Semua tulisan dari dokterandra

seorang dokter bedah saraf muda, kompeten tindakan bedah endovaskular. penyuka musik dan travelling, pemain keyboard dan seorang suami.

Penyakit “tua” menyerang si “muda”

Penyakit serangan jantung, stroke, tekanan darah tinggi, diabetes, asam urat dan lain-lain merupakan penyakit-penyakit yang sering ditemukan pada orang-orang tua dengan usia di atas 55 atau 60 tahun. Penyakit-penyakit ini terjadi karena organ manusia sudah mulai berdegenerasi, mulai lelah mungkin dalam menjalankan fungsinya selama ini. Selain itu, kekebalan tubuh orang-orang usia lanjut juga sudah menurun dan tidak seimbang, Keadaan ini ditambah dengan proses peradangan (inflamasi) yang menambah resiko munculnya penyakit-penyakit di atas, Penyakit-penyakit tersebut pula yang mengakibatkan banyak orang usia lanjut yang dirawat di rumah sakit, yang dioperasi, bahkan yang akhirnya dihadapkan kepada kematian.

Namun beberapa tahun terakhir, pasien-pasien yang datang dengan penyakit-penyakit di atas bukanlah orang-orang usia lanjut lagi. Khusus untuk bidang bedah saraf, penyakit stroke misalnya, dialami oleh orang-orang usia yang terbilang masih muda. Bayangkan, dalam satu malam saja saya bisa menemukan 2 pasien dengan stroke yang berumur di bawah 45 tahun. Bahkan kasus terakhir yang saya temukan adalah pasien stroke yang masih berusia 30 tahun. Penyebabnya adalah tekanan darah tinggi yang tidak terkontrol.

Kenapa ini bisa terjadi…?

Jawabannya mungkin karena telah terjadi perubahan dan pergeseran universal dari sistem tubuh kita sekaligus lingkungan eksternal kita yang mempengaruhi tubuh kita juga. Akibat berbagai faktor baik dari dalam tubuh atau dari lingkungan di luar, telah membuat sel-sel tubuh yang membentuk berbagai sistem organ menjadi lebih mudah “menua”. Selain itu, gangguan di atas juga sudah mengakibatkan perubahan dari sistem kerja organ-organ manusia sehingga menyebabkan ketidakseimbagan yang diakhiri dengan munculnya penyakit-penyakit degeneratif tersebut.

Pada dasarnya, seorang manusia sudah diciptakan oleh Yang Maha Kuasa sejak dalam rahim ibu. Dipersiapkan program pembentukannya dan pematangannya hingga lahir pada waktunya. Namun kondisi ibu dan faktor-faktor lain yang mempengaruhi kehamilan sudah mulai mengganggu program pembentukan dan pematangannya itu. Kemudian saat tumbuh dari seorang bayi kecil hingga menjadi manusia dewasa juga banyak diserang dengan gangguan-gangguan dari luar, baik makanan, udara, dan lain-lain. Akibatnya degenerasi sel-sel tubuh akan lebih cepat terjadi.

Coba perhatikan orang-orang di jaman dahulu, sedikit sekali yang mengalami penyakit-penyakit degenerasi, dan walaupun mengalaminya pada akhirnya, itu pun terjadi pada usia yang sangat tua. Tidak dipungkiri bahwa usia orang-orang jaman dulu lebih panjang daripada usia orang-orang sekarang. Selain itu, orang-orang jaman dulu umumnya lebih sehat dan lebih kuat dibandingkan orang-orang jaman sekarang

Lalu apa yang bisa kita lakukan…?

Prinsipnya adalah tidak semua faktor alam bisa kita kendalikan atau kita kuasai. Hal-hal yang bisa kendalikan sebaiknya diusahakan dengan cara positif yang baik semaksimal kita bisa. Makan makanan sehat, hidup dengn pola sehat dan menjauhi hal-hal yang dapat menimbulkan penyakit, harus kita lakukan. Selain itu, alam juga yang menentukan sebagai bentuk kekuasaanNYA yang di luar kendali kita. Kita nikmati saja hidup ini dengan melakukan yang terbaik yang kita mampu.

Untuk negara Indonesia, masih banyak pekerjaan rumah yang harus dikerjakan oleh pemerintah dan kita warganya. Penyakit-penyakit infeksi belum selesai diatasi. Kita masih disibukkan dengan penyakit-penyakit seperti TBC, demam berdarah, polio, tifus dan lain-lain. Sedangkan ancaman kelompok penyakit baru sudah di antara kita. Ayo, mari kita berusaha membuat hidup ini lebih sehat dan lebih baik.

Departemen bedah saraf FKUI-RSCM mencapai akreditasi JCI…menuju institusi pelayanan bedah saraf terkemuka asia-pasifik

Pada tanggal 11 dan 12 November 2011, Departemen Bedah Saraf FKUI-RSCM mengadakan pelatihan kepada seluruh jajaran staf medis, residen, staf perawat dan staf administrasi nya mengenai implementasi dari akreditasi internasional rumah sakit berdasarkan akreditasi JCI (Joint Comission International). Kegiatan pelatihan ini selaras dengan tujuan dan cita-cita dari RSUPN Ciptomangunkusumo untuk menjadi pusat pendidikan dan rumah sakit pusat rujukan nasional yang terkemuka di Asia Pasifik tahun 2014. Sejalan dengan itu, Departemen Bedah Saraf FKUI-RSCM juga memiliki cita-cita tinggi menjadi pusat pendidikan bedah saraf sekaligus pusat pelayanan bedah saraf terkemuka Asia Pasifik tahun 2014.

