Pusat kenyang dan pusat lapar di otak kita….

Salah satu masalah yang banyak dialami oleh manusia adalah kegemukan dan berat badan berlebih atau istilah dalam dunia kedokteran adalah obesitas. Di jaman sekarang ini, semakin banyak faktor resiko yang mengakibatkan berat badan berlebih atau kegemukan. Makanan cepat saji, makanan manis-manis, makanan yang tidak sehat ditambah dengan pola hidup yang tidak sehat seperti malas berolah raga dan tidur tidak teratur semuanya akan mengakibatkan obesitas.

Resiko dari obesitas juga sangat banyak. Penyakit gula darah atau diabetes melitus (DM), penyakit jantung dan penyakit stroke merupakan resiko komplikasi dari obesitas tersebut. Kemudian untuk usia yang lebih muda, kegemukan sering dikaitkan dengan masalah penampilan diri dimana beberapa orang menjadi tidak percaya diri karena berat badan berlebih. Sikap menyendiri dan tidak bergaul akan menjadi pelariannya. Belum lagi masalah anak muda yang akan sulit mencari busana yang cocok.

Melihat banyak kerugiannya, sebagian besar orang terus menerus mencari cara untuk mengatasi masalah kegemukan ini. Harapan solusi cepat dan mudah selalu diinginkan. Bagi banyak orang, berolah raga dan diet tidak mudah dan seringkali gagal setelah dicoba. Selain itu, masalah waktu yang terbatas sehingga tidak punya kesempatan untuk berolahraga atau menjaga pola hidup sehat.

Salah satu cara cepat yang suka dipilih adalah dengan sedot lemak atau sering disebut “luposuction”. Tindakan mengisap lemak dari dalam tubuh atau lemak di bawah kulit merupakan usaha yang banyak dilakukan saat ini. Selain itu prosedur “gastric bypass” juga menjadi pilihan dimana sebagian usus penyerapan di dalam tubuh diambil dengan tujuan mengurangi penyerapan makanan. Namun, kedua prosedur ini tidak bebas dari komplikasi. Kemungkinan terjadinya ketidakseimbangan gizi, elektrolit bahkan hingga perdarahan pasca tindakan dapat terjadi, walau mungkin di tangan yang ahli hal ini jarang terjadi.

Cara lain yang berkembang adalah dengan hipnotis dimana pikiran kita dipengaruhi untuk menciptakan rasa kenyang dan mencegah rasa lapar walau hanya mengkonsumsi sedikit makanan. Bahkan ada yang mengatakan bisa membuat kita merasa mual setelah makan sedikit saja, sehingga mencegah untuk makan lebih banyak.

Sebenarnya rasa lapar dan rasa kenyang itu diatur oleh otak, berada pada suatu organ kecil di otak yang disebut dengan “hipotalamus”. Rasa lapar dan kenyang kita diatur berdasarkan informasi keadaan kecukupan zat makanan di dalam tubuh kita. Pada saat tubuh kita kekurangan zat gula maka pusat otak untuk rasa lapar akan terangsang. Begitu juga sebaliknya bila tubuh kita dalam keadaan kecukupan zat gula, maka pusat kenyang di otak akan terstimulasi. Beda ambang rangsang di pusat otak inilah yang menyebabkan perbedaan banyaknya makan setiap orang. Selain itu rangsangan bau makanan serta “gambar” makanan yang tercipta dari visualisasi mata akan menyebabkan rangsangan pusat lapar lebih banyak. Ditambah lagi memori otak yang menyimpan tentang enaknya rasa makanan juga akan merangsang pusat lapar otak.

Hal diatas kemudian menjadi pertimbangan bagi para ahli khususnya ahli bedah saraf tentang kemungkinan mengatur pusat lapar di otak. Pengetahuan dan penelitian sudah membuktikan bahwa bila pusat lapar dirangsang maka kita akan merasa lapar dan bila pusat kenyang dirangsang maka kita  akan merasa kenyang pula. Oleh sebab itu saat ini sedang dikembangkan cara untuk merangsang pusat lapar dan kenyang otak yang baik dan tepat. Pusat-pusat kontrol ini sangat kecil dan terletak di antara pusat-pusat pengatur lainnya. Salah rangsang maka akibatnya bisa tidak baik atau bahkan fatal. Teknik-teknik stereotaktik dan ablasi dengan radiofrekuensi terus dikembangkan oleh ahli bedah saraf untuk bisa menyelesaikan masalah obesitas ini. Besarnya rangsangan juga terus diteliti agar didapatkan angka yang paling tepat untuk masing-masing orang.

Di akhir cerita, menurut saya tetap yang terbaik adalah pola hidup sehat. Walau keadaan jaman dan lingkungan tidak mendukung, kita harus tetap berusaha menjaga kesehatan fisik dan jiwa. Sebagai harapan saya, semoga perkembangan pengetahuan dan teknik mengatur pusat lapar dan kenyang ini semakin baik sehingga dapat membantu banyak orang dengan masalah obesitas. Ayo maju terus bedah saraf dunia.

