagnosis kelainan saraf yang tepat pula. Terapi baik pembedahan atau tanpa pembedahan juga telah banyak pilihannya.
Namun sayangnya, sebagian besar masyarakat kita masih ragu dan takut untuk berobat ke dokter, apalagi ke dokter spesialis bedah saraf. Mereka kemudian akan menahan rasa sakitnya, mengkonsumsi obat-obatan sendiri atau mencari pertolongan kepada pengobatan alternatif. Tidak salah setiap orang memilih tempat untuk berobat, tapi pada akhirnya para penderita nyeri pinggang tersebut akan berobat ke dokter juga, dengan keadaan yang sudah sangat buruk, nyeri yang hebat serta kelumpuhan. Di saat itu, dokter bedah saraf tidak dapat memberikan hasil yang baik dibandingkan bila terapi medis diberikan lebih dini saat kondisi masih lebih baik. Terapi operatif juga akan dipilih bila memang punya indikasi yang kuat, dan setiap dokter bedah saraf yang baik akan mampu melakukan tindakan operatif tersebut.
Oleh karena itu, bila merasakan nyeri pinggang yang mengganggu, segeralah dibawa berobat ke dokter. Pengobatan yang dilakukan lebih dini akan memberikan hasil yang lebih baik. Satu hal lagi, terapi operatif bertujuan untuk menyelamatkan fungsi saraf dari perburukan lebih lanjut, bukan untuk menimbulkan kelumpuhan.