Akreditasi internasional berdasarkan JCI tidaklah mudah soalnya berisi dengan jelas dan terperinci mengenai segala hal yang harus dipenuhi oleh sebuah rumah sakit dengan tujuan utama adalah “patient safety“. Segala hal hingga yang terkecil terkait dengan pelayanan pasien mulai dari masuk dan mendaftar di RSCM atau Bedah Saraf RSCM, selama perawatan dan pengobatan hingga pasien pulang, harus dalam lingkungan yang aman, nyaman serta efektif dan efisien, tercantum dalam protokol akreditasi JCI. Dibutuhkan komitmen dan kerja kerasa dari seluruh anggota dan keluarga RSCM, begitu juga dengan departemen bedah saraf untuk mencapai ini pada tahun 2012 sesuai dengan target awal.

Departemen Bedah Saraf FKUI-RSCM telah banyak mengalami kemajuan dalam 5 tahun terakhir baik dalam bidang pelayanan, pendidikan dan penelitian. Departemen Bedah Saraf FKUI-RSCM siap memberikan pelayanan komprehensif terhadap seluruh kasus bedah saraf dengan tingkat kesulitan tertinggi. Di bidang pendidikan, Departemen Bedah Saraf FKUI-RSCM selalu berusaha menumbuhkan dan menghasilkan bibit-bibit dokter spesialis bedah saraf baru yang cerdas, tangkas dan berkomitmen dengan tugasnya. Walau jumlah dokter spesialis bedah saraf masih sangat sedikit di Indonesia (sekitar 200 orang) dan masih jauh dari kebutuhan minimal bangsa, Departemen Bedah Saraf FKUI-RSCM tidak secara asal menghasilkan dokter-dokter baru yang tidak berkualitas. Dalam bidang penelitian, Departemen Bedah Saraf FKUI-RSCM terus berusaha untuk menghasilkan temuan-temuan baru dengan tujuan untuk kepentingan pelayanan di bidang bedah saraf.

Dengan 6 divisi yang sudah berdiri kuat serta sumber daya manusia yang berkomitmen terdiri dari 9 staf medis, 22 residen, 23 perawat khusus bedah saraf, 3 kamar operasi dengan kelengkapan memadai, 1 ruang rawat khusus (high care unit), ruang ICU RSCM, pelayanan minimal invasive yang terdiri dari stereotaktik dan endovaskuler (neuro-intervensi), dengan ijin Yang Maha Kuasa, Departemen Bedah Saraf FKUI-RSCM dan RSCM sendiri akan mampu mencapai cita-cita agungnya. Amin…

Cedera kepala…”kejutan” pada otak yang “menular” dan mengancam jiwa.

Bila kita mengunjungi unit gawat darurat sebuah rumah sakit, maka kita akan menemukan orang-orang dengan penyakit atau kelainan yang bersifat akut dan emergensi, dimana pertolongan segera sangat dibutuhkan. Yang terbanyak dapat kita temukan adalah kegawatdaruratan akibat kecelakaan atau trauma. Begitu juga dengan unit gawat darurat RS Ciptomangunkusumo, tempat saya belajar selama ini, suasana hiruk pikuk, pasien yang berdarah-darah, pasien tidak sadar ataupun kesakitan. Sebagai dokter ahli bedah saraf, saya selalu berurusan dengan kasus-kasus yang berkaitan dengan kepala (otak) dan tulang belakang. Selain kasus stroke, maka kasus terbanyak yang saya terima adalah cedera kepala.

Banyaknya kendaraan bermotor di kota Jakarta khususnya sepeda motor, ketidakpatuhan masyarakat untuk ketertiban lalu lintas dan kebiasaan pengemudi yang suka ugal-ugalan, mengakibatkan angka kecelakaan tetap tinggi. Instruksi pemerintah mengenai pemakaian helm pengaman atau sabuk pengaman yang cenderung diabaikan, menambah angka kejadian kecelakaan lalu lintas. Tidak sedikit korban kecelakaan itu mengalami cedera kepala yang termasuk katagori berat. Ketika dikirim ke rumah sakit, korban sudah dalam keadaan tidak sadar, kepala penuh dengan luka dan darah.

Sebagai seorang dokter bedah saraf, luka-luka luar yang terlihat mengerikan, tidak menjadi kekhawatiran utama bagi saya, sebab luka-luka luar tidak mengancam jiwa dan dapat diselesaikan hanya dengan pembersihan luka yang baik dan jahitan luka yang benar. Yang lebih menjadi perhatian saya adalah apa yang terjadi terhadap tulang kepala dan otak di dalamnya. Untuk tulang kepala, suatu patah tulang biasa tanpa ada desakan dapat sembuh dengan sendirinya tanpa tindakan operasi. Namun fraktur tulang kepala disertai dengan desakan tulang ke dalam otak, jelas merupakan ancaman karena otak dapat mengalami robekan akibat patahan tulang. Selain itu, fraktur tulang kepala yang terbuka akan memberikan jalan bagi kuman dari luar untuk mengakibatkan infeksi selaput otak atau infeksi otak. Pada keadaan ini, tindakan operasi harus segera dilakukan untuk memperbaiki posisi tulang dan menutup hubungan dengan dunia luar sehingga infeksi lebih jauh dapat dicegah.