Iklan

Misteri regenerasi dan pemulihan saraf

Saya awali cerita ini dengan membandingkan dua penyakit yaitu penyakit stroke dan penyakit patah tulang. Seseorang dengan patah tulang akibat kecelakaan, maka dengan terapi yang tepat, baik operasi maupun tidak, maka tulang akan dapat menyatu dan pulih kembali. Tingkat pulihnya dan kembali normalnya juga amat baik. Namun bagaimana dengan seseorang yang terkena penyakit stroke? Umumnya dikatakan setelah mendapat serangan stroke maka seseorang akan menjadi cacat seumur hidup. Kelemahan sesisi tubuh, gangguan bicara, ketidakmapuan untuk mengurus diri sendiri hingga hilangnya produktifitas merupakan beberapa konsekuensi dari penyakit stroke. Walau tindakan operasi sudah dilakukan untuk mengeluarkan darah atau tindakan intervensi sudah dilakukan untuk membuka sumbatan, namun fungsi saraf yang sudah rusak akan sulit kembali normal. Kenapa ini terjadi? Kenapa tidak bisa gangguan atau kerusakan saraf pulih sebaik patah tulang?

Jawabannya adalah karena seluruh sistem, jaringan dan organ di tubuh kita memiliki kemampuan regenerasi atau memperbaiki diri yang berbeda-beda. Kemampuan untuk pulih dari masing-masing sistem atau organ tidak sama. Ada organ yang memiliki kemampuan pulih luar biasa dan mendekati sempurna seperti tulang dan kulit. Ada organ yang memiliki kemampuan pulih sedang dimana terdapat regenerasi namun tidak sempurna seperti pada organ hepar (hati), usus dan lain-lain. Tapi juga ada organ yang memiliki kemampuan pulih sangat rendah dan saraf termasuk dalam katagori ini. Saraf disini yang dimaksud adalah sistem susunan saraf pusat yaitu otak dan saraf tulang belakang (medula spinalis).

Berbeda dengan susunan saraf pusat, maka sistem saraf perifer memiliki kemampuan regenerasi yang lebih baik. Saraf-saraf perifer yang terletak di tangan atau kaki kita bila terluka atau putus, kemudian dilakukan tindakan penyambungan yang tepat dan suasana penyembuhan yang kondusif maka pemulihan dapat terjadi. Saraf perifer yang putus, maka mulai dari daerah yang putus tersebut hingga ke ujung terjauh saraf (distal) dari sistem saraf pusat akan terjadi peleburan saraf dan selaput saraf. Peleburan otomatis ini akan diikuti dengan dibersihkannya sisa-sisa peleburan dan penghancuran oleh sel-sel makrofag (sel yang membunuh atau membersihkan kuman dan benda berbahaya di tubuh). Setelah bersih, maka sel-sel pembentuk selaput saraf akan mulai membuat kerangka atau desain saraf serupa dengan yang lama untuk selanjutnya kerangka ini akan menjadi “blue print” dalam pembentukan saraf baru. Kerangka yang sudah dibuat selaput saraf kemudian akan diisi oleh sel-sel saraf baru hingga menyerupai saraf yang lama. Hal ini tidak terjadi pada sistem saraf pusat.

Hingga saat ini terus dilakukan penelitian untuk mencari dan mengetahui rahasia pemulihan otak dan saraf tulang belakang. Berbagai usaha penelusuran dilakukan untuk mengetahui cara modifikasi sistem saraf dalam tingkat biomolekuler agar regenerasi dapat distimulasi. Cadangan-cadangan untuk pemulihan terus dicari dari otak kita yang menakjubkan ini. Penemuan terakhir mengetahui bahwa adanya sel-sel muda (stem cell) saraf di sekitar saraf penciuman kita. Sel-sel muda ini dapat tumbuh menjadi sel-sel saraf normal dan berfungsi baik. Beberapa obat sudah diproduksi untuk menstimulus sel-sel muda ini tumbuh dan menggantikan sel-sel saraf yang rusak. Obat-obat ini umumnya diberi dengan cara penetesan langsung di hidung seorang pasien. Hasilnya memang belum dipastikan namun pengalaman menunjukkan terdapat beberapa hasil yang positif, dimana regenerasi saraf terjadi.

Menurut saya penelitian harus terus dilanjutkan agar pemulihan saraf yang baik dapat ditemukan. Otak dan saraf tulang belakang merupakan pusat pengaturan segala fungsi tubuh kita dan kerusakannya akan memberikan dampak yang berat bagi kehidupan si pasien dan keluarganya. Mari, kita para cendekiawan untuk terus bekerja dan berusaha mencari dan menguasai pengetahuan ini untuk memberikan kesempatan lebih baik bagi umat manusia.

Saraf

Variasi kejang….suatu kegawat-daruratan yang penting untuk dikenali…

Menurut anda, kira-kira apa yang akan anda lakukan bila melihat salah seorang keluarga anda atau teman anda tiba-tiba jatuh dan bergerak tidak terkendali atau yang biasanya disebut dengan “kelojotan”? Mungkin hingga detik ke 5 atau ke 10 kejadian, anda akan hanya diam terpaku, bingung, takut atau mungkin berteriak minta pertolongan. Mungkin juga anda akan bereaksi cepat dengan memegang tangan atau badannya dengan harapan agar kelojotannya akan berhenti. Tapi apakah ini merupakan langkah yang benar? Apakah ini yang disebut kejang? Apakah hal ini merupakan suatu penanda kegawatan…?

Kejang merupakan suatu keluhan atau gejala yang biasanya akan membawa seseorang atau keluarganya untuk segera mencari pertolongan medis ke rumah sakit. Kejadian dimana tiba-tiba seorang bergerak-gerak ritmis tidak terkontrol dan sekaligus tidak sadar merupakan suatu kejadian yang bisa kita bilang mencengangkan dan menakutkan. Apalagi setelah “kelojotannya” berhenti, si penderita biasanya masih tidak bereaksi bila dipanggil atau bahkan lupa sendiri dengan apa yang dialamainya barusan.