Selanjutnya, bagaimana dengan otak di dalamnya…? Cedera pada otak dapat terjadi dalam dua bentuk secara garis besar yaitu adanya perdarahan otak atau adanya memar otak yang menyebabkan pembengkakan jaringan otak. Keduanya merupakan keadaan yang berat dan membutuhkan penanganan segera. Namun bila dibandingkan antara keduanya lebih seksama, maka sebenarnya perdarahan otak akibat trauma lebih tidak rumit penanganan dan tindakan operasinya dibandingkan dengan pembengkakan otak. Dari segi kesembuhan, maka untuk perdarahan otak khususnya di atas selaput otak (epidural hematom) dan di bawah selaput otak (subdural hematom), setelah dilakukan tindakan operasi pengambilan darah dan penghentian sumber darah, maka kondisi pasien cenderung cepat pulih beberapa hari sesudahnya. Pasien kemudian bisa pulang 5 hari atau seminggu sesudah operasi. Namun untuk memar atau pembengkakan otak, masalahnya akan menjadi lebih rumit. Cedera kepala yang mengakibatkan pembengkakan otak adalah cedera kepala yang berat. Begitu beratnya cedera kepala tersebut sehingga tulang kepala yang cukup keras tidak mampu melindungi otak di dalamnya. Ancaman jiwa terjadi karena pembengkakan otak dapat mengakibatkan herniasi batang otak, yaitu suatu keadaan dimana bagian otak yang bengkak kemudian mendesak batang otak yang kemudian akan menyebabkan kematian. Batang otak adalah struktur paling vital otak yang terletak di bagian tengah di dalam kepala yang berfungsi mengatur fungsi hidup manusia (fungsi pernafasan dan fungsi jantung). Penatalaksanaan memar atau bengkak otak biasanya diawali dengan obat-obatan dan segala usaha untuk mencegah pembengkakan bertambah yang dapat mengakibatkan herniasi batang otak. Bila keadaan sudah sangat mengancam dan obat-obatan tidak bisa mengatasi maka tindakan operasi dekompresi harus dilakukan. Tujuan operasi adalah membuka tulang kepala dan selaput otak sehingga memberikan ruang tambahan untuk otak yang bengkak, dan mencegah terjadinya herniasi. Setelah tindakan operasi, pasien masih harus ditopang penuh dengan obat-obatan untuk mencegah pertambahan bengkak otak dan kesedaran pasien juga tidak langsung pulih.

Kenapa saya menyebutkan kata “kejutan” dan “menular” pada judul cerita ini……? Adalah karena memang sifat cedera otak khususnya memar otak adalah kejutan dan menular. Pasien dengan memar otak akibat trauma kepala adalah pasien yang “sehat” sebelum kecelakaan terjadi. Tiba-tiba terjadi cedera kepala yang begitu hebat sehingga tubuh tidak sempat untuk melakukan pertahanan. Berbeda dengan pasien dengan tumor otak dimana sejak awal tumor tumbuh, tubuh sudah menciptakan suatu keseimbangan atau pertahanan terhadap kelainan ini. Disinilah yang menyebabkan kondisi pasien dengan cedera kepala cenderung buruk. Kemudian kata “menular” menuju pada sifat rusaknya sel-sel otak yang cenderung menular. Sebuah sel otak yang rusak dapat menyebabkan sel-sel otak sehat di sekitarnya juga rusak akibat kandungan zat metabolik di dalam sel yang rusak menyerang sel-sel di sekitarnya. Akibatnya kerusakan akan terus bertambah bila tidak dihentikan rantai penularan ini. Pemberian oksigen yang cukup dan anti radikal bebas serta nutrisi yang cukup ke otak adalah salah satu usaha memotong penularan ini. Kegagalan mencegah penularan ini, akan mengakibatkan kematian bagi pasien.

Sebagai pesan, bila anda atau keluarga anda mengalami cedera kepala seringan apapun, bawalah ke rumah sakit atau dokter untuk dipastikan dengan benar tidak ada bahaya mengancam seperti perdarahan otak atau memar otak. Sayangilah nyawa anda….

SEMINAR AKREDITASI INTERNASIONAL UNTUK RUMAH SAKIT

 

Yth, Sejawat, RS anda telah berkomitmen untuk akreditasi internasional…? Atau sedang berpikir kearah sana…? Pada tanggal 26 November 2011, QINOVEX akan mengadakan seminar tahap lanjut bagi peserta yang berpengetahuan dasar standar internasional. Bermanfaat juga untuk yang akan menjalani standar akreditasi nasional terbaru. Kami bantu anda pahami cara merangkai kegiatan persiapannya. SELAMAT TINGGAL SEMINAR YANG MEMBOSANKAN! Sesi interaktif Qinovex beri pengalaman praktis sehingga mendapat gambaran nyata kegiatan sesungguhnya. 

Narasumber : Dr. dr. Fathema D. Rachmat, Sp.B. BTKV (anggota core team JCI & ketua panitia tim TOT JCI RSCM); dr. Sejal Jaykar, BHMS, MHM (dampingi RS capai JCI); dr. Astari Mayang Anggarani, MARS (desainer adult learning events di instansi pemerintah dan swasta)

Acara : 26/11/2011, Bidakara, Jakarta Selatan, 08.00-17.00 pm, Tiket Rp. 1,5 juta

Bila anda membutuhkan pengetahuan dasar standar internasional, Qinovex hadir tanggal 2 Desember 2011 di The Bellagio. Harga tiket Rp. 1,5 juta.

Hubungi kami (Astari 081317641628; Dewi 081510333536)

Kapan Indonesia bisa seperti Jepang….?

Beberapa bulan yang lalu saya mendapatkan kesempatan untuk belajar di Tokyo, Jepang dalam mengambil salah satu sub spesialis dari ilmu bedah saraf yaitu “endovaskuler” atau kadang dikenal sebagai “neuro-intervensi”. Selama kurang lebih 2,5 bulan saya mengambil magang atau “fellowship” bidang “endovascular neurosurgery” di RS Toranomon Tokyo, Jepang. Bidang yang saya pelajari dan tekuni adalah suatu bidang “minimal invasive” untuk terapi kelainan-kelainan di otak atau saraf tulang belakang khususnya kelainan pembuluh darah. Dengan menggunakan akses sangat kecil di daerah lipatan paha atau pergelangan tangan, dapat dimasukkan selang kecil (kateter) dan kawat kecil sebagai alat untuk berjalan di dalam pembuluh darah hingga ke pembuluh darah otak atau saraf tulang belakang. Melalui kateter kecil itu, dapat dilakukan penyumbatan (oklusi) atau pembukaan (rekanalisasi) pembuluh darah-pembuluh darah di susunan saraf pusat. Penyakit-penyakit seperti stroke akibat sumbatan pembuluh darah otak, perdarahan akibat aneurisma pecah, kelainan bentuk pembuluh darah dan bahkan tumor otak (penutupan pembuluh darah yang memberikan darah pada otak) dapat dilakukan melalui prosedur ini.

Tindakan endovaskuler memang sangat berkembang saat ini (serupa dengan kateterisasi dan pemasangan stent pada jantung) karena merupakan suatu tindakan dengan trauma minimal pada pasien. Pada beberapa jenis tindakan, bahkan pasien tidak perlu dibius. Alhasil, pasien tidak perlu dirawat lama dan komplikasi yang terjadi mungkin lebih kecil dibandingkan operasi besar. Pasien juga tidak perlu dirawat di ruang rawat intensif (ICU) dan kemungkinan komplikasi akibat rawat lama di RS dapat dihindarkan. Dari segi nyeri pasca tindakan, tindakan endovaskuler akan memberikan rasa nyeri yang lebih minimal. Memang yang diperlukan adalah alat-alat yang cukup banyak dengan harga yang tidak murah. Untuk sebuah tindakan endovaskuler maka diperlukan biaya puluhan juta, namun karena di negara Jepang seluruh pelayanan kesehatan di tanggung oleh asuransi, sehingga tindakan sekompleks apapun tidak menjadi masalah. Melihat tingkat keamanannya untuk pasien, saya rasa wajar tindakan dan keilmuan ini semakin berkembang.

Setelah saya pulang ke Indonesia, keinginan saya adalah untuk mengamalkan dan menjalankan keilmuan yang sudah saya pelajari di Jepang. Dengan pengetahuan dan ketrampilan yang mudah-mudahan sudah cukup, saya memiliki cita-cita besar terhadap bidang kedokteran ini. Namun yang saya temukan ternyata tidak seindah di Jepang. Masalah biaya serta asuransi adalah keadaan yang menyedihkan dalam sistem kesehatan kita yang jauh dari baik ini. Saya menemukan banyak pasien yang membutuhkan terapi dengan keilmuan endovaskuler ini namun tidak dapat menjalani karena masalah biaya. Bahkan pasien-pasien dengan surat jaminan juga tidak mendapatkan tanggungan sepenuhnya. Kesulitan ini yang menghalangi saya dan dokter-dokter bedah saraf lainnya yang mendalami bidang ini. Berbagai usaha dilakukan untuk menyesuaikan dengan kekurangan ini namun menurut saya hasilnya tidak bisa maksimal. Masalah seperti ini tidak hanya terjadi pada prosedur ini. Berbagai tindakan operasi lainnya juga sering mengalami kendala ini.

Oleh karena itu, saat ini, usaha untuk memperbaiki sistem pembiayaan kesehatan terus dibenahi. Kesehatan tidaklah murah dan menurut saya memang wajar. Negara dan para pemimpin negara perlu menyadari bahwa kesehatan memang mahal bila kita mau menghargai manusia Indonesia sebagai sumber daya manusia yang berkualitas. Kesehatan merupakan salah satu bidang yang perlu diprioritaskan oleh negara.

Jadi…kapan Indonesia bisa seperti Jepang…..??

Pusat kenyang dan pusat lapar di otak kita….

Salah satu masalah yang banyak dialami oleh manusia adalah kegemukan dan berat badan berlebih atau istilah dalam dunia kedokteran adalah obesitas. Di jaman sekarang ini, semakin banyak faktor resiko yang mengakibatkan berat badan berlebih atau kegemukan. Makanan cepat saji, makanan manis-manis, makanan yang tidak sehat ditambah dengan pola hidup yang tidak sehat seperti malas berolah raga dan tidur tidak teratur semuanya akan mengakibatkan obesitas.