Kejang disebabkan oleh adanya lompatan listrik atau ketidakseimbangan atau kacaunya aliran listrik di otak, khususnya daerah otak yang mengatur gerak tubuh. Otak kita yang begitu menakjubkan itu, ternyata inti-inti utama yang mengatur fungsi-fungsi tingkat tinggi tubuh kita seperti kemampuan bergerak, merasa dan berbicara terletak pada permukaannya, dan bukan di dalamnya. Penyebab gangguan aliran listrik ini bisa dikarenakan adanya kerusakan sel-sel otak akibat gangguan metabolisme/kimiawi, seperti akibat kurangnya asupan gula dan oksigen ke otak, atau bisa juga karena kerusakan mekanik, seperti permukaan otak robek atau bengkak pasca trauma kepala hebat. Aliran listrik yang akan melewati sel-sel otak yang rusak kemudian akan terganggu atau melompat sehingga mengakibatkan seseorang kejang.

Mungkin jenis penyakit kejang yang paling dikenal masyarakat adalah “epilepsi”. Tetapi kenyataannya walau angka kejadian epilepsi cukup banyak, masih lebih banyak lagi jenis-jenis kejang lainnya. Yang tidak diketahui oleh masyarakat adalah ternyata bentuk kejang itu memiliki tingkatan dari yang teringan hingga terberat. Salah satu kejang yang terberat adalah yang disebut dengan “status epileptikus” dalam dunia medis, dimana pasien kejang terus menerus dan tidak sadar dalam 30 menit, ataupun kejang dengan adanya interval berhenti dalam waktu 30 menit secara terus menerus tanpa ada periode sadar.

Namun tahukah anda bentuk kejang yang teringan….??

Bentuk kejang yang teringan adalah yang disebut dalam dunia medis sebagai “suatu bentuk sakit kepala yang berserangan”. Maksudnya berserangan disini adalah sakit kepala yang menyerang secara hilang timbul. Jadi gangguan lompatan listrik pada otak juga dapat bermanifestasi menjadi sakit kepala. Namun belum tentu juga setiap sakit kepala merupakan kejang. Sedikit lebih berat dari ini adalah bentuk kejang yang disebut dengan kejang “absans”, dimana penderitanya tiba-tiba diam untuk sesaat dan kemudian setelah beberapa waktu akan tersadar kembali namun tidak mengingat sama sekali fase diamnya tadi. Penderita benar-benar lupa kalau dia sempat “terdiam” dan tidak ingat apapun.

Nah selanjutnya, apa yang terjadi pada otak kita saat serangan kejang…?

Pada saat kejang, lompatan listrik menjadi tidak teratur dan kacau. Selain itu pada saat kejang, aliran darah ke otak akan terganggu atau berhenti sesaat selama periode kejang berlangsung. Disinilah kegawat-daruratannya dimana otak sangat membutuhkan oksigen dan asupan kalori yang dibawa oleh aliran darah ke otak. Bila dalam interval waktu tertentu yang relatif singkat, otak tidak mendapatkan oksigen atau energi maka sel-sel otak akan mati. Parahnya lagi, sel-sel otak yang rusak akan menularkan kerusakannya ke sel-sel tetangganya selama asupan oksigen dan energi dicukupkan.

Bila seorang pasien mengalami kejang di rumah sakit atau sarana medis lainnya maka yang harus segera dilakukan adalah memastikan asupan oksigen cukup masuk ke dalam tubuh / otak. Pasien akan segera diberikan oksigen oleh tenaga medis. Kemudian pasien juga akan diberikan obat anti kejang yang bekerja cepat untuk menghentikan kejangnya. Karena selama pasien masih kejang, maka kerusakan otak akan bertambah terus.

Namun bagaimana bila kejadian kejang berangsung di rumah atau dimanapun yang jauh dari sarana medis? Maka yang dapat kita lakukan adalah juga memastikan bahwa penderita mendapatkan asupan oksigen yang cukup. Pasien kejang jangan dikerumuni karena kerumunan orang ramai akan mengurangi oksigen di sekitar pasien. Kemudian pastikan lidah penderita tidak jatuh menutup kerongkongan/tenggorokan atau tergigit, karena dapat menutup saluran pintu masuk oksigen ke dalam tubuh. Selanjutnya segera bawa penderita ke rumah sakit.

Untuk terapi kejang, sudah banyak terdapat obat anti kejang yang disesuaikan dengan kebutuhan pasien, baik untuk anak-anak maupun orang dewasa. Kadang dibutuhkan obat lebih dari satu dan dikombinasikan untuk mengobatinya dan kadang butuh waktu untuk mendapatkan kombinasi obat yang paling tepat dan cocok untuk pasien. Bila terapi dengan obat-obatan gagal, maka masih ada terapi operasi untuk mengatasi atau mengurangi kejang. Keilmuan bedah saraf sudah begitu majunya saat ini sehingga tindakan operasi dapat menjadi pilihan untuk mengatasi kejang.