Resiko dari obesitas juga sangat banyak. Penyakit gula darah atau diabetes melitus (DM), penyakit jantung dan penyakit stroke merupakan resiko komplikasi dari obesitas tersebut. Kemudian untuk usia yang lebih muda, kegemukan sering dikaitkan dengan masalah penampilan diri dimana beberapa orang menjadi tidak percaya diri karena berat badan berlebih. Sikap menyendiri dan tidak bergaul akan menjadi pelariannya. Belum lagi masalah anak muda yang akan sulit mencari busana yang cocok.

Melihat banyak kerugiannya, sebagian besar orang terus menerus mencari cara untuk mengatasi masalah kegemukan ini. Harapan solusi cepat dan mudah selalu diinginkan. Bagi banyak orang, berolah raga dan diet tidak mudah dan seringkali gagal setelah dicoba. Selain itu, masalah waktu yang terbatas sehingga tidak punya kesempatan untuk berolahraga atau menjaga pola hidup sehat.

Salah satu cara cepat yang suka dipilih adalah dengan sedot lemak atau sering disebut “luposuction”. Tindakan mengisap lemak dari dalam tubuh atau lemak di bawah kulit merupakan usaha yang banyak dilakukan saat ini. Selain itu prosedur “gastric bypass” juga menjadi pilihan dimana sebagian usus penyerapan di dalam tubuh diambil dengan tujuan mengurangi penyerapan makanan. Namun, kedua prosedur ini tidak bebas dari komplikasi. Kemungkinan terjadinya ketidakseimbangan gizi, elektrolit bahkan hingga perdarahan pasca tindakan dapat terjadi, walau mungkin di tangan yang ahli hal ini jarang terjadi.

Cara lain yang berkembang adalah dengan hipnotis dimana pikiran kita dipengaruhi untuk menciptakan rasa kenyang dan mencegah rasa lapar walau hanya mengkonsumsi sedikit makanan. Bahkan ada yang mengatakan bisa membuat kita merasa mual setelah makan sedikit saja, sehingga mencegah untuk makan lebih banyak.

Sebenarnya rasa lapar dan rasa kenyang itu diatur oleh otak, berada pada suatu organ kecil di otak yang disebut dengan “hipotalamus”. Rasa lapar dan kenyang kita diatur berdasarkan informasi keadaan kecukupan zat makanan di dalam tubuh kita. Pada saat tubuh kita kekurangan zat gula maka pusat otak untuk rasa lapar akan terangsang. Begitu juga sebaliknya bila tubuh kita dalam keadaan kecukupan zat gula, maka pusat kenyang di otak akan terstimulasi. Beda ambang rangsang di pusat otak inilah yang menyebabkan perbedaan banyaknya makan setiap orang. Selain itu rangsangan bau makanan serta “gambar” makanan yang tercipta dari visualisasi mata akan menyebabkan rangsangan pusat lapar lebih banyak. Ditambah lagi memori otak yang menyimpan tentang enaknya rasa makanan juga akan merangsang pusat lapar otak.

Hal diatas kemudian menjadi pertimbangan bagi para ahli khususnya ahli bedah saraf tentang kemungkinan mengatur pusat lapar di otak. Pengetahuan dan penelitian sudah membuktikan bahwa bila pusat lapar dirangsang maka kita akan merasa lapar dan bila pusat kenyang dirangsang maka kita  akan merasa kenyang pula. Oleh sebab itu saat ini sedang dikembangkan cara untuk merangsang pusat lapar dan kenyang otak yang baik dan tepat. Pusat-pusat kontrol ini sangat kecil dan terletak di antara pusat-pusat pengatur lainnya. Salah rangsang maka akibatnya bisa tidak baik atau bahkan fatal. Teknik-teknik stereotaktik dan ablasi dengan radiofrekuensi terus dikembangkan oleh ahli bedah saraf untuk bisa menyelesaikan masalah obesitas ini. Besarnya rangsangan juga terus diteliti agar didapatkan angka yang paling tepat untuk masing-masing orang.

Di akhir cerita, menurut saya tetap yang terbaik adalah pola hidup sehat. Walau keadaan jaman dan lingkungan tidak mendukung, kita harus tetap berusaha menjaga kesehatan fisik dan jiwa. Sebagai harapan saya, semoga perkembangan pengetahuan dan teknik mengatur pusat lapar dan kenyang ini semakin baik sehingga dapat membantu banyak orang dengan masalah obesitas. Ayo maju terus bedah saraf dunia.

Misteri regenerasi dan pemulihan saraf

Saya awali cerita ini dengan membandingkan dua penyakit yaitu penyakit stroke dan penyakit patah tulang. Seseorang dengan patah tulang akibat kecelakaan, maka dengan terapi yang tepat, baik operasi maupun tidak, maka tulang akan dapat menyatu dan pulih kembali. Tingkat pulihnya dan kembali normalnya juga amat baik. Namun bagaimana dengan seseorang yang terkena penyakit stroke? Umumnya dikatakan setelah mendapat serangan stroke maka seseorang akan menjadi cacat seumur hidup. Kelemahan sesisi tubuh, gangguan bicara, ketidakmapuan untuk mengurus diri sendiri hingga hilangnya produktifitas merupakan beberapa konsekuensi dari penyakit stroke. Walau tindakan operasi sudah dilakukan untuk mengeluarkan darah atau tindakan intervensi sudah dilakukan untuk membuka sumbatan, namun fungsi saraf yang sudah rusak akan sulit kembali normal. Kenapa ini terjadi? Kenapa tidak bisa gangguan atau kerusakan saraf pulih sebaik patah tulang?