Pada akhirnya saya ingin menyampaikan sebuah cerita tentang pengalaman saya dengan seorang pasien. Pasiennya adalah seorang anak usia 3 tahun yang dibawa orangtuanya berobat ke saya untuk masalah kejang. Sayangnya kejang sudah berlangsung selama 2 tahun terakhir dengan frekuensi kejang sekitar 2-3 kali seminggu. Selama 2 tahun, anak tidak dibawa orangtuanya ke rumah sakit karena dianggap kejang akan berhenti sendiri akhirnya walau sering muncul, selain masalah biaya tentunya. Tapi…inilah hasilnya….di depan saya terbaring anak dengan tatapan kosong, tidak aktif, tidak bereaksi bila dipanggil dengan otot-otot badan sudah lemah. Anak ini sudah menjadi manusia yang walau bernyawa tapi tidak memiliki fungsi apapun lagi di tubuhnya. Kerusakan otaknya sudah begitu berat sehingga sel-sel otaknya sebagian besar sudah mati. Anak ini selanjutnya mungkin akan tetap hidup namun tidak bisa berfungsi seperti manusia biasanya, dan tindakan medis apapun akan sulit menolongnya lagi.

Ayo, selamatkan generasi muda dan sumber daya manusia Indonesia dari bahaya kejang sehingga tetap menjadi manusia yang produktif dan berguna untuk keluarga, nusa dan bangsa.

Jahatnya infeksi otak pada anak…

Salah satu hal yang paling ditakuti oleh seorang dokter bedah saraf seperti saya adalah infeksi khususnya infeksi pada susunan saraf pusat (otak dan tulang belakang). Berbeda dengan infeksi-infeksi lainnya di dalam tubuh kita, infeksi susunan saraf pusat merupakan salah satu jenis infeksi terberat dan sulit diobati. Penyakit-penyakit infeksi lainnya di dalam tubuh mungkin dapat diobati dengan antibiotik, tetapi infeksi otak mungkin membutuhkan antibiotik lebih kuat dan pengobatan lainnya. Ditambah, kondisi anak dengan infeksi otak biasanya tidak bagus dan dengan sistem imunitas tubuh yang sudah terganggu.

Saya ingin bercerita tentang seorang anak yang saya rawat. Anak ini tidak akan pernah bisa terlupakan dari ingatan saya, merupakan salah seorang anak yang menjadi “guru” saya selama saya pendidikan bedah saraf. Anak kecil dengan paras sangat lucu berusia sekitar 1 tahun. Yang tak terlupakan adalah kebiasaan anak ini yang suka merenggangkan badannya seperti mengedan. Tidak biasa tapi untuk anak dengan bobot yang sedikit gemuk menimbulkan rasa gemas dan lucu. Saya ingat ketika orangtuanya membawanya pertama kali ke rumah sakit. Saya melihat orangtuanya masih sangat muda tapi dengan wajah yang tenang walau sedikit khawatir. Saya melihat ukuran kepala anak itu memang lebih besar dari normal, muncul di benak saya bahwa anak ini menderita “Hidrocephalus”, suatu penyakit akibat penumpukan cairan otak di dalam kepala sehingga tekanan di dalam kepala meningkat dan mengakibatkan ukuran kepala bertambah besar.

Pendapat saya dikonfirmasi dengan gambaran pemeriksaan CT Scan kepala yang menunjukkan “Hydranencephaly”, suatu penyakit seperti hydrocephalus tetapi lebih berat karena penumpukan cairan otak lebih banyak dan jaringan otak hampir tidak tumbuh sama sekali. Saya kemudian menjelaskan kepada orangtuanya dan meminta mereka untuk bersabar. Setelah dijelaskan, orangtua tetap menginginkan dilakukan operasi walau dengan berbagai resiko yang ada.

Operasi pun dilakukan dengan pemasangan selang untuk mengalirkan cairan otak yang tertumpuk. Setelah operasi, kondisinya sedikit lebih baik dan setelah beberapa hari anak itu pulang.

Namun, 1 bulan kemudian, orangtua membawa kembali anaknya ke rumah sakit. Kondisinya lemah, dengan suhu badan yang tinggi. Terdapat pula riwayat kejang. Dilakukan pemeriksaan lengkap dan disimpulkan bahwa anak tersebut mengalami infeksi otak. Selang yang sudah kita pasang terpaksa dikeluarkan karena dapat memperberat infeksi. Anak tersebut kemudian dirawat dan diberikan antibiotik kuat oleh dokter anak. Setelah dirawat 2 minggu, anak tersebut sedikit mengalami perbaikan dan kemudian diijinkan pulang. Di rumah tidak lama, 5 hari kemudian anak itu kembali masuk rumah sakit dengan kondisi yang sama dan dirawat kembali untuk infeksi otaknya. Hal ini berlangsung terus menerus hingga saya tidak menerima kabar lagi dari orangtua.

Beberapa bulan kemudian, pada suatu pagi, saya mendapat telefon dari ibu anak tersebut. Kabar mengejutkan saya dapatkan kalau anaknya sudah tiada sejak semalam. Terjadi serangan kembali dan saat dibawa ke rumah sakit, sudah tidak bernyawa lagi. Ternyata anak lucu itu akhirnya sudah lelah dengan perjuangannya melawan penyakit berat itu. Anak kecil malang yang kuat itu akhirnya telah berpulang kepadaNYA dan mendapatkan tempat yang lebih baik. Saya sempat terdiam untuk beberapa saat. Sedih dan sedikit rasa bersalah bercampur di dalam hati dan pikiran. Seorang “guru” saya sudah pergi untuk selamanya. Selang beberapa hari, saya diundang untuk menyampaikan belasungkawa. Orangtuanya terus tersenyum dan mengucapkan terima kasih kepada saya.