Jawabannya adalah karena seluruh sistem, jaringan dan organ di tubuh kita memiliki kemampuan regenerasi atau memperbaiki diri yang berbeda-beda. Kemampuan untuk pulih dari masing-masing sistem atau organ tidak sama. Ada organ yang memiliki kemampuan pulih luar biasa dan mendekati sempurna seperti tulang dan kulit. Ada organ yang memiliki kemampuan pulih sedang dimana terdapat regenerasi namun tidak sempurna seperti pada organ hepar (hati), usus dan lain-lain. Tapi juga ada organ yang memiliki kemampuan pulih sangat rendah dan saraf termasuk dalam katagori ini. Saraf disini yang dimaksud adalah sistem susunan saraf pusat yaitu otak dan saraf tulang belakang (medula spinalis).

Berbeda dengan susunan saraf pusat, maka sistem saraf perifer memiliki kemampuan regenerasi yang lebih baik. Saraf-saraf perifer yang terletak di tangan atau kaki kita bila terluka atau putus, kemudian dilakukan tindakan penyambungan yang tepat dan suasana penyembuhan yang kondusif maka pemulihan dapat terjadi. Saraf perifer yang putus, maka mulai dari daerah yang putus tersebut hingga ke ujung terjauh saraf (distal) dari sistem saraf pusat akan terjadi peleburan saraf dan selaput saraf. Peleburan otomatis ini akan diikuti dengan dibersihkannya sisa-sisa peleburan dan penghancuran oleh sel-sel makrofag (sel yang membunuh atau membersihkan kuman dan benda berbahaya di tubuh). Setelah bersih, maka sel-sel pembentuk selaput saraf akan mulai membuat kerangka atau desain saraf serupa dengan yang lama untuk selanjutnya kerangka ini akan menjadi “blue print” dalam pembentukan saraf baru. Kerangka yang sudah dibuat selaput saraf kemudian akan diisi oleh sel-sel saraf baru hingga menyerupai saraf yang lama. Hal ini tidak terjadi pada sistem saraf pusat.

Hingga saat ini terus dilakukan penelitian untuk mencari dan mengetahui rahasia pemulihan otak dan saraf tulang belakang. Berbagai usaha penelusuran dilakukan untuk mengetahui cara modifikasi sistem saraf dalam tingkat biomolekuler agar regenerasi dapat distimulasi. Cadangan-cadangan untuk pemulihan terus dicari dari otak kita yang menakjubkan ini. Penemuan terakhir mengetahui bahwa adanya sel-sel muda (stem cell) saraf di sekitar saraf penciuman kita. Sel-sel muda ini dapat tumbuh menjadi sel-sel saraf normal dan berfungsi baik. Beberapa obat sudah diproduksi untuk menstimulus sel-sel muda ini tumbuh dan menggantikan sel-sel saraf yang rusak. Obat-obat ini umumnya diberi dengan cara penetesan langsung di hidung seorang pasien. Hasilnya memang belum dipastikan namun pengalaman menunjukkan terdapat beberapa hasil yang positif, dimana regenerasi saraf terjadi.

Menurut saya penelitian harus terus dilanjutkan agar pemulihan saraf yang baik dapat ditemukan. Otak dan saraf tulang belakang merupakan pusat pengaturan segala fungsi tubuh kita dan kerusakannya akan memberikan dampak yang berat bagi kehidupan si pasien dan keluarganya. Mari, kita para cendekiawan untuk terus bekerja dan berusaha mencari dan menguasai pengetahuan ini untuk memberikan kesempatan lebih baik bagi umat manusia.

Saraf

Variasi kejang….suatu kegawat-daruratan yang penting untuk dikenali…

Menurut anda, kira-kira apa yang akan anda lakukan bila melihat salah seorang keluarga anda atau teman anda tiba-tiba jatuh dan bergerak tidak terkendali atau yang biasanya disebut dengan “kelojotan”? Mungkin hingga detik ke 5 atau ke 10 kejadian, anda akan hanya diam terpaku, bingung, takut atau mungkin berteriak minta pertolongan. Mungkin juga anda akan bereaksi cepat dengan memegang tangan atau badannya dengan harapan agar kelojotannya akan berhenti. Tapi apakah ini merupakan langkah yang benar? Apakah ini yang disebut kejang? Apakah hal ini merupakan suatu penanda kegawatan…?

Kejang merupakan suatu keluhan atau gejala yang biasanya akan membawa seseorang atau keluarganya untuk segera mencari pertolongan medis ke rumah sakit. Kejadian dimana tiba-tiba seorang bergerak-gerak ritmis tidak terkontrol dan sekaligus tidak sadar merupakan suatu kejadian yang bisa kita bilang mencengangkan dan menakutkan. Apalagi setelah “kelojotannya” berhenti, si penderita biasanya masih tidak bereaksi bila dipanggil atau bahkan lupa sendiri dengan apa yang dialamainya barusan.