Infeksi otak adalah penyakit yang berat khususnya pada anak, salah satu yang paling ditakuti oleh seorang ahli bedah saraf. Usahakan hidup dalam tingkat kebersihan yang baik dan berikan gizi yang cukup pada anak-anak kita.

Sakit kepala…hal yang biasa atau peringatan suatu penyakit serius di dalam tubuh kita…?

Selama saya bertugas sebagai seorang dokter bedah saraf, saya menerima pasien dengan berbagai macam penyakit, mulai dari tumor otak, kelainan pembuluh darah otak, infeksi susunan saraf pusat, kelainan tulang belakang bagian leher, trauma kepala, dan lain-lain. Tingkat penyakitnya juga bervariasi, tapi sebagian besar pasien sudah datang dengan penyakit lanjut. Tumor otak yang sudah begitu besar ukurannya, tingkat kelainan pembuluh darah otak yang berat, infeksi susunan saraf pusat yang sudah parah, trauma kepala tanpa tata laksana yang lengkap, dan lain-lain, menunjukkan bahwa pasien-pasien tersebut termasuk telat dalam mencari pertolongan medis. Hal ini memang tidak bisa kita salahkan sepenuhnya kepada pasien mengingat sistem kesehatan di Indonesia masih jauh dari sempurna dan kesehatan masih termasuk hal yang mahal di Indonesia.

Yang menarik adalah bahwa hampir 80% keterangan yang saya terima dari pasien-pasien tersebut mengenai riwayat penyakitnya adalah bahwa selalu diawali dengan sakit kepala. Sakit kepala yang awalnya bersifat ringan dan hilang timbul, kemudian menjadi memberat namun masih dapat teratasi dengan obat-obatan hingga sakit kepala yang sangat berat dan tidak reda dengan obat-obatan yang biasa dipakai, merupakan keluhan yang umumnya disampaikan para pasien. Pada saat sakit kepalanya sudah tidak tertahankan, barulah pasien mencari pertolongan ke dokter. Sayang sekali, ternyata sebagian dokter juga menganggap bahwa sakit kepala merupakan hal yang biasa yang bisa disebabkan oleh banyak faktor dan tidak dianggap serius. Pasien kemudian hanya diberikan obat-obatan sakit kepala yang lebih kuat. Perjalanan penyakit pasien-pasien tersebut kemudian bertambah parah dimana keluhan-keluhan tambahan mulai timbul. Rasa mual, muntah, kelainan-kelainan lainnya kemudian akan menambah penderitaan pasien yang membuat para dokter kemudian mengirim pasien-pasien tersebut untuk pemeriksaan lebh lanjut dengan foto kepala, CT Scan kepala atau MRI kepala. Barulah dari pemeriksaan ini ditemukan kelainan yang sesungguhnya, yang kemudian pasien dikonsulkan ke dokter bedah saraf.

Yang menyedihkan adalah pasien-pasien ini datang sudah dengan kerusakan lanjut sistem otak akibat kelainan yang dideritanya. Sehingga tindakan operasi yang dapat seorang ahli bedah saraf lakukan tidak bisa mengembalikan fungsi pasien-pasien tersebut secara optimal. Memang, tindakan operasi tetap kita sarankan untuk mencegah kerusakan lebih lanjut dan juga mungkin dapat menyelamatkan jiwa, tapi fungsi-fungsi tubuh yang diperlukan mereka untuk bekerja sudah rusak.

Disinilah menjadi pemikiran saya, andaikan pasien-pasien ini datang lebih dini, pada saat keluhannya hanya sakit kepala yang bersifat ringan atau sedang, tanpa ada keluhan lain yang menandakan sudah adanya kerusakan saraf, maka kita dapat memberikan pertolongan dengan hasil yang lebih baik. Namun, siapa sih yang mau berobat ke dokter bedah saraf hanya dengan keluhan sakit kepala saja….? Mungkin tidak ada sama sekali. Bahkan sebagian besar orang takut mendengar kata “bedah saraf”.

Saya kemudian berusaha mencari tahu lebih dalam tentang sakit kepala. Apa sebenarnya sakit kepala itu dan bagaimana sakit kepala membantu seorang dokter dalam menentukan diagnosa penyakit seorang pasien.

Dari penelusuran saya ke dalam tinjaun pustaka dan jurnal-jurnal yang ada, sakit kepala merupakan topik yang sangat luas dan masih membutuhkan pengembangan lebih lanjut dalam dunia medis sebagai suatu keluhan pasien yang terbesar. Sakit kepala secara umum dibagi menjadi dua yaitu; sakit kepala karena kelainan di luar kepala dan sakit kepala karena kelainan di dalam kepala. Seseorang dapat mengalami sakit kepala bila memiliki tekanan darah tinggi, kolesterol tinggi, kadar gula tinggi atau rendah, atau karena gangguan psikis dan beban mental. Ini adalah beberapa contoh sakit kepala karena kelainan di luar kepala. Namun, sakit kepala juga dapat timbul pada tumor otak, perdarahan otak, infeksi otak dan kelainan-kelainan lain di dalam otak. Lalu….bagaimana cara membedakannya…?

Hingga saat ini, belum ditemukan cara yang jelas dan spesifik untuk membedakan kedua jenis sakit kepala itu. Walau sudah banyak penelitian yang dilakukan di seluruh dunia, masih belum ada cara yang jelas dan tepat untuk membedakan keduanya. Selain itu variasi bentuk, intensitas, karakteristik sakit kepala juga sangat banyak yang sulit untuk diperinci satu per satu. Pasien dengan sakit kepala akibat kelainan tumor otak yang sama mungkin mengeluhkan sakit kepalanya berbeda. Intensitas nyeri kepala seseorang dengan orang lain juga berbeda-beda. Pengaruh obat-obatan juga tidak sama dimana pada seorang pasien dengan obat tertentu mungkin sakit kepalanya akan mereda namun pada pasien lain tidak. Kesemuanya ini menjadi tantangan bagi dunia medis untuk menjadikan sakit kepala sebagai panduan dalam menentukan diagnosa pasien. Penelitian lebih lanjut masih diperlukan.

Sebagai pesan dari saya bahwa bila anda mempunyai sakit kepala dengan intensitas yang berat, atau sakit kepala dengan gejala yang berbeda dari biasanya atau sakit kepala yang tidak hilang dengan obat-obatan serta sakit kepala yang disertai dengan keluhan-keluhan lain, segeralah mencari pertolongan medis hingga benar-benar dipastikan sakit kepala anda karena apa. Alangkah lebih baik lahgi bila sejak awal anda merasakan sakit kepala, sudah dilakukan pemeriksaan yang baik dan cukup agar tidak terlewat kemungkinan penyakit yang serius.

Jadi silahkan kita coba jawab, sakit kepala…hal yang biasa atau peringatan suatu penyakit serius di dalam tubuh kita…..??

 

 

Tidak menstruasi dan sulit punya anak…tumor hipofise mungkin merupakan penyebabnya.

Dalam 5 tahun terakhir, saya melihat peningkatan jumlah pasien dengan tumor hipofise (tumor yang berasal dari kelenjar hipofise di otak). Pasien-pasiennya umumnya adalah para wanita dalam usia produktif. Keluhannya rata-rata adalah kesulitan untuk punya anak dan tidak menstruasi atau gangguan menstruasi. Pada beberapa pasien yang sudah cukup lama mengalami penyakit ini juga disertai dengan keluhan gangguan penglihatan atau gangguan akibat tidak seimbangnya hormon.

Yang menarik adalah bahwa pasien-pasien ini datang mencari pertolongan ke bedah saraf setelah “health shopping” atau mencari pertolongan kemana-mana, dan membutuhkan waktu yang lama untuk akhirnya mengetahui adanya penyakit ini. Wanita-wanita produktif dengan gangguan menstruasi atau sulit punya anak biasanya akan pergi ke dokter kandungan. Disana mereka akan diberikan terapi tambahan hormon untuk merangsang hormon kelamin internal nya sendiri. Namun hal ini sering sekali tidak menyelesaikan masalah. Yang timbul hanyalah komplikasi dari pemberian terapi hormonal tambahan.

Pada kasus yang lebih kronis, pasien-pasien itu kemudian akan mengeluh adanya gangguan penglihatan, mulai dengan keluhan suka membentur sisi kiri dan kanan saat berjalan hingga penglihatan kabur dan bahkan kebutaan. Untuk masalah penglihatan ini, biasanya mereka akan mencari pertolongan ke dokter mata dan hanya akan diberikan obat-obatan saja. Sebagian dokter mata yang memiliki pengetahuan lebih akan melakukan pemeriksaan CT Scan kepala dan ditemukanlah tumor hipofise ini. Barulah pasien kemudian dikirim ke dokter spesialis bedah saraf.

Tumor hipofise umumnya jinak. Namun efek klinis yang ditimbulkannya bisa berat. Sulit punya anak hingga kebutaan merupakan ancaman serius yang harus dicegah. Tindakan operasi secara “minimal invasif” dapat membantu mengatasi penyakit ini. Jadi, bila anda merasa ada gangguan menstruasi dan sulit punya anak, coba pikirkan kemungkinan adanya tumor hipofise ini.

Nyeri pinggang jangan disepelekan, cari informasi dan bertanyalah sebanyak-sebanyaknya…

Sekitar sebulan yang lalu, saya melihat seorang pasien yang sedang dirawat di sebuah rumah sakit swasta di jakarta. Kebetulan pasien ini dikonsulkan ke bedah saraf, dan dikatakan bahwa pasien ini berasal dari luar kota, tepatnya dari salah satu propinsi di pulau sumatera. Adalah seorang wanita muda, berusia sekitar 30 tahunan yang terbaring di tempat tidur dan kelihatan kaku. Bila dilihat dengan jelas, wanita muda ini memiliki paras dan tubuh yang sebenarnya sehat, namun hanya bisa terbaring dan tidak banyak bergerak.