Kejang disebabkan oleh adanya lompatan listrik atau ketidakseimbangan atau kacaunya aliran listrik di otak, khususnya daerah otak yang mengatur gerak tubuh. Otak kita yang begitu menakjubkan itu, ternyata inti-inti utama yang mengatur fungsi-fungsi tingkat tinggi tubuh kita seperti kemampuan bergerak, merasa dan berbicara terletak pada permukaannya, dan bukan di dalamnya. Penyebab gangguan aliran listrik ini bisa dikarenakan adanya kerusakan sel-sel otak akibat gangguan metabolisme/kimiawi, seperti akibat kurangnya asupan gula dan oksigen ke otak, atau bisa juga karena kerusakan mekanik, seperti permukaan otak robek atau bengkak pasca trauma kepala hebat. Aliran listrik yang akan melewati sel-sel otak yang rusak kemudian akan terganggu atau melompat sehingga mengakibatkan seseorang kejang.

Mungkin jenis penyakit kejang yang paling dikenal masyarakat adalah “epilepsi”. Tetapi kenyataannya walau angka kejadian epilepsi cukup banyak, masih lebih banyak lagi jenis-jenis kejang lainnya. Yang tidak diketahui oleh masyarakat adalah ternyata bentuk kejang itu memiliki tingkatan dari yang teringan hingga terberat. Salah satu kejang yang terberat adalah yang disebut dengan “status epileptikus” dalam dunia medis, dimana pasien kejang terus menerus dan tidak sadar dalam 30 menit, ataupun kejang dengan adanya interval berhenti dalam waktu 30 menit secara terus menerus tanpa ada periode sadar.

Namun tahukah anda bentuk kejang yang teringan….??

Bentuk kejang yang teringan adalah yang disebut dalam dunia medis sebagai “suatu bentuk sakit kepala yang berserangan”. Maksudnya berserangan disini adalah sakit kepala yang menyerang secara hilang timbul. Jadi gangguan lompatan listrik pada otak juga dapat bermanifestasi menjadi sakit kepala. Namun belum tentu juga setiap sakit kepala merupakan kejang. Sedikit lebih berat dari ini adalah bentuk kejang yang disebut dengan kejang “absans”, dimana penderitanya tiba-tiba diam untuk sesaat dan kemudian setelah beberapa waktu akan tersadar kembali namun tidak mengingat sama sekali fase diamnya tadi. Penderita benar-benar lupa kalau dia sempat “terdiam” dan tidak ingat apapun.

Nah selanjutnya, apa yang terjadi pada otak kita saat serangan kejang…?

Pada saat kejang, lompatan listrik menjadi tidak teratur dan kacau. Selain itu pada saat kejang, aliran darah ke otak akan terganggu atau berhenti sesaat selama periode kejang berlangsung. Disinilah kegawat-daruratannya dimana otak sangat membutuhkan oksigen dan asupan kalori yang dibawa oleh aliran darah ke otak. Bila dalam interval waktu tertentu yang relatif singkat, otak tidak mendapatkan oksigen atau energi maka sel-sel otak akan mati. Parahnya lagi, sel-sel otak yang rusak akan menularkan kerusakannya ke sel-sel tetangganya selama asupan oksigen dan energi dicukupkan.

Bila seorang pasien mengalami kejang di rumah sakit atau sarana medis lainnya maka yang harus segera dilakukan adalah memastikan asupan oksigen cukup masuk ke dalam tubuh / otak. Pasien akan segera diberikan oksigen oleh tenaga medis. Kemudian pasien juga akan diberikan obat anti kejang yang bekerja cepat untuk menghentikan kejangnya. Karena selama pasien masih kejang, maka kerusakan otak akan bertambah terus.

Namun bagaimana bila kejadian kejang berangsung di rumah atau dimanapun yang jauh dari sarana medis? Maka yang dapat kita lakukan adalah juga memastikan bahwa penderita mendapatkan asupan oksigen yang cukup. Pasien kejang jangan dikerumuni karena kerumunan orang ramai akan mengurangi oksigen di sekitar pasien. Kemudian pastikan lidah penderita tidak jatuh menutup kerongkongan/tenggorokan atau tergigit, karena dapat menutup saluran pintu masuk oksigen ke dalam tubuh. Selanjutnya segera bawa penderita ke rumah sakit.

Untuk terapi kejang, sudah banyak terdapat obat anti kejang yang disesuaikan dengan kebutuhan pasien, baik untuk anak-anak maupun orang dewasa. Kadang dibutuhkan obat lebih dari satu dan dikombinasikan untuk mengobatinya dan kadang butuh waktu untuk mendapatkan kombinasi obat yang paling tepat dan cocok untuk pasien. Bila terapi dengan obat-obatan gagal, maka masih ada terapi operasi untuk mengatasi atau mengurangi kejang. Keilmuan bedah saraf sudah begitu majunya saat ini sehingga tindakan operasi dapat menjadi pilihan untuk mengatasi kejang.

Pada akhirnya saya ingin menyampaikan sebuah cerita tentang pengalaman saya dengan seorang pasien. Pasiennya adalah seorang anak usia 3 tahun yang dibawa orangtuanya berobat ke saya untuk masalah kejang. Sayangnya kejang sudah berlangsung selama 2 tahun terakhir dengan frekuensi kejang sekitar 2-3 kali seminggu. Selama 2 tahun, anak tidak dibawa orangtuanya ke rumah sakit karena dianggap kejang akan berhenti sendiri akhirnya walau sering muncul, selain masalah biaya tentunya. Tapi…inilah hasilnya….di depan saya terbaring anak dengan tatapan kosong, tidak aktif, tidak bereaksi bila dipanggil dengan otot-otot badan sudah lemah. Anak ini sudah menjadi manusia yang walau bernyawa tapi tidak memiliki fungsi apapun lagi di tubuhnya. Kerusakan otaknya sudah begitu berat sehingga sel-sel otaknya sebagian besar sudah mati. Anak ini selanjutnya mungkin akan tetap hidup namun tidak bisa berfungsi seperti manusia biasanya, dan tindakan medis apapun akan sulit menolongnya lagi.

Ayo, selamatkan generasi muda dan sumber daya manusia Indonesia dari bahaya kejang sehingga tetap menjadi manusia yang produktif dan berguna untuk keluarga, nusa dan bangsa.

Jahatnya infeksi otak pada anak…

Salah satu hal yang paling ditakuti oleh seorang dokter bedah saraf seperti saya adalah infeksi khususnya infeksi pada susunan saraf pusat (otak dan tulang belakang). Berbeda dengan infeksi-infeksi lainnya di dalam tubuh kita, infeksi susunan saraf pusat merupakan salah satu jenis infeksi terberat dan sulit diobati. Penyakit-penyakit infeksi lainnya di dalam tubuh mungkin dapat diobati dengan antibiotik, tetapi infeksi otak mungkin membutuhkan antibiotik lebih kuat dan pengobatan lainnya. Ditambah, kondisi anak dengan infeksi otak biasanya tidak bagus dan dengan sistem imunitas tubuh yang sudah terganggu.

Saya ingin bercerita tentang seorang anak yang saya rawat. Anak ini tidak akan pernah bisa terlupakan dari ingatan saya, merupakan salah seorang anak yang menjadi “guru” saya selama saya pendidikan bedah saraf. Anak kecil dengan paras sangat lucu berusia sekitar 1 tahun. Yang tak terlupakan adalah kebiasaan anak ini yang suka merenggangkan badannya seperti mengedan. Tidak biasa tapi untuk anak dengan bobot yang sedikit gemuk menimbulkan rasa gemas dan lucu. Saya ingat ketika orangtuanya membawanya pertama kali ke rumah sakit. Saya melihat orangtuanya masih sangat muda tapi dengan wajah yang tenang walau sedikit khawatir. Saya melihat ukuran kepala anak itu memang lebih besar dari normal, muncul di benak saya bahwa anak ini menderita “Hidrocephalus”, suatu penyakit akibat penumpukan cairan otak di dalam kepala sehingga tekanan di dalam kepala meningkat dan mengakibatkan ukuran kepala bertambah besar.

Pendapat saya dikonfirmasi dengan gambaran pemeriksaan CT Scan kepala yang menunjukkan “Hydranencephaly”, suatu penyakit seperti hydrocephalus tetapi lebih berat karena penumpukan cairan otak lebih banyak dan jaringan otak hampir tidak tumbuh sama sekali. Saya kemudian menjelaskan kepada orangtuanya dan meminta mereka untuk bersabar. Setelah dijelaskan, orangtua tetap menginginkan dilakukan operasi walau dengan berbagai resiko yang ada.

Operasi pun dilakukan dengan pemasangan selang untuk mengalirkan cairan otak yang tertumpuk. Setelah operasi, kondisinya sedikit lebih baik dan setelah beberapa hari anak itu pulang.

Namun, 1 bulan kemudian, orangtua membawa kembali anaknya ke rumah sakit. Kondisinya lemah, dengan suhu badan yang tinggi. Terdapat pula riwayat kejang. Dilakukan pemeriksaan lengkap dan disimpulkan bahwa anak tersebut mengalami infeksi otak. Selang yang sudah kita pasang terpaksa dikeluarkan karena dapat memperberat infeksi. Anak tersebut kemudian dirawat dan diberikan antibiotik kuat oleh dokter anak. Setelah dirawat 2 minggu, anak tersebut sedikit mengalami perbaikan dan kemudian diijinkan pulang. Di rumah tidak lama, 5 hari kemudian anak itu kembali masuk rumah sakit dengan kondisi yang sama dan dirawat kembali untuk infeksi otaknya. Hal ini berlangsung terus menerus hingga saya tidak menerima kabar lagi dari orangtua.

Beberapa bulan kemudian, pada suatu pagi, saya mendapat telefon dari ibu anak tersebut. Kabar mengejutkan saya dapatkan kalau anaknya sudah tiada sejak semalam. Terjadi serangan kembali dan saat dibawa ke rumah sakit, sudah tidak bernyawa lagi. Ternyata anak lucu itu akhirnya sudah lelah dengan perjuangannya melawan penyakit berat itu. Anak kecil malang yang kuat itu akhirnya telah berpulang kepadaNYA dan mendapatkan tempat yang lebih baik. Saya sempat terdiam untuk beberapa saat. Sedih dan sedikit rasa bersalah bercampur di dalam hati dan pikiran. Seorang “guru” saya sudah pergi untuk selamanya. Selang beberapa hari, saya diundang untuk menyampaikan belasungkawa. Orangtuanya terus tersenyum dan mengucapkan terima kasih kepada saya.

Infeksi otak adalah penyakit yang berat khususnya pada anak, salah satu yang paling ditakuti oleh seorang ahli bedah saraf. Usahakan hidup dalam tingkat kebersihan yang baik dan berikan gizi yang cukup pada anak-anak kita.