Saya kemudian memperkenalkan diri, “Selamat pagi bu, nama saya dokter Andra, saya adalah dokter spesialis bedah saraf. Ada apa ini ibu sampai dirawat di rumah sakit?’ Saya juga memegang tangannya dan berusaha menunjukkan rasa empati. Spontan wanita muda itu bercerita panjang dengan wajah sedih dan menunjukkan rasa tersiksa yang berkepanjangan. “Saya sudah tidak bisa jalan dok. Sudah 2 minggu saya benar-benar tidak bisa berjalan”, kata wanita tersebut. Saya kemudian coba menenangkannya. “Bagaimana awalnya bu?”, saya tanya lagi. Kemudian wanita itu menjawab, “Awalnya sekitar 2 tahun yang lalu dok, saya merasakan nyeri pada pinggang saya yang semakin lama semakin sakit. Kalau saya berjalan atau bekerja, maka sakitnya akan bertambah. Saya berobat ke dokter di tempat asal saya dan kemudian saya disarankan bertemu dengan seorang dokter lain di jakarta. Dokter di jakarta tersebut kemudian hanya memberikan obat-obatan anti nyeri. Awalnya sedikit enak tapi kemudian nyeri kembali dan semakin memberat. Saya kemudian mulai disuntik anti nyeri di daerah pinggang. Berulang kali saya disuntik bahkan sudah sampai puluhan kali, tapi tidak ada perbaikan. Biayanya juga tidak kecil. Saya sempat bertanya kenapa tidak ada perbaikan tapi dokter tersebut hanya mengatakan kalau saya terlalu manja dan lemah terhadap nyeri. Saya sedih sekali karena dokter saya mengatakan saya mengada-ada dengan nyeri saya. Saya kemudian hanya bersabar dan menahan nyeri, hingga 2 bulan lalu kedua kaki saya mulai kesemutan dan baal. Saya masih menahan diri. Tapi sejak 2 minggu lalu saya tidak bisa berjalan sehingga saya kembali ke jakarta dan atas saran keluarga kemudian menemui dokter spesialis bedah saraf”, begitu cerita wanita muda itu.

Saya kemudian memeriksa wanita muda itu, dan terlihat memang kedua tungkai bawahnya sudah lemah. Saya kemudian melihat pemeriksaan pencitraan dan saya sangat terkejut melihat kelainan di tulang belakang bagian bawahnya. Terlihat penjepitan saraf oleh bantalan tulang yang begitu berat yang disebut dengan penyakit “HNP”. Dengan berat hati saya mengatakan bahwa beliau mempunyai penyakit yang seharusnya dioperasi sejak dulu. Saat ini kerusakan sarafnya sudah berat dan saya tidak bisa menjanjikan suatu kesembuhan bila dioperasi. Namun wanita muda itu memaksa dan meyakinkan saya bahwa dia ingin segala usaha dilakukan walau hasilnya tidak ada, karena dia sudah lelah diobati dan disuntik selama ini.

Atas persetujuannya, wanita tersebut kemudian dioperasi. Operasi berjalan lancar. Pasca operasi, perbaikan mulai terlihat, kekuatan kaki mulai bertambah walau tidak sepenuhnya normal. Wanita muda itu sangat senang dan tidak ada yang lebih membahagiakan bagi saya saat seorang pasien begitu senang dengan apa yang kita kerjakan.

Hati-hati pada penyakit nyeri pinggang. Bila tidak ditatalaksana dengan benar, kelumpuhan akan menjadi ancaman serius. Selain itu, operasi mungkin merupakan jalan yang terbaik untuk mencapai kualitas kehidupan seoptimal mungkin. Sebagai orang yang menderita nyeri di pinggang, carilah pertolongan segera. Jangan pasrah hanya pada satu dokter dan kemudian membiarkan diri semakin sakit. Cari informasi dan bertanyalah sebanyak-banyaknya.

Sebagai dokter, hargailah rasa nyeri yang dikeluhkan pasien. Bila kita tidak mampu memberikan pertolongan atau memberi kabaikan pada pasien, segeralah rujuk kepada dokter lain yang mampu atau lebih mampu. Hormati dan anggap pasien-pasien kita itu sebagai keluarga kita sendiri.

Minimal invasive in Neurosurgery…..Operasi dengan trauma sekecil mungkin…

Ilmu bedah saraf telah berkembang dengan pesatnya dalam 1 dekade terakhir dikarenakan semakin banyak penyakit-penyakit saraf yang harus diterapi dengan operasi diikuti dengan kemajuan pengetahuan dan teknologi alat-alat kedokteran.

Tidak dipungkiri bahwa operasi bedah saraf merupakan operasi dengan tingkat kesulitan tertinggi dimana organ yang dihadapi adalah sistem saraf, otak dan tulang belakang, yang memiliki resiko besar untuk rusak. Kerusakan saraf umumnya bersifat irreversibel sehingga merupakan keharusan bagi seorang bedah saraf untuk mencegah pengrusakan jaringan saraf sehat pada saat operasi sebaik mungkin.

Oleh karena itu, mulailah dikembangkan pengetahuan dan teknik operasi dengan trauma sekecil mungkin atau disebut dengan “minimal invasive neurosurgery”. Seorang ahli bedah saraf memang telah menjalani pendidikan dan pelatihan teknik operasi bedah saraf yang sebaik mungkin dengan resiko kerusakan sedikit mungkin. Selain itu, kemajuan teknologi juga mendukung teknik minimal invasive surgery ini.

Alat-alat seperti mikroskop bedah saraf, endoskopi, CUSA (alat penghisap tumor) dan lain-lain telah ada dan dapat digunakan seorang ahli bedah saraf untuk memberikan terapi yang bersifat “minimal invasive”. Dengan alat-alat ini, seorang ahli bedah saraf mampu memiliki visual yang luas dengan bukaan operasi yang kecil.

Saat ini ahli bedah saraf juga telah mengembangkan “endovascular neurosurgery” atau neurointervensi dimana hanya dengan menggunakan kateter kecil dan alat-alat canggih kecil lainnya dapat mengatasi penyakit-penyakit seperti stroke, kelainan vaskuler dan banyak lagi. Kemajuan ini tidak akan berhenti disini. Bedah saraf masih akan berkembang lebih luas lagi.

Anak anda sering jatuh saat berjalan atau berlari……hati-hati ada penyakit saraf yang tak terduga…

Beberapa tahun terakhir, saya sering menerima pasien-pasien anak kecil yang dibawa orangtuanya dengan keluhan sering jatuh saat berjalan atau berlari. Bahkan anak-anak tersebut sering tidak tahan lama untuk berdiri. Para orangtua kemudian sering menyalahkan anaknya karena keteledorannya dan tidak hati-hati. Bahkan anak yang bisa berdiri tapi kemudian tidak tahan lama kemudian dianggap hanya malas atau sedikit telat aktifitas badannya. Alasan-alasan ini sering membuat para orangtua tidak segera membawa anaknya ke dokter anak untuk memeriksakan apa sebenarnya yang terjadi. Penundaan ini yang selanjutnya menjadi malapetaka.

Anak-anak dengan gangguan-gangguan di atas kemudian akan merasa sedih dan mungkin minder karena dikatakan teledor dan lain-lain. Padahal mereka mungkin membutuhkan bantuan yang lebih.
Beberapa anak-anak tersebut setelah bertahun-tahun kemudian mulai mengeluh sulit untuk menahan kencing atau sering disebut mengompol. Keanehan ini dimana anak-anak yang sudah berusia di atas 6 tahun tapi masih mengompol barulah menjadi alasan orangtua khawatir dan kemudian membawa ke dokter. Tapi apakah sudah telat…..?? Apa sebenarnya yang terjadi…..??

Sebagian besar pasien-pasien anak itu saya terima dari kiriman para sejawat dokter-dokter spesialis anak khususnya spesialis saraf anak. Dari cerita orangtua, pemeriksaan fisik yang saya lakukan dan pemeriksaan penunjang lainnya, sungguh miris mengetahui penyakit apa yang sebenarnya diderita sang anak.

Anak-anak tersebut mengalami penyakit saraf yang disebut dengan “myelomeningocele” atau kadang sering disebut dengan “spina bifida”. Keduanya sebenarnya tidak sama. “Myelomeningocele” adalah suatu keadaan dimana terdapat bagian saraf tulang belakang yang keluar dari rongga tulang belakang sehingga terjepit dengan jaringan sekitarnya. Sedangkan “spina bifida” adalah keadaan dimana terdapat bagian tulang belakang yang terbuka karena gagal penyatuan saat tumbuh kembang mulai dari dalam janin. Hal ini yang memudahkan saraf tulang belakang untuk keluar dan terjepi jaringan sekitarnya. Saraf-saraf yang terjepi ituah yang mengakibatkan timbulnya kelumpuhan-kelumpuhan pada kaki anak dan lain-lain. Kelumpuhan ini akan bersifat progresif bila tidak segera diterapi.

Saat anak mulai suka jatuh, sebenarnya jepitan saraf itu telah berlangsung lama, apalagi saat keluhan mengompol muncul. Saraf yang begitu lama terjepi akan sulit untuk kembali normal lagi. Kelumpuhan kaki dan kandung kencing kemungkinan akan sulit diperbaiki. Ini tentu saja berbeda bila sang anak dibawa sedini mungkin ke dokter bedah saraf. Tindakan operatif yang baik untuk melepaskan jepitan serta menutup defek yang ada saat dini akan memberikan hasil yang baik bagi fungsi saraf si anak.

Jadi bila anak anda sering jatuh, coba tahan diri sesaat untuk memarahinya atau menegurnya tapi pikirkan kemungkinan kalau penyakit saraf sudah dideritanya. Segeralah bawa ke dokter, selamatkan masa depan anak anda.

Indahnya otak kita…….

Otak…..dikatakan sebagai salah satu organ vital di tubuh kita yang memegang peranan penting dalam pengaturan seluruh sistem dan fungsi tubuh manusia. Tapi apakah itu saja mengenai otak? Apa keistimewaan otak dibandingkan organ lain….?

Sebelum menekuni pendidikan kedokteran, saya tidak mengetahui sama sekali tentang otak. Setelah mengenyam pendidikan bedah saraf, saya masih tidak mengerti sepenuhnya tentang otak manusia. Otak terdiri dari sel-sel saraf dan sel-sel penunjang saraf. Semuanya dihubungkan dengan serabut-serabut asosiasi sehingga dapat menimbulkan suatu mekanisme kerja yang serasi dan berkelanjutan.

Bagaimana kita dapat mencium hal yang berbau harum dapat membuat kita senang, bagaimana kita dapat mendengar suara musik yang hebat dapat memberi kita semangat, bagaimana seorang artis dapat bermain piano begitu hebatnya, bagaimana seorang atlit dapat mengkoordinasikan tubuhnya dengan baik dan lain-lain adalah karena kinerja otak yang begitu hebat.

Tapi tahukah kita bahwa semua fungsi tubuh yang kita lakukan setiap hari itu hanya diatur oleh sebagian kecil sel-sel otak? Tahukan bahwa walau otak kita dibuang setengah, kita masih bisa bekerja dan hidup seperti orang normal? Tahukah bayi yang lahir dengan penyakit “hidrosefalus” (penyakit dimana isi kepala sebagian besar adalah cairan otak dan sel-sel otak gagal tumbuh) tapi bila ditangani segera dapat tumbuh menjadi anak normal, menjadi mahasiswa dan pianis hebat?

Jadi sebenarnya apa fungsi-fungsi otak yang lain? Bagian mana dari otak yang mengatur fungsi-fungsi tersebut? Sejauh mana kerusakan otak yang membuat semua fungsi hilang? Semuanya masih menjadi rahasia dan misteri otak kita yang amat indah itu……

PERJALANAN SEORANG DOKTER BEDAH SARAF